Salahudin Ayubi Penakluk Jerusalem

salahudin

Tiba-tiba bus yang aku tumpangi dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal) membangunkan aku dari buaian mimpi. Ketika aku membuka mata, terlihat gedung-gedung pencakar langit di kanan-kiriku. Aku menduga tidak lama lagi aku segera tiba di stasiun bus Pudu Raya. Sebuah stasiun bus yang sangat ketinggalan jaman di jantung kota KL. Kalau dibandingkan dengan KLIA memang seperti bumi dan langit.

Jamku masih menunjukkan jam 1.45 sore. Masih ada waktu bagiku untuk menukar tiket bus dari jam 3.30 sore ke 2.30 sore. Alasannya sederhana saja, aku tidak mau berlama-lama di Pudu Raya. Bikin kepala jadi pusing di stasiun yang sempit karena kebanyakan orang, panas dan dipenuhi asap rokok. Sambil sesekali menyentuh dompet di kantong belakang celana jeansku, aku segera menuju loket bus Konsersium. Untung hanya satu orang yang ngantri.

“Bang, boleh tukar tiket bus dari pukul tiga setengah ke dua setengah?” tanyaku kepada si penjaga kounter. “Tak boleh bang, tiket pukul dua setengah petang sudah habis,” jawabnya. Sial, aku baru ingat kalau hari ini adalah hari Minggu sore, dimana banyak orang yang hendak kembali ke kota tempatnya bekerja atau belajar.

Tidak terlalu jelek juga menunggu selama satu setengah jam. Namun aku harus mencari sesuatu untuk dibaca. Aku lihat banyak kios yang menjual majalah dan koran. Aku singgah ke salah satu kios dan segera mencari salah satu majalah favoritku yaitu majalah I. Majalah ini merupakan majalah Islam progresif yang berusaha mengajak orang kembali kepada al-Quran dan sunnah. Ah betapa kecewanya aku, ternyata belum ada di pasaran lagi untuk edisi baru. “Sepertinya ada satu kedai buku Islam diujung stasiun, mungkin aku bisa mendapatkan buku yang menarik,” gumamku dalam hati.

Sesampainya di kedai buku kecil itu, mataku langsung tertambat dengan sebuah novel sejarah Islam yang berjudul “Salahudin Ayubi Penakluk Jerusalem”. Kebetulan, aku tidak mengetahui banyak tentang cerita sultan Islam yang terkenal ini. Yang aku tahu Sultan Salahudin berhasil merampas Masjidil Aqsa dari tangan pasukan Salib tanpa menumpahkan darah. Juga beliau pernah mengunjungi Raja Richard yang sedang sakit berat ketika sedang berusaha merampas balik Jerusalem dari pasukan Islam pimpinan Sultan Salahudin. Itu saja yang kutahu mengenai beliau. Kulirik harga buku tersebut, 26.90 ringgit untuk Semenanjung Malaysia. Agak mahal juga, tapi tidak apalah. Kelihatannya buku ini menarik untuk dibaca dalam rangka menunggu bus.

Ternyata betul dugaanku. Buku ini sangat menarik, karena banyak fakta-fakta yang tidak kuketahui tentang kerja keras Sultan Salahudin untuk merebut kembali Masjidil Aqsa. Keadaan negara-negara Islam pada saat itu persis dengan keadaan negara-negara Islam pada zaman sekarang. Mereka berpecah belah dan terkadang berperang sesama sendiri untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka juga tidak segan-segan meminta bantuan negara Salib untuk menggempur saudara mereka sendiri. Para pemimpin negara hidup dengan mewah, sedangkan rakyat jelata hidup dalam kemiskinan.

Salahudin berbangsa Kurdi dan sejak kecil telah dilatih ilmu militer oleh bapak saudaranya, Asadudin, dan ilmu agama oleh ayahnya sendiri. Ketika dewasa Salahudin menyertai pasukan berkuda Sultan Aleppo. Salahudin kemudian pindah ke Mesir. Di sana beliau betul-betul menjadi seorang yang sangat mencintai agama Islam. Cita-cita beliau adalah untuk merebut kembali Baitul Maqdis dari kekuasaan tentara Kristen. Untuk mencapai tujuan tersebut, Salahudin bercita-cita untuk memperkuat tentara Islam. Bagaimana Salahudin menggapai cita-citanya tersebut?

Kulirik jamku kembali, sudah jam 3.15 sore. Sayang sekali, aku harus menghentikan bacaanku, karena harus bergegas turun ke platform 4, dimana bus Konsorsium siap membawaku ke Penang. Aku tidak sabar melanjutkan bacaanku ini, karena ingin mengetahui bagaimana Salahudin berhasil menyatukan negara-negara Islam yang terpecah pada saat itu. Setelah beres dengan urusan tempat duduk, aku segera membuka novel tersebut dan menyambung bacaanku. Sesekali aku mengalihkan mataku dari buku tersebut, terganggu dengan ulah beberapa penumpang remaja Korea yang sedang bercanda sesama mereka. Aku mengetahui mereka dari Korea, karena aku mengenal bunyi bahasa Korea berdasarkan sinteron Korea yang sempat aku tonton dulunya.

