Sejarah Maulidur Rasul

Perayaan Maulidur rasul dimulai oleh kerajaan Fatimiah di Mesir yang beraliran Syi’ah. Kerajaan Fatimiah telah merayakan perayaan ini secara besar-besaran. Bukan hanya hari kelahiran Rasulullah saw sahaja yang dirayakan, tetapi juga anggota keluarga Nabi saw seperti Zainab, Hassan, Hussain (r.a.) juga ikut dirayakan. Bahkan mereka juga merayakan kelahiran Nabi Isa as.

Walau bagaimanapun, semua perayaan ini dihentikan pada tahun 488 atas perintah Perdana Menteri al-Afdal Shahindah yang berpegang kuat pada sunnah, seperti yang tercatat di dalam buku Al-Kamel karangan Ibnu Al-Atheer. Masyarakat berhenti merayakannya sehingga Al-Ma’moon Al-Bataa’ni memegang tampuk kekuasa kerajaan. Beliau yang memulai kembali perayaan yang telah dihentikan sebelum itu.

Apabila Kerajaan al-Ayubbiah merampas kekuasaan tersebut, semua perayaan dihentikan kembali. Namun begitu, masyarakat tetap merayakannya dikalangan keluarga mereka di dalam rumah. Pada abad ke 7, Putera Muzafar Al-Deen Abi Sa’d Kawakbri Ibn Zein Ed-Deen `Ali- Ibn Tabakatikin memulai kembali perayaan Maulid Nabi di Bandar Irbil. Beliau merupakan seorang sunni. Muzafar begitu peduli dengan perayaan ini sehingga memerintahkan agar dibuat persiapan seperti mendirikan khemah, menghias khemah, dll. Setiap kali selepas solat Asar, Muzafar akan menyaksikan perayaan ini di dalam khemah yang telah didirikan itu.

Perayaan diadakan pada tanggal 8 Rabiulawal atau kadang-kadang pada tanggal 12 Rabiulawal. Perayaan ini diisi dengan berbagai acara, diantaranya membaca sejarah Nabi (s.a.w.), hingga kepada menghias binatang ternak untuk disembelih dan kemudian diadakan kenduri besar-besaran.

Berkata Ibnu Haajj Abu Abdullah Al-Abdari, perayaan tersebut tersebar luas di seluruh Mesir pada zaman pemerintahan Putera Muzafar ini. Beliau menentang perayaan yang diadakan. Banyak buku telah ditulis mengenai perayan Maulidur Rasul ini, diantara penulisnya adalah Ibn Dahya, meniggal dunia pada 633, Muhy Ed-Deen Ibn Al-`Arabi, meniggal di Damascus pada 683, Ibn Taghrabik, meniggal di Mesir pada 670, dan Ahmad Al-`Azli dan anaknya Muhammad, meniggal di Sebata pada 670.

Oleh karena amalan bid’ah yang banyak dilakukan pada saat perayaan itu, para ulama’ telah berbeda pendapat akan kebolehan merayakan Maulid Nabi ini. Pendapat pertama membolehkan perayaan ini, sedangkan pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya. Di antara ulama yang membolehkan adalah As-Siyooti, Ibn Hajar Al-`Asqalaani dan Ibn Hajar Al-Haythmi. Walaupun mereka setuju dengan perayaan ini, mereka tetap menolak isi perayaan tersebut pada zaman itu karena banyaknya amalan-amalan bid’ah yang dilakukan.

Silakan baca hujjah-hujjah yang menolak dan menerima perayaan maulid ini di link berikut ini. Hati-hati bacanya karena dalam bahasa Melayu, mungkin agak pening sedikit ketika membaca 🙂 Kalau yang di atas itu memang sudah saya terjemahkan semampu saya.

Peringatan penting: Kalau ada menemukan kata “harus” di sebuah tulisan bernuansa agama dalam bahasa Melayu maka itu berarti “mubah” yaitu boleh dikerjakan boleh juga tidak. Kata “wajib” biasanya ditulis sebagai “mesti” atau “wajib”.

Sumber:

Maulid Nabi – Petikan Sejarah Ringkas

Comments

comments

Share Button
(Visited 951 times, 1 visits today)