Studi Islam di Barat?

Saat ini “Islamic Studies” menjadi subjek kajian yang sangat penting di dunia pendidikan, baik di dunia Islam maupun Barat. Di Leiden, Chicago, London, dan lain-lain didirikan insititut atau universitas yang mengajarkan ‘studi Islam’ yang diajar oleh profesor-profesor Muslim dan non Muslim. Mereka-mereka yang belajar di Barat, biasanya menunjukkan rasa bangganya karena lebih analitis dan unggul dalam metodologi.

Selain banyak anak-anak cerdas Indonesia yang belajar ‘studi Islam’ di Barat, banyak juga mereka yang belajar di Timur. Kairo, Mekkah-Madinah, Damaskus, Tripoli dan lain-lain adalah diantara kota-kota yang menjadi idaman mahasiswa-mahasiswa Muslim Indonesia. Di Kairo saja mahasiswa Indonesia yang belajar S1-S3 mencapai ribuan orang, begitu juga di Mekkah-Madinah.

Sekembali mahasiswa-mahasiswa itu ke Indonesia, kebanyakan mereka berperan dalam masyarakat. Apakah sebagai dosen, guru, peneliti, manajer dan lain-lain. Ada yang menjadi tokoh yang kepribadian dan pemikirannya berpengaruh luas di masyarakat dan ada yang menjadi orang yang biasa saja. Tergantung pada kepribadian, keseriusan dalam belajar, tradisi ilmu dalam lingkungannya, niyat ketika belajar, pengalaman organisasi/hidup dan lain-lain.

Di antara mereka yang belajar studi Islam di Barat, misalnya beralasan, bahwa beberapa tokoh Islam seperti Sayid Qutb, Prof. Mustafa Azami dan Profesor Rasjidi belajar di Barat, tapi mereka justru menjadi penentang yang lantang kepada Barat.

M Hilaly Basya seorang mahasiswa yang studi S2 di Universitas Leiden Belanda misalnya menulis di Majalah Madina edisi Desember 2008 dengan judul Belajar Islam di Barat, Kenapa Tidak? Ia mengutip pernyataan dosennya, Prof. Busken (guru besar Antropologi) yang mengajar perkuliahan Methods and Theories of Islamic Studies: “Mata kuliah saya tidak berpretensi menjadikan Anda sebagai alim (jamak Ulama). Karena saya tidak akan mengajarkan Anda tentang ilmu-ilmu Keislaman/keagamaan (uluum ad-diin).” Profesor Busken menambahkan bahwa Islam hanya diposisikan sebagai objek studi dan penelitian. Sedangkan ilmu-ilmu yang yang diwariskan kepada mahasiswanya adalah sosiologi, anthropologi, ilmu sejarah, arkeologi dan filologi.

Dengan demikian, kata Basya, tujuan program Islamic Studies di universitas-universitas Barat adalah melahirkan ilmuwan, entah itu sejarawan, sosiolog, antropolog atau filolog yang bidang kajiannya adalah Islam dalam segala dimensinya.

Kemanakah Belajar Islam?

Pendidikan dalam Islam bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia unggul yang mempunyai ketaqwaan yang tinggi. Ketaqwaan tentu dimaksudkan sebagai pemegangan teguh kepada aqidah, syariah dan akhlak Islam. Jadi niyat dan tujuan (antara dua hal ini saling berkaitan) menjadi peranan penting dalam proses belajar. Dalam ilmu manajemen modern ada ungkapan,”Start of The End.” Sabda Rasulullah saw yang penting,”Sesungguhnya amal itu tergantung niyatnya.” (HR Bukhari). Jadi ketika seseorang belajar S1, S2 dan S3 apa tujuan yang ingin diraihnya? Menjadi ilmuwan yang hebat, pengamat yang hebat atau apa?

Di sinilah pernyataan Prof. Busken guru besar Anthropologi ini perlu dikritisi. Ketika ia menyatakan bahwa “Mata kuliah saya tidak berpretensi menjadikan Anda sebagai alim (jamak Ulama). Karena saya tidak akan mengajarkan Anda tentang ilmu-ilmu Keislaman/keagamaan (uluum ad-diin).” Di sini jelas Busken tidak akan menyampaikan ilmu-ilmu yang yang menjadikan mahasiswanya semakin alim/bertaqwa. Mungkin Prof. Busken sendiri tidak terlalu percaya kepada Keilmuan Islam dan Peradabannya. Maka dengan sistem metodologi yang diajarkan di Leiden itu, maka kita bisa memprediksi bagaimana alumni-alumninya setelah lulus nanti. Bukan hanya Busken, banyak profesor-profesor lain di Barat yang berpendapat senada.

Kita ambil kasus misalnya yang terjadi pada Prof. William Liddle, guru besar ilmu politik di Universitas Ohio. Lulusan-lulusan dari bimbingan Liddle memang menjadi orang ‘hebat’ atau berpengaruh di Indonesia. Misalnya Dr. Saiful Mujani dan Dr. Denny JA menjadi ahli survai yang ‘presisi’ dengan metode Quick Count-nya untuk pemilihan-pemilihan bupati, gubernur atau presiden sekalipun. Tapi apakah ahli survai itu peduli terhadap akhlak kandidat-kandidat yang terpilih? Kita melihatnya selama ini tidak. Karena dua orang itu bukan seorang alim, karena mereka dibimbing oleh profesor non Muslim yang tidak peduli terhadap pembinaan aqidah mahasiswa-mahasiswanya.

