Pengamalan Duduk Tawarruk Yang Tidak Tepat

Seperti kebanyakan Muslim yang berasal dari nusantara seperti Indonesia dan Malaysia, pada saat tasyahhud akhir mereka pasti duduk tawarruk. Duduk tawarruk adalah cara duduk dimana punggung kiri diletakkan di atas lantai, kaki kiri masuk di bawah kaki kanan, lalu tumit kaki kaki kanan ditegakkan dan pada saat yang bersamaan jari-jari kaki kanan dilipat menghadap kiblat.
Kebiasaan ini tidak berubah walaupun mereka tinggal di negara lain yang tidak mengamalkan duduk tawarruk ketika sholat berjamaah di mesjid.

“Mana bisa kita rubah duduk tawarruk, kan wajib hukumnya,” sanggah mereka.

Inilah penyebab kesalahpahaman tersebut. Duduk tawarruk hukumnya adalah sunnat saja menurut ulama-ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali. D uduk tawarruk yang hukumnya sunnat ini, bila menyakiti orang disampingnya bukan pahala lagi yang didapat, malah dosa.

Lho, kenapa bisa berdosa?

Ini ada kisah nyata untuk menjelaskan fenomena ini. Pada sebuah musim haji, ada 3 orang yang sedang sholat di depan Kabah. Di sebelah kiri adalah orang India yang mengalami masalah dengan kaki kirinya. Di tengah-tengah adalah orang Arab dan disebelah kanan adalah orang Indonesia. Ketika saat tasyahhud akhir, orang India itu terpaksa duduk miring ke kanan, karena tidak bisa melipat kaki kirinya. Tentu saja, orang Arab disampingnya yang terkenah getah, karena harus menahan badan orang Afrika tersebut. Lepih parah lagi orang Indonesia yang duduk disebelah kanan, duduk dengan cara tawarruk. Akibatnya orang Arab itu terjepit ditengah-tengah.

Kejadian yang sama sering kali menimpa saya juga. Salah satunya ketika sedang sholat Jum’at di sebuah mesjid di Adelaide. Ketika baru bangun dari sujud rakaat terakhir untuk duduk iftirasy (punggung kiri di atas tapak kaki kiri sedangkan tumit kaki kanan ditegakkan ke atas sambil dilipat jari-jari kaki menghadap kiblat), tiba-tiba saya merasakan paha kanan saya bergeser dan merasakan beban yang berat dari sebelah kanan saya. Ternyata orang yang disebelah kanan duduk secara tawarruk. Dengan pahanya yang agak gemuk, tentu saja ini memakan tempat yang lebih besar. Saya terpaksa menahan sakit karena ditimpa paha yang gemuk itu dan pada saat yang bersamaan harus menahan beban badan orang melayu itu (bisa Indonesia taupun Malaysia kalau dilihat dari wajahnya). Saya harus tegak menahan beban tersebut, karena tidak ingin menyusahkan orang disamping kiri saya.

Ada dua kemungkinan kenapa orang itu tidak merubah cara duduknya. Kemungkinan pertama dia baru datang ke Adelaide sebagai pelajar atau turis yang tidak tahu bagaimana cara duduk kebanyakan Muslim di Adelaide. Kemungkinan kedua, dia tidak mau merubah cara duduknya karena menganggap wajib duduk tawarruk. Mana bisa merubah seenaknya.

Perlu diketahui, semua ulama yang mengatakan duduk tawarruk itu sunat, sepakat mengatakan menyakiti orang lain hukumnya haram. Jadi tidaklah menjadi sunnat kalau kita menyakiti orang lain akibat duduk tawarruk.

Comments

comments

Share Button
(Visited 237 times, 1 visits today)