Penyelam Cheju – Wanita Memerintah Lelaki

Seperti yang kita ketahui di dalam agama kita, Islam, suami berfungsi sebagai kepala keluarga. Suami wajib menafkahi istri dan anak-anaknya. Adalah sesuatu yang melawan hukum Islam, apabila suami hanya duduk di rumah, tapi istrilah yang bekerja. Inilah yang disebut dengan suami yang lemah, tidak mampu menjadi pemimpin di dalam keluarga. Mungkinkah kasus ini bisa terjadi?

Mungkin saja.

Kalau tidak percaya ada sebuah cerita menarik dari Cheju, Korea Selatan. Kaum perempuan si sana mempunyai aktifitas menarik untuk mencari nafkah, yaitu menyelam di laut. Menyelam di laut? Apa tidak salah tuh? Betul. Mereka menyelam ke laut (haenyo) untuk mengumpulkan biota laut yang memiliki nilai jual yang tinggi seperti landak laut, timun laut, ubur-ubur special, gurita dan abalone (tiram/kerang laut).

Dengan hanya berbekal pakaian selam dari karet hitam, kacamata selam, keranjang di bahu dan sekop mini di pergelangan tangan, mereka menyelam secara berkelompok yang terdiri dari 3-4 orang. Mereka harus menahan napas rata-rata selama 2 menit untuk menembus kedalaman 12 hingga 20 meter.

Dalam setahun saja mereka mampu meraup keuntungan sehingga Rp 277,5 juta. Padahal mereka hanya menyelam 10 hari saja dalam sebulan. Tidak heran dengan profesi ini mereka mampu memperbaiki rumah, menyekolahkan anak-anak hingga ke perguruan tinggi, bahkan membangun restoran dan villa di pinggir pantai daerah Cheju.

Tradisi ini sebenarnya dilakukan oleh kaum laki-laki hingga abad ke-19 sebagai nelayan. Akan tetapi pemerintah Korea pada saat itu mengambil pajak yang terlalu tinggi. Lantaran terlalu tinggi itulah penghasilan pria-pria itu menjadi sangat minim dan tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Akhirnya para ibu ikut terjun mencari penghasilan dari laut denga cara menyelam.

Karena mereka mampu menghasilkan penghasilkan yang lebih besar dari suami-suami mereka, mereka menggantikan posisi ayah dari anak-anak mereka dalam mencari nafkah. Umumnya kaum pria lah yang mengurus anak-anak, berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari, dll. Tak heran apabila istri cukup memegang kendali dalam rumah tangga. Apabila para suami mereka berkhianat dan berselingkuh tanpa berpikir dua kali perempuan ini akan mengusirnya dari rumah. Lelaki sudah tidak dianggap penting lagi. Jadi tidak heran kalau kelahiran anak lelaki tidak begitu dirayakan. Namun jika yang lahir anak perempuan, maka akan diadakan acara secara besar-besaran. Sebab mereka tahu anak perempuan akan meneruskan tradisi menyelam dan menghasilkan uang untuk keluarga.

Kaum perempuan ini dengan bangga berkata,

Gaji para lelaki hanya cukup nuntuk membeli kebutuhan diri mereka sendiri saja. Sedangkan hasil kami dapat digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak dan keperluan lain.

Bagaimana di Indonesia?

Kasus seperti itu banyak terjadi di desa-desa yang kebanyakan kaum hawa bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Akibat susahnya mendapat kerja dan keenakan dengan uang yang dikirim oleh istrinya dari luar negeri, kaum suami menjadi malas yang melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak menghasilkan uang dikampungnya seperti pergi memancing sepanjang hari ataupun menghabiskan uang istri untuk membeli rokok saja. Namun beda dengan kondisi di Cheju dimana kaum perempuan di sana yang malah memrintah suaminya, di desa-desa di Indonesia yang banyak TKI nya, walaupun kaum suami tidak bekerja, mereka masih tetap jadi pemimpin dengan cara meminta penghasilan istrinya baik langsung atau secara tidak langsung. Apakah ini bagus? Tidak! Ini juga sama dengan lelalki yang lemah.

Diringkas dan ditambah sendiri dari: Majalah Kartini 29 Mei 2008

Comments

comments

Share Button
(Visited 134 times, 1 visits today)