Umar ra Menguburkan Anak Perempuannya Hidup-Hidup?

Sudah terlalu sering kita mendengar kisah-kisah yang tidak benar dalam agama Islam. Dalam kebanyakan kasus, kita menerima mentah-mentah cerita tersebut tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Salah satunya adalah kisah Umar ra menguburkan anak perempuannya hidup-hidup sebelum masuk Islam.  Tentu kita sudah pernah mendengar cerita di bawah ini.

… Umar memejamkan mata. Anak itu ditendangnya masuk ke dalam lubang yang digalinya. la menangis. Umar tidak menghiraukannya. Umar menutupkan mata dan terfikir, “Oh! Anakku yang manis dan pintar. Mengapa kau dilahirkan sebagai perempuan?” la menangis. Tangannya gementar, tubuhnya menggigil. “Umar, jangan jadi pengecut,” tiba-tiba suara itu terdengar berulang kali di telinganya. Lalu sambil menahan kesedihannya, Umar meneruskan lagi menimbun pasir ke lubang tadi, sehinggalah anaknya itu menghembuskan nafasnya yang terakhir …

Kisah-kisah seperti itu bahkan disebarkan oleh media-media massa seperti cuplikan artikel di bawah ini.

Dikisahkan pernah suatu ketika Rasulullah SAW mendapati Umar bin Khatab sedang menangis kemudian tertawa hampir bersamaan. Ketika ditanya apa gerangan yang menyebabkannya demikian. Umar bin Khatab menjelaskan bahwa ia teringat keadaan dirinya di masa jahiliyah dulu. Kenapa ia menangis, ia teringat ketika masa jahiliyah ia mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Terbayang olehnya seandainya saja anak perempuannya masih hidup. Ia akan bisa bersama mereka. Dan akan mendapatkan cucu yang banyak dari mereka. Setelah Umar bin Khatab memeluk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah SAW. Ia menyadari akan kebodohan tersebut. Ia menyesalinya ketika dengan bodohnya ia mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Karena itu ia menangis tatkala mengingat peristiwa tersebut.”(Belajar dari “Kebodohan” Umar bin Khatab)

Benarkah cerita tersebut?

Menurut sejarah kaum Arab, tidak ada satu sumber sejarahpun yang bisa dipertanggungjawabkan bagi membuktikan bahwa adat mengubur anak perempuan hidup-hidup ini dilakukan oleh qabilah Quraisy. Adat ini hanya dilakukan oleh sebagian kabilah Arab jahiliyah saja yaitu Bani Tamim dan Asad karena kemiskinan mereka.

Di antara yang menentang penguburan anak perempuan hidup-hidup adalah Sa’sa’ah bin Najiah dan Zaid bin Amar bin Naufail. Dalam Sahih Bukhari disebutkan bahwa Zaid bin Amar bin Nufail tidak terpengaruh dengan masyarakatnya yang menyekutukan Allah. Malah Zaid menjalankan sisa-sisa ajaran nabi Ibrahim as. Beliau pernah berkata, “Jika kamu suka anak perempuan kamu, bolehlah kamu mengambilnya, atau kalau kamu tidak mahu, biarkan anak-anak perempuan ini bersama saya.” Dan Zaid bin Amar ini adalah sepupu Umar ra. Ini membuktikan bahwa budaya menanam anak perempuan bukanlah budaya kaum keluarga Umar ra.

Sudah menjadi kebiasaan kaum Arab menggunakan gelar anak anak sulungnya. Saidina Umar pun menggunakan gelar Abu Hafsin yang merujuk kepada anak perempuan sulungnya yaitu Saiyyidatina Hafsah. Sebelum memeluk Islam, Umar hanya memiliki 3 orang anak saja yang berasala dari istri pertamanya yaitu: Hafsah, Abdullah dan Abdul Rahman al-Akbar. Jadi anak perempuan manakah yang telah dibunuh oleh Umar? Tambahan lagi, kalau beliau betul-betul benci dengan anak perempaun, kenapa beliau memakai gelar Abu Hafsin?

Sebenarnya tidak ada bukti jelas yang mengatakan Umar telah membunuh anak perempuannya dari sumber yang dipercayai dalam arti kata terdapat sanad-sanad atau sandaran-sandaran yang terdiri dari perawi-perawi yang bisa dipercaya. Dalam Sahih Bukhari, Muslim, dan kitab-kitab hadis yang terkenal, tidak disebutkan kisah ini. Dalam kitab Sunan al-Darimi, ada kisah seorang laki-laki yang mengaku telah membunuh anak perempuannya kepada Rasulullah saw. Namun ia bukanlah Saidina Umar dan hadis itu sendiri adalah hadis yang munqati’ (yang terputus kebanyak sanadnya). Sehingga hadis ini tidak bisa diterima sebagai sahih.

Diringkas dari:

Benarkah Sayyidina Umar Pernah Membunuh Anak Perempuannya?

Mengenai Sirah Dan Sejarah Islam

 

Comments

comments

Share Button
(Visited 2,742 times, 1 visits today)