Prof Nasaruddin Umar, Berguru Dengan Alam Ghaib Itu Dimungkinkan

nasaruddinumar

Kalau ingin mengenal seseorang, maka bacalah tulisan-tulisannya. Kali ini kita mencoba mengenali Prof Dr Nasaruddin Umar. Berdasarkan tulisan-tulisannya di Republika, kita dapati bahwa dia adalah seorang pengikut sufi.  Dalam salah satu tulisannya dia menulis bahwa Imam Al-Ghazali selalu meminta konfirmasi Rasulullah saw tentang hadith-hadith lemah dalam kitab Ihya’ Ulumuddin.

Prof. Nasaruddin menulis: “Suatu saat, Imam Al-Ghazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam Ihya’ Ulumuddin. Lalu, Al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah. Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam Al-Ghazali berjumpa dengan Rasulullah.”

Prof. Nasaruddin juga membahas pengalaman Ibnu Arabi  yang mengaku bertemu dengan Rasulullah saw dalam mimpi. Dalam mimpinya Rasulullah saw berkata, “Ini kitab Fushus Al Hikam. Ambil dan sebarkan kepada umat manusia agar mereka mengambil manfaat darinya.” Berdasarkan cerita itu, tampak bahwa Ibnu Arabi meyakini sepenuhnya bahwa apa yang dia tuliskan dalam kitab tersebut merupakan ilham Ilahi. Ia hanyalah mesin pencetak bagi kitab Fushus yang diberikan Nabi tanpa mengurangi maupun menambah sedikitpun.

Jadi golongan sufi ini sangat meremehkan hadith-hadith sahih., karena mereka punya metode lain untuk menentukan sebuah hadith itu sahih yaitu melalui konfirmasi dengan Nabi SAW di alam mimpi. Metode ini sungguh sangat melecehkan usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama-ulama hadith sejak dulu kala.

Perjalanan jauh yang ditempuh oleh Al-Imam Al-Bukhari dan para ahli hadits  lainnya dalam mengumpulkan hadits-hadits Nabi tampak menjadi pekerjaan bodoh yang menghabiskan banyak waktu, energi serta biaya. Karena sebenarnya ada cara mudah yaitu janjian sama Nabi shallallahu ‘alahi wasallam untuk ketemuan lalu belajar langsung dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang dilakukan oleh Ibnu Arabi.

Juga kalau mengikuti metode sufi, bisa diambil kesimpulan, kitab-kitab hadith yang ada pada saat ini seperti shahih Al-Bukhari, shahih Muslim, Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Thirmidzi, Sunan Ibni Maajah, Sunan An-Nasaai, Sunan Ad-Daarimi, Sunan Al-Baihaqi, dll, jauh daripada lengkap. Karena ternyata masih banyak hadith-hadith yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat “baru” yang bertemu dengan Nabi dalam mimpi.

Itulah Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Seorang pengikut sufi yang membenarkan bahwa dimungkinkan berguru dengan penghuni di alam lain. Bagi yang ingin mengikuti ajaran sunnah dengan benar, jauhi ajaran-ajaran kiyai seperti ini, walaupun bergelar profesor. Pakar-pakar sufi ini biasanya sangat bersahabat dengan golongan Syi’ah, kaum liberal, dan aliran-aliran sesat lainnya. Namun mereka sangat keras dengan golongan sunnah.

 

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

“Barangsiapa yang bermimpi melihatku, maka dia melihatku karena setan tidak akan bisa menyerupai diriku.” (Hadis)

Suatu saat, Imam Al-Ghazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam Ihya’ Ulumuddin.

Lalu, Al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.

Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam Al-Ghazali berjumpa dengan Rasulullah.

Padahal, Imam Al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.

Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia.

Pengalaman lain, Ibnu Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush Al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.

Menurutnya, kitab Fushuh bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah berkata, “Khudz hadzal kitab, Fushuh Al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”

Kitab Jami’ Karamat Al-Auliya’ karangan Syekh Yusuf bin Isma’il Al-Nabhani, sebanyak dua jilid, mengulas sekitar 625 tokoh/ulama yang memiliki karamah, yaitu pengalaman luar biasa mulai dari sahabat nabi hingga tokoh abad ke-19.

Sayang, di dalamnya tidak dimasukkan sejumlah orang yang dapat dikategorikan sebagai wali yang berasal dari Indonesia. Seperti beberapa ulama yang tergabung di dalam Wali Songo. Dalam kitab ini,Subhanallah, ternyata pengalaman batin dan spiritual hamba Allah SWT berbeda-beda.

Juga di http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/03/02/m0921q-berguru-kepada-penghuni-alam-lain-1

Comments

comments

Share Button
(Visited 676 times, 1 visits today)