Pelajaran Dari Suratul ‘Abasa Ayat 1 dan 2

quran_abasa_1-2

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari surah ke-80 ini yaitu suratul `Abasa. Surah ini dimulai dengan dua ayat yang kebanyakan orang salah paham tentangnya:

1. Dia berwajah masam dan berpaling,
2. karena seorang buta telah datang kepadanya

Seandainya nabi Muhammad saw menyampaikan dua ayat ini kepada para sahabatnya, apakah para sahabat bisa menebak siapa orang yang disebut Allah itu? Siapakah yang dimaksudkan oleh kata “Dia”? Apakah nabi Muhammad SAW?

“Tidak mungkin. Beliau saw memiliki akhlaq yang sempurna,” mungkin begitu sanggahan para saabat.

Lalu siapa?

Ternyata yang dimaksud Allah SWT itu memang nabi Muhammad SAW.

“Loh…kalau begitu nabi Muhammad saw sedang ditegur karena bermasam muka.”

Sepintas memang seperti itu kelihatannya. Tapi kalau dibaca secara teliti ternyata Allah swt menggunakan kata ganti orang ketiga yaitu “dia“.  Apa tujuannya?

Dalam bahasa Arab, teguran dengan menggunakan kata orang ketiga dimaksudkan untuk tidak mempermalukan orang tersebut. Berbeda dengan penyebutan nama langsung seperti:

“Muhammad…kamu berwajah masam dan berpaling.”

Jika kata ini yang digunakan Allah swt, maka itu teguran yang keras dan bisa membuat malu orang yang ditegur. Dengan penyebutan kata ganti orang ketiga, sebaliknya Allah swt berkehendak menjaga muka nabi Muhammad saw.

“Kalau tujuannya untuk itu, kenapa Allah swt menurunkan surah `Abasa?” mungkin ada yang bertanya seperti itu. Mari kita tinjau latar belakang turunnya ayat-ayat tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama, para pemimpin Qurais sangatlah anti dengan dakwah beliau. Pada banyak kesempatan ada saja ulah mereka menolak seruan nabi Muhammad saw. Ulah tersebut hingga sampai kepada tahap menghina dan mempermalukan secara fisik. Pada suatu hari, para pemimpin Qurais itu ingin berbicara masalah agama dengan beliau. Tentu saja niat mereka ini disambut baik oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat antusias kepada usulan tersebut sehingga beliau bergegas menemui mereka.

Ketika sedang serius berdiskusi dengan orang kafir Qurais itu, datang seorang buta yang bernama `Abdullah bin Ummi Maktum  yang masih saudara dekat  istrinya, Khadijah ra. `Abdullah bergegas datang kepada Nabi SAW dengan langkah yang tergesa-gesa dan kemudian berbicara dengan keras kepada beliau. Maklum orang buta, karena tidak bisa melihat maka suaranya menjadi keras karena tidak yakin pendengar dapat mendengar suaranya.

Kata ‘Abdullah, “Muhammad, ajarkan kepadaku apa yang Allah telah sampaikan kepadamu“. `Abdullah mengulangnya sampai beberapa kali.

Tentu saja Rasulullah saw merasa terganggu. Hal ini ditunjukkan dengan keningnya yang berkerut ketika berpaling kepada orang buta tersebut, sebelum kembali melanjutkan pembicaraan dengan orang Quraish tersebut.

Tindakan Rasulullah saw itu sebenarnya wajar. Beliau saw merasa dakwah kepada pemimpin Quraish ini lebih mendesak daripada berbicara dengan sahabatnya ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Alasan itu masuk akal, karena mengajar sahabat itu bisa dilakukan setelah urusan itu selesai. Toh mereka tidak akan lari kemana-mana. Kita sendiri, apabila sedang sibuk berbicara dengan seseorang, lalu datang orang lain yang tidak terlalu penting memotong pembicaraan kita, biasanya kita akan memberikan orang itu isyarat agar menunggu sebentar sehingga urusan kita selesai.

Namun Allah swt berbicara, “Dia bermuka masam dan berpaling karena telah datang kepadanya orang buta.” Supaya tidak salah paham dengan ayat-ayat ini, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan “bermuka masam” atau ‘Abasa.

Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang menggambarkan kemasaman muka.

Pertama kata “Kalaha“. Kalau kata ini digunakan, maka itu berarti orang tersebut begitu kecewa sehingga paras mukanya berubah dan giginya saling bergesar untuk menunjukkan bahwa dia cukup terganggu.

Kedua adalah kata “Bassar“. Pada tahap ini, paras muka berubah menjadi jelek dan gigi saling bergeser. Keadaan ini lebih jelek dari sebelumnya.

Sedangkan yang ketiga adalah kata “‘Abasa“. Kata ini tetap menunjukkan keadaan dimana seseorang terganggu. Namun terganggunya orang tersebut tidak ditunjukkan oleh perubahan mukanya. Mukanya masih biasa saja, hanya dahinya saja yang berkerut di antara kedua alisnya. Tahap kemasaman sangat halus yang sebenarnya tidak dianggap masam oleh orang lain.

Kalau sudah memahami tahapan kemasaman muka Rasulullah saw, tentulah timbul pertanyaan, “Kalau sebenarnya tindakan Rasululla saw tidak ada yang salah, kenapa Allah swt mencela beliau dalam surah ‘Abasa ayat 1 dan 2?”

Sebenarnya Allah swt tidak mencela beliau. Perhatikan kata ganti orang ketiga yang digunakan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Ekspektasi Allah swt terhadap akhlaq beliau sangat tinggi, sehingga Allah swt tidak membiarkan sedikitpun kalau akhlaq Rasullullah saw “seolah-olah” ada cacatnya. Tingkat keasaman muka tahap ‘abasa yang menurut orang lain biasa-biasa saja, namun tidak biasa untuk standar Rasulullah saw. Jadi bukan karena Rasulullah saw telah melakukan perbuatan yang memalukan para sahabat dalam hal ini sahabat `Abdullah bin Ummi Maktum.

Ayat kesatu dan kedua ini merupakan kata pengantar bagi ayat-ayat berikutnya. Kalau sudah memahami ayat-ayat berikutnya, baru kita bisa memahami sepenuhnya bahwa Allah swt tidak mencela/menegur Rasulullah saw dalam surah ini. Mengenai hal ini akan saya jelaskan di tulisan beriktunya.

Bersambung ke bagian kedua…

Comments

comments

Share Button
(Visited 178 times, 1 visits today)