Penyusunan Mushaf Al-Quran Bagian Pertama

Sebagai umat Islam, kita perlu tahu bagaimana al-Quran itu disusun. Tujuannya supaya kita tidak terpengaruh dengan propaganda kaum orientalis dan liberal yang berusaha menjatuhkan kredibilitas al-Quran.

Penulisan al-Quran Pada Masa Nabi saw

Rasullullah mengangkat penulis wahyu Qur`an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali ra, Muawiyah ra, `Ubai bin K`ab ra dan Zaid bin Sabit ra. Jika ada ayat yang turun, beliau memerintahkan mereka untuk menulis serta menunjukkan penempatan ayat tersebut dalam surah. Di luar itu ada juga sebagian sahabat yang menulis atas kemauan mereka sendiri. Mereka menulis pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit, daun kayu, pelana, dan potongan tulang belulang binatang.  Zaid bin Sabit ra pernah berkata, “Kami menyusun al-Quran dihadapan Rasulullah pada kulit binatang”. Usaha-usaha tersebut menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis al-Quran. Kesulitan-kesulitan tersebut ternyata menambah daya hafal mereka.

Tulisan-tulisan al-Quran pada masa Nabi saw tidak terkumpul dalam satu mushaf. Ada tulisan yang dipunyai oleh seorang sahabat belum tentu dipunyai oleh sahabat yang lain. Namun para sahabat senantiasa menyodorkan al-Quran kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Bahkan ada segolongan  sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas`ud, yang mampu menghafal seluruh isi al-Quran ketika Nabi saw masih hidup. Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan al-Quran dihadapan Nabi saw.

Ada kaum orientalis berhujjah bahwa mushaf al-Quran yang ada pada saat ini tidak sama pada zaman Rasulullah saw, banyak yang telah dirubah ketika dilakukan penulisan. Kalau Rasulullah saw mau, harusnya langsung ditulis dan dikumpulkan pada saat turunnya wahyu. Jadi menurut kaum orientalis itu, mushaf al-Quran yang ada pada saat ini adalah hasil dari pekerjaan bid’ah dan tidak bisa dipercaya 100%.

Benarkah tuduhan itu? Dan kenapa al-Quran tidak dikumpulkan dalam satu mushaf yang lengkap ketika Nabi saw masih hidup? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak apa kata dua orang ulama di bawah ini:

Az-zarkasyi menjelaskan:

al-Quran tidak ditulis dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap saat. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah al-Quran turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah saw.”

Al-Katabi berkata:

Rasulullah saw tidak mengumpulkan al-Quran dalam satu mushaf itu karena beliau senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah saw, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.”

Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis. Tetapi pada saat itu belum diperlukan pembukuan dalam satu mushaf, sebab Nabi saw masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Tambahan pula terkadang ada ayat yang menghapuskan ayat sebelumnya. Selain itu, ayat-ayat tersebut tidak ditulis berdasarkan urutan penurunannya,  tetapi berdasarkan petunjuk Nabi saw ke surah mana ayat-ayat tersebut harus diletakkan.

Jadi tidak tepat ketika ada tuduhan yang mengatakan bahwa ketika Nabi saw meninggal, al-Quran belum dikumpulkan sama sekali hanya berdasarkan ucapan Zaid bin Sabit: “Rasulullah telah wafat sedang al-Quran belum dikumpulkan sama sekali.” Padahal yang dimaksud Zaid adalah ayat-ayat dan surah-surahnya belum dikumpulkan dalam satu mushaf.

Kesimpulannya adalah pengumpulan al-Quran pada zamana Nabi saw adalah dalam bentuk:

  1. Penghafalan
  2. Pembukuan yang pertama

Comments

comments

Share Button
(Visited 741 times, 1 visits today)