Trik-Trik Habib Riziek Syihab Dalam Membela Syiah

download

Dalam hal syi’ah, Habib Riziek Syihab pernah membagi syi’ah ke dalam tiga kategori yaitu Ghulat, Rafidhoh, dan Mu’tadilah. Syi’ah Ghulat tergolong kafir dan wajib diperangi, karena menjadikan Ali bin Abi Thalib RA sebagai nabi, bahkan Tuhan, serta meyakini bahwa Al-Qur’an sudah dirubah-ditambah-dikurangi (Tahrif). Sedangkan syi’ah Rafidhoh tergolong sesat, karena cenderung melakukan penghinaan, penistaan, pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA.

Golongan ketiga, syi’ah mu’tadilah tidak sesat dan tidak kafir karena hanya mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra di atas para Shahabat Nabi lainnya (Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Utsman bin Affan ra), dan lebih mengedepankan hadits riwayat ahlul bait daripada perawi hadits lainnya. Jadi, menurut Riziek Syihab yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. [1]

Syi’ah Mu’tadilah inilah yang oleh Habib Riziek Syihab dimaksudkan sebagai madzhab Ja’fari. Padahal, sejatinya madzhab Ja’fari inilah yang merupakan sekte syi’ah paling dominan di Iran, terbentang luas hingga Sampang dan seluruh penjuru dunia lainnya. Penganut madzhab Ja’fari inilah yang membunuhi umat Islam di Iran, Suriah, dan juga memicu bentrok Sampang. (lihat tulisan berjudul Habib RS Cenderung Syi’ah? [2])

Bagaimanapun, Syiah Ja’fariyah sama sekali tidak dapat dibilang sebagai Mu’tadilah. Justru Syi’ah Rafidhah yang memang sesat itulah Syi’ah Ja’fariyah. Karena Syiah Rafidhah mempunyai beberapa nama yang lain yaitu:

  1. Syiah Itsna ‘Asyariah (Syiah 12), nisbat kepada keyakinan mereka akan adanya 12 imam.
  2. Syiah Al-Ja’fariah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shadiq.
  3. Syiah Al-Imamiah, karena mereka meyakini Ali dan keturunannya adalah para imam, dan mereka masih menunggu seorang yang akan keluar di akhir zaman.

Syaikh Al-Islam berkata dalam Minhaj As-Sunnah (1/22), “Karenanya ada kemiripan antara mereka dengan Yahudi dalam hal keburukan, pengikutan terhadap hawa nafsu, dan selainnya dari akhlak-akhlak Yahudi. Dan ada kemiripan antara mereka dengan Nashrani dalam hal pengkultusan yang berlebihan, kejahilan, dan selainnya dari akhlak-akhlak Nashrani. Betapa miripnya mereka dengan mereka (Yahudi) dari satu sisi dan dengan mereka (Nashrani) dari sisi yang lain. Dan kaum muslimin senantiasa menyifati mereka dengan sifat ini.” [Diringkas dari Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 29-41] [3]

Nah, dalam rangka membela-bela Syi’ah agar bisa diterima di Indonesia, Habib Riziek Syihab tidak saja mensosialisasikan paham sesat Syi’ah menjadi tiga bagian yang konon salah satunya layak diterima sebagai madzhab dalam Islam (madzhab Ja’fari alias syi’ah mu’tadilah menurut dia), ia juga berusaha meyakinkan umat Islam bahwa yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. [4]

Padahal, syi’ah yang difatwa sesat oleh MUI Sampang ajarannya sama dengan syi’ah yang ada di tempat lain di Indonesia, sama dengan paham sesat syi’ah yang berlaku di Iran, Suriah, dan seluruh penjuru dunia. Jadi, upaya Habib Riziek Syihab membela-bela Syi’ah dengan cara-cara tadi, menunjukkan bahwa ia benar-benar konsisten membela paham sesat Syi’ah laknatullah yang merupakan induk kesesatan. Layakkah sosok yang getol memberangus Ahmadiyah, Lady Gaga, Irshad Manji, Majalah Playboy dan sebagainya itu tetapi konsisten membela Syi’ah laknatullah ini disebut pembela Islam?

