Benarkan Orang Awam Wajib Bertaqlid?

taqlid

Pernahkah anda merasa kesulitan mengingat niat sholat jamak dan qashar? Saya terka pasti banyak yang mengakuinya. Karena tidak tahu niat apa yang dibaca, mereka memutuskan untuk meninggalkan sholat jamak dan qashar sama sekali. Daripada sholatnya tidak terima karena kelupaan niat, itulah alasan yang mereka beri. Selain sholat jamak dan qashar banyak sholat-sholat sunnat lainnya yang mereka enggan mengerjakannya karena tidak tahu niat apa yang mau dibaca.

Inilah sebuah contoh kecil dari kesusahan yang kita dapatkan kalau kita terlalu taksub (fanatik) terhadap mazhab Syafi’i. Karena menurut mazhab Syafi’i, niat sholat itu wajib dibaca. Bahkan ada yang sampai menambah syarat-syarat tambahan, seperti niat harus serentak dengan takbiratul ihram dengan perinciaannya. Akhirnya banyak kita lihat ada orang yang harus mengulang-ngulang takbiratul ihram nya karena ucapan niat yang belum sinkron dengan gerakan takbir. Bukankah ini menyusahkan? Mungkin anda akan menjawab, “Tapi itulah yang diajarkan kepada kami sejak kecil, memangnya ada cara lain?” Begitulah banyak orang yang tidak mengetahui bahwa ada pendapat dari mazhab lain yang mengatakan bahwa niat itu tidak perlu diucapkan cukup di dalam hati saja. Sayangnya pendapat yang cukup kuat ini tidak boleh dilkasanakan oleh mereka yang mengaku mazhab Syafi’i, dengan alasan mayoritas ulama mazhab Syafi’i melarang bertukar mazhab bagi orang awam.

Taksub mazhab ini sangat berbahaya. Boleh menimbulkan pertentangan dengan penganut mazhab lainnya. Tidak heran kalau kita dengar ada sebuah mesjid melaksanakan sholat Jum’at dua kali, karena imam sholat Jum’at yang pertama berlainan mazhab. Atau ada jemaah mesjid yang sampai berkelahi gara-gara meributkan azan satu kali atau azan dua kali. Pada tingkatan yang lebih tinggi, sebuah partai politik Islam yang bermazhab “polan” tidak mau bergabung dengan dengan partai politik Islam yang bermazhab “polin” dengan alasan ketidaksesuaian mazhab. Mereka saling menjatuhkan dan lebih senang bergabung dengan partai politik non-Islam. Inilah salah satu alasan kenapa partai-partai Islam itu tidak bisa bersatu.

Untuk menyelesaikan masalah di atas, sudah saatnya masyarakat awam diingatkan bahwa status mereka sebenarnya tidak bermazhab. Sayangnya ketika disebut tidak bermazhab, mereka mengira bisa langsung menarik hukum dengan hanya membaca sedikit ayat al-Quran dan segelintir hadis. Menurut mereka inilah yang disebut kembali kepada al-Quran dan al-sunnah, yaitu tidak memperdulikan mazhab-mazhab yang ada. Padahal mereka yang mengaku ini kembali kepada al-Quran dan al-sunnah ini sebenarnya tidak memiliki metode atau alat untuk menarik hukum-hukum agama. Mereka sebenarnya taqlid kepada guru mereka juga yang mengatakan hadith ini shahih, hadith ini palsu, dsb.

Tidak Bertaqlid Pada Satu Mazhab Saja

Sebenarnya apa yang dimaksud tidak bermazhab ini bukanlah meninggalkan mazhab sama sekali, tapi lebih kepada tidak taqlid kepada satu mazhab saja. Orang awam hanya mengikuti mazhab ulama yang dimintai pendapatnya. Kalau ulama itu bermazhab Syafi’i, maka menjadi Syafi’ilah si penanya. Kalau ulama itu bermazhab Hanafi, maka menjadi Hanfilah si penanya. Bukankah ini cukup flesibel dan memudahkan orang awam? Dengan kemudahan seperti, harusnya tidak akan muncul lagi aliran Islam Liberal yang menyatakan tidak mau mengikuti mazhab yang ada tapi mau membuat mazhab sendiri tanpa mengikuti aturan-aturan baku dalam Islam. Akibatnya apa yang terjadi? Fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Islam Liberal itu menjadi sesat dan menyesatkan.

