Tawassul

kitab_hadistTawassul adalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) dengan mengerjakan perkara-perkara yang disukai Allah agar do’a kita cepat dikabulkan. Tawassul termasuk dalam kategori ibadah, jadi tidak boleh dibuat-buat. Di sinilah masalah banyak terjadi, karena kebanyakan orang tidak memiliki ilmu mengenai tawassul. Akibatnya sering terjadi pertentangan antara umat Islam mengenai salah satu jenis tawassul yang akan kita bahas tidak lama lagi.

Tawassul Yang Disepakati Kebolehannya

1. Bertawassul kepada Allah melalui nama dan sifat-sifatnya.

Contohnya menyebut nama-nama Allah di awal do’anya yang relevan dengan isi permintaannya kepada Allah seperti mengucapkan “Ya Rahman” ketika memohon rahmat atau kasih-sayang dari Allah. Contoh lainnya adalah:

Ya Haiyu Ya Qaiyum (seolah-olah menyebut 99 nama Allah), anakku akan ikut ujian minggu depan, kuatkanlah ingatannya ya Allah. Berilah dia kemampuan agar dapat menjawap pertanyaan dengan baik, ya Allah.

2. Bertawassul melalui iman dan tauhid.

Maksudnya seseorang menyebut pengakuannya bahwa dia beriman kepada Allah atau perkara-perkara yang wajib diimani lainnya, pada permulaan do’anya.Contohnya:

Ya Allah, aku telah beriman dengan semua rukun iman yang enam. Aku juga percaya ya Allah akan adanya hari hisab, hari timbang-menimbang untuk meniti sirathal mustaqim, surga dan neraka, sedikitpun aku tidak ragu ya Allah. Aku juga beriman dikiri kananku ada malaikat-malaikat pencatat yang aku harus pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Oleh sebab itu ya Allah, sembuhkanlah penyakit ibuku yang sedang terbaring di rumah sakit.

Contoh lain adalah dengan membaca surat Ali Imran 193-194, sebelum memohon hajat kita.

3. Tawassul melalui amal sholeh.

Seseorang menyebut amal-amal sholeh yang pernah dilakukannya, sebelum dia memohon sesuatu dari Allah, seperti menyebut sholatnya, zakatnya, thilawah Al’Qurannya, menjaga auratnya, dll.

Dalil yang kuat adalah seperti hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim mengenai 3 laki-laki yang terjebak di dalam gua, dan masing-masing menyebut amalan-amalan yang pernah dilakukannya diawal doa agar pintu gua bisa terbuka kembali. Saya ingat seseorang pernah mengirim hadis ini ke mailing list ini.

4. Tawassul melalui do’a orang sholeh

Kita dibolehkan memohon do’a melalui orang lain agar dia mendo’akan untuk kita, dengan syarat orang itu masih hidup, hadir dan boleh mendengar. Contohnya kita meminta ustadz kita yang mau berhaji agar mendo’akan kesembuhan untuk ibu kita ketika di Makkah nanti.

Sebagaimana diketahui, tawasul para sahabat kepada Nabi adalah dengan shalawat, do’a, dan syafaat beliau. Mereka tidak bertawassul dengan diri Nabi.

Tawassul Yang Tidak Dibolehkan Tetapi Menjadi Perselisihan

Tawassul yang tidak dibolehkan tetapi menjadi bahan perselisihan yang sengit di antara para ulama (antara yang membolehkan dan melarang) adalah tawassul dengan diri Nabi, salah seorang nabi, para malaikat, atau orang-orang saleh, baik ketika hidup atau mati. Contohnya seperti berikut ini:

  1. Menyebut dengan niat meminta pertolongan, seperti: “Ya Rasulallah, berilah kesehatan padaku, atau hilangkan kesusahanku”, maka ini adalah satu bentuk SYIRIK, kerana menyeru sesuatu yang tidak berkuasa ke atasnya melainkan Allah Taala.
  2. Menyebut dengan niat tawassul, seperti: “Ya Rasulallah, berilah syafaat kepadaku”, adalah TIDAK BOLEH, kerana tawassul jenis ini hanya dibolehkan semasa hidup baginda sahaja.

Kira-kira apa penyebab persilisihan itu ya? Perselisihan ini disebabkan oleh:

  1. Salah satunya adalaha adanya hadist dari Utsman bib Hanif yang menceritakan kisah orang buta yang bertawassul dengan Nabi yang dapat ditemui dalam hadist. Berdasarkan hadist ini, ada ulama salaf dan khalaf yang membolehkan hanya bertawassul kepada diri Nabi, tapi tidak kepada yang lainnya. Tapi ada juga ulama yang berpendapat boleh bertawassul kepada Nabi dan orang-orang saleh juga. Namun kebanyakan ulama melarang dan memakruhkan hal itu.
  2. Adanya pendapat yang mengatakan bahwa tawassul termasuk dalam permasalahan amal, selama yang dimintai do’a dan yang ditawassulli adalah Allah. Dengan demikian tata cara tawassul masuk ke dalam kategori fikih, bukan aqidah. Yang berpendapat seperti itu salah satunya adalah Hasan Al-Banna dan ahli hadist terkenal Nashiruddin Al-Albani dalam mukadimah “Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah”.

Dr. Yusuf Al-Qharadawi sendiri lebih cenderung untuk tidak bertawassul dengan diri nabi dan orang-orang saleh dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Dalam pertimbangan ilmu, dalil tentang tidak bolehnya tawassul dengan diri Nabi dan orang-orang saleh lebih kuat. Menurut Dr Abdullah al-Faqih, ulama’-ulama’ yang menentang mengatakan bahwa hadith-hadith yang menjadi sandaran tersebut berkisar dari kategori Dha’if (lemah) dan Maudhu’ (palsu), maka pegangan ini tidak sahih.
  2. Tawassul jenis ini terkadang menjadi penyebab berdoa atau meminta tolong kepada selain Allah. Kebanyakan manusia selalu mencampurkan antara dua hal tersebut. Dengan demikian menutup penyebab tersebut kepada orang awam adalah lebih utama, terutama dalam hal tauhid dan syirik.
  3. Jika bisa beribadah kepada Allah dengan hal-hal yang disepakati, kenapa pula menggunakan hal-hal yang diperselisihkan tanpa ada keadaan darurat.

Jadi kalau kita tidak setuju dengan tawassul jenis ini, bagaimana kita seharusnya bersikap kalau melihat orang lain bertawassul?

Pertama – Tidak mencela orang yang melakukan tawassul berdasarkan ijtihad. Karena seperti yang diketahui, tidak ada pengingkaran dalam masalah-masalah khilafiyyah. Walaupun begitu tunjukkan pendapat yang lebih kuat dan utama.  Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab sendiri berkata mengenai tawassul, “Kita tidak mengingkari orang yang melakukannya.”

Kedua – Kalaupun sampai mengingkari tawassul jenis ini, jangan sampai mengkafirkan orang yang melakukannya. Hal inilah yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah – meskipun dia mengingkari tawassul dengan orang, dia tidak sampai mengkafirkan dan menuduh dosa mereka-mereka yang melakukannya.

Comments

comments

Share Button
(Visited 398 times, 1 visits today)