Jadi dalam pendidikan, bukan hanya kapasitas intelektualnya yang dikembangkan tapi juga kapasitas aqidah dan akhlaknya perlu dibina. Dalam teori modern tentang kecerdasan, ada delapan kecerdasan manusia yang perlu dikembangkan. Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis Logis, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Kinestetis Jasmani, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Inrapersonal dan Kecerdasan Naturalis (Thomas Armstrong, 2002:232-233). Tentu dalam Islam konsep kecerdasan ini mesti dibingkai dengan kecerdasan aqidah/spiritual. Kecerdasan manusia dalam memahami dirinya, dari mana, mau kemana dan tujuan apa hidup di dunia ini? Sabda Rasulullah saw yang sangat terkenal: “Barangsiapa dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Allah akan memberikan kefaqihan dalam agama.” (HR Ahmad).

Maka dalam Islam bukan hanya tujuan pendidikan melahirkan orang-orang hebat yang dikembangkan semua potensi kecerdasannya, tapi mereka juga mempunyai aqidah yang kuat, pemahaman Keislaman yang faqih dan akhlak yang mulia. Dan mungkinkah ini terwujud bila tiap hari mahasiswa itu berdialog, konsultasi dan dibimbing dengan profesor-profesor non Muslim? Tentu sulit, meski kaum Muslimin faham, bahwa mengambil pengetahuan dari orang-orang non Muslim diperbolehkan. Tapi mereka tidak diperbolehkan pembimbing, konsultan, mentor, rujukan (tempat bertanya berbagai masalah) tiap hari bagi mahasiswa Muslim. Dan itulah yang selama ini terjadi di Islamic-islamic Studies di Barat, yang menjadi pembimbing dan rujukan mahasiswa adalah profesor-profesor non Muslim. Yang tentu saja profesor ini tidak merasakan situasi kejiwaan (kecerdasan emosional), ketika seorang Muslim shalat malam, berbuka puasa, membaca dan memahami makna-makna Al-Qur’an, berzakat, berjihad dan lain-lain.

Kasuistik

Mengajak ramai-ramai orang belajar studi Islam di Barat dengan mengambil contoh-contoh kasuistik yang terjadi pada beberapa tokoh Islam, tentu merupakan pengambilan kesimpulan yang kacau. Sebagaimana menyuruh anak-anak Muslim belajar di sekolah-sekolah Kristen dengan mengambil kesimpulan bahwa beberapa orang dari anak yang lulus disitu justru Islamnya lebih kuat.

Dalam mengambil sebuah kesimpulan, maka harus ada uji statistik (meski sederhana). Misalnya dari 1000 orang yang studi Islam di Barat, berapa persen orang yang lulus aqidah Islamnya menjadi kacau dan berapa persen yang semakin kuat. Bila didapati mayoritas (misalnya lebih dari 50%) kacau, maka bisa dibuat kesimpulan bahwa studi Islam di Barat, banyak menghasilkan intelektual-intelektual yang kacau aqidahnya. Maka kesimpulannya Sayid Qutb, Prof. Rasjidi dan Prof. Mustafa Azami adalah contoh-contoh kasuistik. Dimana bisa diprediksi bahwa dari awal mereka belajar studi/studi Islam di Barat niyatnya adalah untuk menjayakan Islam. Di samping mereka sebelum berangkat telah mempunyai bekal yang kuat dalam hal ilmu-ilmu Islam, ilmu-ilmu umum dan berbagai metodologinya. Sehingga ketika berhadapan dengan intelektual Barat mereka tidak minder dan bisa berargumen yang ilmiah kepada mereka.

Bila tidak, maka yang terjadi adalah menjadi ‘pak turut’ kepada Barat. Keunggulan Barat dengan metode ilmiah dan teknologinya menjadikan santri-santri kita terkagum-kagum, seolah-olah jalan hidup mereka benar. Dan para santri-santri yang belajar di Barat itu setapak demi setapak mengikuti jalan mereka. Lupa kepada kejayaan dan kehebatan pemikiran dan peradaban sendiri. Lupa terhadap ‘peta’ yang mesti ditempuh untuk meraih kembali kejayaan itu kembali.

Padahal tradisi keilmuan universitas adalah dari Peradaban Islam. Prof. Wan Daud, Guru Besar ATMA-UKM mengutip Makdisi (1998:237) menyatakan, “Islam klasik telah menghasilkan sebah budaya intelektual yang memengaruhi Barat Kristen dalam tradisi keilmuan universitas. Ia telah menyumbangkan faktor yang melahirkan universitas, yaitu metode keilmuan, bersamaan ide kebebasan akademik…Kebebasan akademik dalam Islam klasik, pada level ahli hukum dan orang awam memiliki batasan-batasan yang sama dengan konsep modern dalam kebebasan bagi profesor dan mahasiswa di universitas.” Kebebasan manusia bermakna dan akan diperoleh setelah melalui penyerahan dan kepatuhan dengan penuh kesadaran terhadap segala kewajiban Islam.

Tentu, belajar di dunia Islam tidak sepenuhnya sempurna. Universitas-universitas di dunia Islam banyak yang mesti disempurnakan. Metodologi pengajarannya, intelektualitas dosennya, pembinaan mahasiswanya, perpustakaannya dan lain-lain. Tapi itulah rumah kita. Dan dari situlah kita membangun pemikiran dan peradaban Islam. Bukan dari rumah orang lain yang kita tidak memilikinya. Wallahu aliimun hakiim.

Sumber:

Studi Islam di Barat?
Oleh:Nuim Hidayat

(Peneliti INSISTS dan Dosen STID M Natsir)

Comments

comments

Share Button
(Visited 863 times, 1 visits today)