Sikap Riziek Syihab itu senada dengan sikap pembela Syi’ah lainnya, yang mengatakan bahwa yang dikatakan sesat itu cuma Syi’ah Sampang. Seolah-olah ada Syi’ah-Syi’ah lain yang tidak sesat. Ini jelas upaya pengelabuan khas pembela syi’ah. Selain gemar melakukan pengelabuan (talbis), para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini gemar mengumbar tuduhan klise, bahwa pihak yang anti syi’ah dan bid’ah adalah orang-orang yang suka memecah belah umat Islam.

Di titik ini, gaya dan sikap para pembela Syi’ah dan praktisi bid’ah ini sama saja dengan gaya dan sikap para pembela liberal. Pembela liberal selain menuding umat Islam yang sedang membela agamanya dengan julukan radikal, juga kerap meledeknya sebagai sumber perpecahan. Apakah adanya kesamaan ini menunjukkan bahwa keduanya mempunyai guru yang sama? Wallahu a’lam…

Habib Riziek Syihab pada sebuah kesempatan on air di Radio Silaturahim (Rasil) corong Syi’ah di Cibubur Jakarta, tepatnya pada 20 Mei 2012 sore, menyangkal dirinya Syi’ah. Selain menyangkal, Riziek juga mengakui pernah bersekolah di SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi murtadin.

Menurut catatan, Habib Riziek pernah menimba ilmu selama tujuh tahun di Saudi Arabia yang dijuluki berpaham Wahabi oleh para pembela Syi’ah dan praktisi bid’ah, namun hal itu tidak membuatnya menjadi Wahabi, justru konsisten dengan praktik bid’ahnya seperti maulidan, tahlilan upacara memperingati orang mati, dan sebagainya.

Namun, meski hanya sempat tujuh hari diundang ke Iran oleh Ayatullah Taskhiri [Taqrib bainal Mazahib] pada Mei 2006, Habib Riziek Syihab begitu kental pembelaannya terhadap Syi’ah, seraya membungkus dirinya dengan atribut pembela Islam.

Meski dengan trik-triknya yang sebegitu, namun  tetap terdeteksi betapa kentalnya pembelaan Habib Riziek Syihab terhadap syi’ah. Sebagaimana bisa dibuktikan bahwa hingga kini ia hanya berani mengecam Ahmadiyah dan berbagai aliran sesat lainnya tetapi minus aliran sesat syi’ah. [5]

Sekarang, ketika ada yang berkata, kalau sampai ada yang berpidato mencaci maki sahabat Nabi, bahkan mencaci isteri-isteri Nabi maka saya instruksikan agar kelompok saya membakar mimbarnya; lalu ada 1500-an orang syiah mengadakan perayaan caci maki sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam disebut Idul Ghadir dilangsungkan di Jakarta Sabtu 26/10 2013, ternyata tidak ada instruksi untuk membakar mimbarnya. Padahal sebelumnya sudah MUI lakukan pengiriman surat ke polisi agar tidak diberi izin, karena memberi izinnya sama dengan membolehkan penistaan kepada sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika ada yang mempertanyakan, kenapa tidak dikerahkan untuk membakar mimbarnya (padahal sebelumnya telah berkata mau membakarnya), lalu dijawab dengan enteng: Ketika kami  menghadapi aliran sesat Ahmadiyah, kalian diam saja dan tidak ikut; apa berarti kalian orang Ahmadiyah?

Walaupun jawaban itu terkesan tidak nyambung, namun orang pun tahu, apa maknanya, dan siapa yang dibela.

Sumberhttp://www.nahimunkar.com/tantangan-mubahalah-habib-rizieq-syihab/

[1] (http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-Syihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D/)

[2] http://nahimunkar.com/11901/habib-rs-cenderung-syiah/)

[3] http://al-atsariyyah.com/mengenal-syiah-rafidhah-dan-pencetusnya.html

[4] http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-Syihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D

[5] http://www.nahimunkar.com/inikah-trik-trik-habib-rs-dalam-membela-aliran-sesat-syiah/

 

Comments

comments

Share Button
(Visited 399 times, 1 visits today)