Salah Sangka Pendekatan Sunnah dan Syi’ah (Taqrib)

taqrib

Kalau ditanyakan kepada orang kebanyakan apa beda Sunni dan Syi’ah? Maka jawabannya adalah mereka sama-sama orang Islam dan hanya berlainan mazhab saja. Darimana mereka mendapatkan jawaban Sunni dan Syi’ah hanya berbeda mazhab saja? Mereka akan menjawab bahwa itulah yang dikatakan oleh Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut.

Fatwa Rektor Universitas Al-Azhar, Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut
Kantor Pusat Universiti al-Azhar

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Teks Fatwa yang dikeluarkan Yang Mulia Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar tentang Kebolehan Mengikuti Mazhab Syiah Imamiah.

Persoalan: Yang Mulia, sebahagian orang percaya bahwa penting bagi seorang Muslim untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara Syiah Imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga Syiah Zaidiah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Itsna ’Asyariyah misalnya?

Jawab:

1. Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: setiap Muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut boleh berpindah ke mazhab lain, dan bukan sebuah tindakan kriminal baginya untuk melakukan demikian.

2. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya. Kaum Muslim wajib mengetahui hal ini, dan sebolehnya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, kerana agama Allah dan Syari’atnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun transaksi (muamalah).

Tertanda,

Mahmud Syaltut

Fatwa di atas dikeluarkan pada 6 Juli 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar

Pertanyaannya, mengertikah mereka apa yang dimaksud Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut? Pahamkah mereka bahwa beliau hanya memberikan fatwa mengenai kebolehan menggunakan mazhab Syi’ah. Tidak perlu diherankan kalau beliau berfatwa seperti itu, karena beliau adalah seorang pakar dalam masalah fiqh perbandingan (fiqh Muqarran) dan merupakan salah satu pelopornya.

Bagaimana Menyikapi Fatwa Tersebut?

Mari kita perhatikan apa pandangan Dr. Wahbah Az-Zuhaili mengenai mazhab fiqh Syi’ah ini. Dari sini akan menjadi terang benderang apa yang dimaksud oleh syeikh Azhar tersebut.

Kalau dilihat dari segi mazhab fiqh, sesungguhnya perbedaan yang ada tidak terlalu banyak. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menulis dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu bahwa selain masalah aqidah, mazhab ini sangat dekat dengan mazhab As-Syafi’i. Bahkan beliau mengatakan bahwa dalam pendapat-pendapat fiqihnya, kira-kira ada 17 perbedaan saja dengan fiqih ahli sunnah. Salah satunya yang paling utama adalah masalah menghalalkan nikah mut’ah. Ahlussunnah seluruhnya sepakat bahwa nikah mut’ah itu haram dan tidak ada bedanya dengan zina.

Jadi fatwa Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut lebih kepada masalah fiqh, bukannya aqidah. Walaupun beliau mengeluarkan fatwa seperti itu, ternyata beliau mengeluarkan fatwa-fatwa lainnya yang menentang nikah mut’ah dan turunnya Imam Mahdi. Mahmud Syaltut pernah menyatakan perkahwinan mut’ah yang diamalkan syiah bukannya datang dari syariat Allah dan Mahmud Syaltut tidak menerima konsep Imam Mahdi seperti ajaran Syiah. Namun golongan Syi’ah tersebut tidak mau menyebarkan fatwa Mahmud Syaltut yang terakhir itu karena tidak menguntungkan program dakwah mereka.

Apa Saja Perbedaan Dalam Masalah Fiqh

Dari segi pemahaman fiqih, beberapa perbedaan mahzab ini dengan fiqih ahlisunnah antara lain:

  1. Menghalalkan nikah Mut’ah atau kawin kontrak
  2. Mewajibkan adanya saksi dalam setiap perceraian
  3. Mengharamkan sembelihan ahli kitab
  4. Mengharamkan laki-laki muslim menikah dengan wanita ahli kitab
  5. Dalam masalah warisan, mereka mendahulukan anak paman yang seayah dan seibu ketimbang anak paman yang seayah
  6. Tidak mengakui syariat al-mashu ‘alal-khuffain (mengusap dua sepatu) sebagai pengganti cuci kaki dalam wudhu’.
  7. Di dalam lafaz azan, mereka menambahkan kalimat Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullah (Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah) dankalimat Hayya ‘ala khairil ‘amal (Mari kita melakukan amal terbaik).

