Betapa Tidak Enaknya Menjadi Minoritas

bukit_jambul

Tak terasa sudah 4 tahun lebih aku bekerja di salah satu perusahaan Amerika yang membuat prosesor yang terkenal di Penang, Malaysia. Ketika hendak pindah ke Penang, salah seorang kawanku pernah memperingatkanku kalau di Penang mayoritas orang Cina. Aku menjawab dengan santai, aku sudah biasa menghadapi mahasiswa-mahasiswa Cina, jadi tidak ada masalah untuk tinggal di sana. Maklumlah 50% mahasiswa di tempatku mengajar dulunya adalah Cina.

Ketika aku pindah ke Penang, aku sungguh terkejut mendapati hampir 90% yang bekerja di perusahaan itu adalah Cina, sisanya adalah Melayu dan India. Melayu yang mayoritas di Malaysia menjadi minoritas di perusahaan Amerika tersebut.

Mungkin bagi yang tinggal di Indonesia akan berkomentar, apa masalahnya dengan pekerja Cina tersebut? Betul tidak ada masalah kalau anda bekerja di Indonesia, karena orang Cina di Indonesia sangat fasih berbahasa Indonesia.

Lain halnya dengan orang Cina di Malaysia. Bahasa Melayu mereka parah sekali. Pernah mendengar Cina Medan berbicara bahasa Indonesia? Kalau pernah, maka anda dapat membayangkan bagaimana sakitnya telinga ini ketika mendengar mereka bicara bahasa Melayu. Dalam hati aku sering bersumpah-serapah, kamu orang Cina tinggal di negara yang mayoritas Melayu, tapi kamu tidak mau berbicara bahasa Melayu. Apa ini tidak disebut kurang ajar?

Setahun pertama berlalu tanpa masalah di perusahaan tersebut. Kami orang-orang Melayu sangat jarang bergabung dengan orang-orang Cina ketika makan siang di kantin. Alasan utama jelas, mereka maunya berbahasa Cina sesama mereka. Kalau mereka berbicara bahasa Mandarin saja, masih lumayan. Banyak kursus-kursus bahasa Mandarin di Penang. Tapi mereka berbicara bahasa daerahnya sendiri. Ada yang menggunakan bahasa Hokien, Kantonis, dsb. Bayangkan kalau anda bekerja di sebuah perusahaan swasta di Indonesia, dimana anda adalah termasuk dalam 10% pekerja yang menggunakan bahasa Indonesia. Pekerja selebihnya menggunakan bahasa Jawa, Padang, Madura atau Batak.

Bukan kita tidak pernah mencoba bergabung dengan mereka ketika pertama kali bekerja di perusahaan ini. Tapi mereka hanya sebentar saja menggunakan bahasa Inggris. Beberapa menit kemudian, mereka menggunakan bahasa Cina lagi. Kalau kita mau aktif gabung sama mereka, kita harus aktif bertanya dalam bahasa Inggris, supaya mereka menjawab dalam bahasa Inggris juga. Kan penat juga kalau setiap hari kita yang harus memulai inisiatif untuk berbicara.

Tahun demi tahun, percakapan mereka dalam bahasa Cina sudah menjadi gangguan dalam kehidupan kerjaku. Ketika aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, maka suara-suara itu menjadi sangat mengganggu konsentrasi kerja, seperti mendengar derungan suara sepeda motor yang kasar, atau suara peralatan berat yang sedang menancapkan pondasi besi ke dalam tanah.

Ketika di lift, aku mendengar suara-suara asing tersebut. Ketika sedang duduk bekerja, aku mendengar diskusi mereka dalam bahasa Cina. Di kantin, yang kedengaran adalah degungan bahasa asing. Hingga ke toilet pun yang terdengar percakapan bahasa Cina juga. Oh…sungguh memenatkan pikiran. Tidak heran ketika aku pulang ke Jakarta baru-baru ini, ketika mendengar orang Cina berbicara bahasa Indonesia dengan lancar, perasaanku menjadi sangat lega. Ingin rasanya aku memuji orang Cina itu karena mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Mungkin anda berpikir, saya yang terlalu sensitif. Tapi ternyata perasaan ini dikongsi oleh ekspatriat yang bekerja di situ juga. Keluhan ini sudah kami ajukan kepada pihak management, tapi tidak ada hasil yang berarti, karena pihak manajemen kebanyakan orang Cina.

Hidup empat tahun sebagai minoritas, membuat aku menjadi sangat sensitif dalam masalah bahasa. Aku selalu berusaha menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang ditempat itu. Kasihan mereka kalau kita menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh mereka. Lama kelamaan mereka akan menjadi terasing. Maukah kita hal tersebut terjadi?

Comments

comments

Share Button
(Visited 350 times, 1 visits today)