Ok kita lanjutkan dengan cerita Salahudin ini. Impian itu tercapai ketika Salahudin dilantik menjadi ketua angkatan bersenjata Mesir. Beberapa tahun kemudian beliau dilantik menjadi perdana mentri Mesir. Saya baru tahu, ketika Salahudin dilantik menjadi perdana mentri Mesir dan kemudian menajadi sultan di kemudian waktu, pada saat itulah kekuasaan Fatimyiah yang beraliran Syiah berakhir di Mesir. Setelah itu beliau banyak mendapat gangguan dari bekas-bekas petinggi Fatimiyah. Mulai dari usaha mengadu domba rakyat Mesir, percobaan pembunuhan beliau, bahkan yang paling parah adalah dengan mengajak tentara Salib untuk menyerang Mesir atau daerah-daerah yang berbatasan dengan Mesir.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana beratnya usaha beliau untuk menyatukan Mesir, Syiria, Hizas dan Yaman dalam satu pemerintahan. Tidak mudah melakukan penyatuan ini. Terkadang beliau harus menggunakan kekuatan bersenjata, terkadang dengan kekuatan diplomasi. Tetapi kebanyakan dengan kekuatan bersenjata. Untuk keperluan ini beliau membangun angkatan bersenjata yang sangat kuat. Tentara yang kuat ini diperlukan untuk menghalang usaha-usaha tentara Salib mengambil alih Mesir. Aku juga baru mengetahui, ternyata tentara Salib juga pernah berusaha untuk merebut Mekkah dan Madinah.

Birnis panglima tentara Salib berkata kepada Raja Reymond, “Tentara kita berhasil menguasai Masjid Aqsa, tetapi ada dua buah mesjid lagi yang belum kita kuasai yaitu Mesjid Nabi Muhammad di Madinah dan Mesjid Haram di Mekah.”

Untungnya Sultan Salahudin mengetahui usaha mereka dan segera mengerahkan tentaranya ke sana. Kalau tidak, mungkin sekarang ini umat Islam tidak bisa naik haji lagi ke Mekah.

Puncak perjuangan Salahudin adalah ketika tentaranya berhasil mengalahkan tentara Salib di Hittin. Keberhasilan ini membawa kepada kejatuhan Baitul Maqdis pada tanggal 15 Oktober 1187M atau hari Jum’at 27 Rajab 583H. Tentara Salib membantai penduduk Islam Jerusalem hingga tidak bersisa. Sebelumnya lagi, tentara Salib di bawah pimpinan Raja reymond telah menakluk satu tempat yang bernama Maaratun Nu’man. Di sana mereka membantai lebih dari seratus ribu umat Islam dan melempar mayat mereka ke api. Tetapi apabila kota Jerusalem berhasil ditaklukkan oleh tentara Islam pada tanggal 15 Oktober 1187, Salahudin memerintahkan tentaranya supaya tidak membunuh para tawanan Kristen. Dia memberikan dua alternatif pada tawanan Kristen itu, masuk Islam atau membayar sejumlah tebusan untuk kebebasan mereka.

Banyak juga tentara Salib yang menjadi tawanan perang yang dibebaskan setelah membayar 10 dinar. Ada puluhan ribu jumlahnya. Tentara yang dilepaskan inilah di kemudian hari berusaha mengambil alih Jerusalem di bawah pimpinan Raja Richard. Usaha pengambilalihan ini berakhir dengan perjanjian damai dengan tentara Salib.

Setelah berhasil mengambil alih Jerusalem dan membuat perjanjian dengan tentara Salib. Salahudin Ayubi kembali ke Damsyik dan memerintah dari Mesir hingga ke Yaman. Beliau meninggal dunia karena sakit.

Setelah membaca cerita ini, aku mendapatkan banyak kesamaan kondisi Islam pada zama Sultan Salahudin dan zaman sekarang. Aku bahkan bisa menduga untuk bangkit menjadi kekuatan dunia lagi, Islam memerlukan seorang pemimpin yang sangat kuat yang mampu menyatukan negara-negara Islam baik dengan kekuatan bersenjata ataupun diplomasi. Kalau sekedar anjuran agar umat Islam bersatu melupakan pertentangan sesama sendiri, aku kira itu tidak akan berhasil. Aku juga sangat yakin kalau negara barat tidak menginginkan negara-negara Islam bersatu. Mereka menggunakan berbagai cara untuk memecahbelahkan negara-negara Islam. Segala usaha untuk menyatukan negara Islam dianggap sebagai kelompok Islam fundamentalis.

Satu jam sebelum ketibaan di Penang, aku menamatkan novel sejarah Islam tersebut dengan perasaan puas. Puas karena mengetahui sejarah Salahudin Ayubi walaupun tidak mendalam. Puas karena dapat membandingkan keadaan dulu dan sekarang dan bagaimana cara merebut kejayaan itu kembali. Nanti sesampainya di rumah aku akan melanjutkan dengan novel sejarah Islam berikutnya yang berjudul Khalid bin Walid. Ada yang tidak kenal dengan beliau?

Comments

comments

Share Button
(Visited 287 times, 1 visits today)