Pembagian Khilaf

Khilaf dibagi kepada dua, yaitu khilaf muktabar dan khilaf yang tidak muktabar. Khilaf muktabar adalah perbedaan pendapat di kalangan para ulama, di mana masing-masing mempunyai dalil yang diterima di sisi metoda penghujahan (memberikan alasan-alasan) syarak. Khilaf ini berlaku dikarenakan dalil yang ada tidak jelas. Jadi para ulama berijtihad dalam menentukan hukum sebenarnya.

Contoh khilaf muktabar adalah bacaan al-Fatihah di belakang imam. Sebagian ulama mengatakan makmum tidak perlu membaca surah al-Fatihah, sedangkan sebagian lainnya berpendapat perlu dibaca. Kedua-dua belah pihak telah mengemukakan alasan dan dalil masing-masing. Dari segi kaedah (metode), kedua-duanya telah mengikuti proses yang betul dalam berhujah. Dalam hal ini kedua pihak berhak berpegang kepada pendapat yang lebih diyakini. Bagi yang yakin bahwa perlu membaca surah itu, mereka tidak boleh berkeras terhadap pihak yang mengatakan tidak perlu membacanya.

Hanya pendapat-pendapat yang lahir dari dalil-dalil muktabar saja yang dianggap sebagai khilaf dalam syariat. Pendapat yang mengatakan tidak boleh berselisih dalam masalah khilaf, tidak bisa diterima secara umum. Hal ini perlu diperincikan terlebih dahulu, disebabkan ada khilaf yang tidak muktabar. Khilaf yang tidak muktabar bermaksud salah satu pihak tidak mengikuti proses penghujahan yang diterima oleh syarak. Di antara contoh khilaf tidak muktabar adalah pendapat fuqaha yang menggunakan hadis palsu dalam berijtihad atau nas-nas yang bertentangan dengan al-Quran dan sunnah.

Jika semua khilaf diakui, ini mengakibatkan kita akan mengakui khilaf yang jelas berlawanan dengan nash-nash. Contoh khilaf yang bertentangan dengan nash adalah:

1. Hukum Sholat Jum’at – Ada di kalangan ulama yang berpendapat bahwa sholat jum’at adalah fardhu khifayah. Pendapat ini menyanggahi nash, karena sholat Jum’at wajib dilakukan berdasarkan nash-nash yang jelas dari al-Quran dan sunnah.

2. Hukum Aurat Wanita Selain Arab – Syeikh Muhammad al-Tahir bin ‘Asyur r.h. (wafat 1379 H) adalah merupakan seorang tokoh besar dalam bidang Usul Fiqh dan Tafsir, pernah menyebutkan bahwa menutup aurat secara sempurna adalah budaya bangsa Arab. Jadi bangsa lain tidak terkena dengan hukum syariah ini. Pendapat beliau ini jelas menyanggahi nash-nash syarak yang mewajibkan wanita muslimah memakai jilbab.

Diringkas dari buku:
Membela Islam – Tanggung Jawab & Disiplin
Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin

Comments

comments

Share Button
(Visited 882 times, 1 visits today)