Penembakan Chapel Hill Membuat Media Barat Makin Terlihat Hipokrit

chapelhillshooting_3

Yusor Mohammad Abu-Salha, Deah Shady Barakat, dan Razan Mohammad Abu-Salha

Dr. Barakat ketika ditanya oleh CNN mengenai motif si pembunuh menjawab sangat tidak masuk akal hanya karena perebutan lahan parkir, langsung diselesaikan dengan cara membunuh. Tidak tanggung-tanggung, pembunuhan secara eksekusi lagi, dimana masing-masing orang ditembak di kepalanya. Namun pihak kepolisian dan media-massa Amerika berkeras bahwa kejadian itu disebabkan oleh rebutan lahan parkir. Mereka tidak mau melihat latar belakang si penembak, misalnya bagaimana hubungan sosial si penembak dengan tetangganya yang muslim.

Menurut Mohammad Abu-Salha, bapar dari Yusor dan Razan, bahwa anak-anaknya sering bercerita mengenai Craig Hicks. Si pembunuh ini tidak nyaman dengan adanya Muslim disekitar area tersebut, dan sering datang dengan sombong, menghina dan menentang.

The women’s father, Dr. Mohammad Abu-Salha, who has a psychiatry practice in Clayton, said regardless of what prompted the shooting Tuesday night, Hicks’ underlying animosity toward Barakat and Abu-Salha was based on their religion and culture.

“It was execution style, a bullet in every head,” Abu-Salha said. “This was not a dispute over a parking space; this was a hate crime. This man had picked on my daughter and her husband a couple of times before, and he talked with them with his gun in his belt. And they were uncomfortable with him, but they did not know he would go this far.” 1

Fakta-fakta ini berusaha dihindari oleh media massa barat. Lain halnya kalau pembunuhnya adalah seorang Muslim. Bahkan dengan siapa si Muslim ini berbicara sebelum melakukan kejahatan tersebut dibeberkan habis-habisan oleh media massa. Siapa gurunya, dimesjid mana dia sering sholat, buku-buku apa yang dia baca, pokoknya lengkap secara detail tidak ada yang ketinggalan. Walaupun fakta-fakta itu ternyata tidak benar di kemudian hari, tidak masalah. Yang penting nama Islam sudah berhasil dijelek-jelekkan.

Apa yang media barat berusaha menggiring pembacanya bahwa motif si pembunuh ini bukanlah “hate crime” apalagi “Islamphobia”. Mereka mengatakan bahwa si pembunuh ini adalah pengikut atheis dan sering mempublikasikan pesan-pesan kebencian terhadap agama melalui media sosial. Berdasarkan cerita Mohammad Abu-Salha, bisa ditarik garis merah bahwa agama yang paling dibencinya adalah agama Islam. Agama lain walaupun mungkin dia benci juga, namun tidak membawa dia untuk membunuh. Media barat tidak memposisikan agama-agama lain secara buruk.

Berdasarkan fakta media barat sering melancarkan propaganda negatif terhadap Islam selama belasan tahun. Buah dari propaganda kebencian itu sudah mulai kelihatan. Makanya mereka berusaha mencari dalih apapun agar tidak dituduh bermukadua atau “double standard” atau “ngeles” istilah yang lagi populer di Indonesia. Kalau bisa disembunyikan, disembunyikan saja kasus ini, sehingga tidak kelihatan belang mereka. Itulah kenapa, CNN harus menunggu 10 jam baru menyiarkan berita itu. Kalau tidak ada media sosial yang ribut, mungkin dunia tidak mengetahui pembantaian tersebut.

chapelhillshooting_3

“Tidak ada kejadian menarik di sini. Cuma 3 Muslim dibunuh oleh seorang sakit jiwa.”

Sesungguhnya kejadian ini makin menunjukkan kemunafikan media barat. Para netizen pun bisa melihat dengan jelas ketimpangan tersebut.

Ada yang mengatakan, “#ChapelHillShooting menunjukkan kemunafikan masyarakat Amerika. Mengapa baru sekarang saya mendengar kejadian itu? Kenapa kejadian itu tidak menjadi “breaking news” pada saat kemarin?

Ada lagi yang berkomentar, “Saya penasaran apakah ada kepala negara yang datang dan bergandengan tangan di jalanan Chapel Hill untuk mengutuk Islamphobia?”.

Komentar lainnya, “CNN sekarang ini sedang menayangkan Obama yang sedang menyanyi lagu Taylor Swift tapi tidak kedengaran sama sekali mengenai penembakan di Chapel Hill.”

Tidak heran kalau muncul sebuah diagram alur mengenai cara media massa barat memberitakan sebuah kejadian yang mematikan. Kalau pembunuhnya seorang Muslim, maka jalurnya akan berbeda dibandingkan dengan pembunuh yang non-Muslim.

islamphobia_news_algorithms

Inilah perbandingan “media coverage”.

#SydneySiege: Muslim man holds people hostage. Immediate coverage from morning to night, days on end, on every channel. Obama for some reason gets a briefing on the matter on the other side of the globe. Vigils are held. Condemnations everywhere. The world mourns.

#CharlieHebdo: Muslim men attack people in building. World leaders gather to March in protest. Everyone advocates for free speech. International coverage on the matter, left right and center. Shock and horror. Condemnations everywhere. The world mourns.

#ChapelHillShooting: Crazy atheist kills three innocent Muslims out of hate, aged 23, 21 and 19. It takes hours and hours for a media article to be published. Nothing is seen on television. Little is heard on social media except among the Muslim communities. Leaders are silent. The ever-growing Islamophobic attitude ignored. Few mourn.

Beginilah muka si pembunuh yang dianggap sebagai penyendiri dan mengalami tekanan kejiwaan. Percayakah anda?
chapelhillshooting_4
1. Read more here: http://www.newsobserver.com/2015/02/11/4547742_chapel-hill-police-arrest-man.html?rh=1

 

Comments

comments

Share Button
(Visited 266 times, 1 visits today)