Untuk lebih meyakinkan anda, maka saya akan kemukakan komentar para ulama fiqh kontemporer mengenai status taqlid oran awam:

Dr. Said Ramadan al-Buti seorang ulama fiqh dari mazhab Syafi’i pada jaman ini mengatakan:

Sesungguhnya tiada dalil syarak yang mewajibkan muqallid tetap secara terus-menerus dalam taqlidnya kepada sebuah mazhab fiqh. Tiada juga dalil yang melarangnya untuk berpindah dari mazhabnya kepada mazhab yang lain. Telah ijmak kaum muslimin bahwa muqallid boleh mengikuti mujtahid mana saja yang dia mau, seandainya telah sampai kepadanya mazhab atau pandangan mereka yang sebenarnya.

Misalnya, dia boleh mengikuti imam yang berlainan dari empat mazhab pada setiap hari yang berbeda. Sekalipun muncul pada akhir zaman nanti mereka yang mencela muqallid bertukar mazhab, namun ia adalah taksub yang dimurkai oleh syarak dan batil dengan kesepakatan kaum muslimin.

(Al-Buti: Dr. Said Ramadan, al-Lamazhabiyyah, hal. 37, Damsyik: Maktabah al-Farabi).

Dr. Wahbah al-Zuhali berkata:

Mayoritas ulama berkata tidak wajib bertaklid kepada imam tertentu dalam semua masalah atau kejadian yang berlaku. Bahkan seseorang itu dibolehkan bertaqlid kepada mujtahid mana saja yang dia mau. Jika dia tetap (iltizam) dengan mazhab tertentu, seperti mazhab Abu Hanifah, al-Syafi’i atau lainnya, maka dia tidak wajib secara berterusan.

Bahkan dia boleh bertukar-tukar mazhab. Ini karena, tiada yang wajib melainkan apa yang diwajibkan oleh ALLAH dan Rasul-NYA. Allah dan Rasul-NYA tidak pula mewajibkan seseorang berpegang pada mazhab imam tertentu. Hanya ALLAH wajibkan adalah mengikuti ulama, tanpa dibatasi hanya kepada tokoh tertentu.

…dan masih panjang komentarnya…capek nulisnya 🙂

(Al-Zuhaili, Dr. Wahbah, al-Rukhas al-Syar’iyyah, hal. 17-19, Beirut: Dar al-Khair 1993)

Menurut ‘Abdul Karim Zaidan:

Sesungguhnya syariat Islam adalah hujah mengatasi seluruh mazhab. Bukanlah mazhab yang menjadi hujah mengatasi syariat Islam…jika jelas kepada pengikut sesuatu mazhab bahwa mazhabnya salah dalam masalah tertentu, sementara kebenaran berada pada pendapat yang lain dan masalah itu cukup jelas baginya, maka dia hendaklah bertukar mazhab kepada pendapat yang benar dalam masalah tersebut. Boleh bagi pengikut sebuah mazhab mengikut mazhab lain dalam sebagian masalah. Ini karena, dia tidak wajib terikat dengan semua ijtihad mazhabnya. …

(Zaidan: Dr. Abd al-Karim, al-Wajiz fi usul al-Fiqh, hal. 412-413)

Dr. Yusuf al-Qaradawi berkata

Sesungguhnya terikat dengan mazhab-mazhab itu berarti beriltizam dengan sesuatu dari segi syarak dan agama yang tidak diperintahkan atau diwajibkan. Ini karena, tiada kewajiban atas nama agama dan syarak melainkan apa yang diwajibkan oleh ALLAH dan Rasul-NYA. ALLAH dan Rasul-NYA tidak pula mewajibkan mengikuti mazhab tertentu dari mazhab yang empat.

….

Pendapat yang mengatakan golongan muqallid wajib mengikuti mazhab-mazhab tersebut, tidak boleh dianggap muktabar. Ini karena tidak boleh bertaklid kepada orang yang dia juga bertaqlid. Sehingga jika mereka berijmak sekalipun, maka ijmak mereka tidak dianggap muktabar.

Ini karena hakikat ijmak yang muktabar adalah kesepakatan para mujtahiddin pada suatu zaman, bukan kesepakatan para muqallidun. Para ulama secara keseluruhan (termasuk golongan muqallidin) telah mentarjihkan bahwa orang awam tiada mazhab baginya. Mazhabnya adalah mazhab ulama yang memfatwakan untuknya.

(Al-Qaradaqi: Dr. Yusuf, Taisir al-Fiqh li al-Muslim al-Mu’asir, hal 37-39, Beirut: Muassasah al-Risalah 2000)

Comments

comments

Share Button
(Visited 495 times, 1 visits today)