Adapun dari sisi landasan dasar fiqih mereka, juga ada beberapa perbedaan mendasar, antara lain:

  1. Dalam masalah penggunaan dalil-dalil fiqih, mereka memilih hanya menggunakan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahlul bait saja. Sikap mereka ini mirip dengan mahzab teman mereka, yaitu mazhab Az-Zaidiyah yang juga menolak semua hadits riwayat para shahabat selain ahlul bait. Mereka punya kitab hadits khusus yang berjudul Al-Kafii fi ilmid-diin, susunan Al-Kulainiy (Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulainiy Ar-Razy -328 H), berisi 60.099 hadits hadits yang semuanya diriwayatkan dari jalur ahlul bait. Di dalam kutubussittah termasuk shahih Bukhari dan Muslim, hadits-hadits ini juga ada termuat dengan dinomorkan dengan nomor Zaid.
  2. Mereka mengedepankan ijtihad namun menolak qiyas yang tidak disertai nash tentang ‘illat-nya.
  3. Mengingkari ijma’ kecuali bila di dalam ijma’ itu ada imam yang ikut serta.
  4. Rujukan dalam semua masalah fiqih hanya terbatas kepada ulama dari imam mereka saja.

Itu dalam urusan fiqh, bagaimana dalam urusan aqidah? Karena sesungguhnya perbedaan Sunni dan Syiah yang sangat mendalam dan menimbulkan pertikaian selama berabad-abad adalah lebih kepada masalah pokok dalam aqidah. Inilah yang menjadi pangkal kebingungan pengikut sunni yang awam. Mereka beranggapan bahwa kalau menggunakan fiqh Syi’ah saja dibolehkan, maka tidak ada masalah dengan membenarkan dan menggunakan aqidah mereka. Sikap seperti inilah yang perlu diluruskan.

Deklarasi Amman Membingungkan Sunni

Deklarasi Amman juga digunakan oleh golongan syi’ah untuk membingungkan muslim sunni. Sayangnya banyak juga orang sunni yang salah paham dengan deklarasi Amman. Mari kita teliti apa isi deklarasi Amman ini.

(1) Whosoever is an adherent to one of the four Sunni schools (Mathahib) of Islamic jurisprudence (Hanafi, Maliki, Shafi`i and Hanbali), the two Shi’i schools of Islamic jurisprudence (Ja`fari and Zaydi), the Ibadi school of Islamic jurisprudence and the Thahiri school[u] of Islamic jurisprudence, is a Muslim. [u]Declaring that person an apostate is impossible and impermissible. Verily his (or her) blood, honour, and property are inviolable.

Islamic jurisprudence itu adalah fiqh. Jadi siapapun boleh mengamalkan ajaran-ajaran yang berasal dari mazhab-mazhab di bawah ini, tanpa harus takut dikatakan sebagai kafir (apostate).

  1. Mazhab Hanafi (sunni)
  2. Mazhab Syafie (sunni)
  3. Mazhab Hanbali (sunni)
  4. Mazhab Maliki (sunni)
  5. Mazhab Ja’fari (syiah)
  6. Mazhab Zaydi (syiah)
  7. Mazhab I’badi
  8. Mazhab Zahiri

Kalau kalau seseorang yang beraqidah sunni, hendak mengamalkan ajaran dari Mazhab Ja’fari, maka tidak ada larangan baginya. Begitu juga kalau seseorang beraqidah syiah hendak melaksanakan ajaran dari mazhab Syafie, maka tidak ada larangan baginya juga. Itu kesimpulan dari deklarasi Amman tersebut. Kalau membaca penjelasan mengenai perbedaan fiqih sunni dan syiah di atas, cukup beralasan kalau para ulama yang menghadiri konferensi itu menyarankan hal tersebut. Namun demikian deklarasi Amman ini bukanlah berdasarkan ijma ulama dan juga bukan merupakan fatwa yang harus diikuti.

Lebih lanjut lagi dari pesat Amman tersebut:

Moreover, in accordance with the Shaykh Al-Azhar’s fatwa, it is neither possible nor permissible to declare whosoever subscribes to the Ash`ari creed or whoever practices real Tasawwuf (Sufism) an apostate. Likewise, it is neither possible nor permissible to declare whosoever subscribes to true Salafi thought an apostate.

Jadi kesimpulannya tidak boleh mengkafirkan (apostate) yang mengamalkan:

  1. Aqidah Ash’ari
  2. Tasawuf yang betul (real Tasawwuf)
  3. Salafi yang betul (real Salafi)

Disitu jelas tidak disebutkan aqidah Syi’ah sama sekali, karena para ulama itu menyadari bahwa walaupun dari segi fiqh ada kedekatan, dari segi aqidah, sunni dan syiah tidak sama. Tidak mungkin menyuruh orang syiah mengamalkan aqidah sunni dan sebaliknya. Ini seperti minyak dan air yang tidak mungkin untuk bersatu.

Kenapa para ulama tersebut menyentuh aqidah Ash’ari, Tasawwuf dan Salafi. Ini karena selama ini ada kecenderungan untuk mengkafirkan pengikut dari aliran-aliran tersebut, padahal mereka sama-sama dari sunni. Untuk meredakan pertempuran itulah, pesan Amman di keluarkan.

Comments

comments

Share Button
(Visited 319 times, 1 visits today)