Apakah Partai Berideologi Islam Masih Diperlukan?

parti_islamIndonesia menganut demokrasi perwakilan, dimana rakyat memilih wakil-wakil mereka untuk membentuk atau mengawasi parlemen. Rakyat diberi hak untuk mengawasi melalui media yang bebas dan melakukan penilaian dalam tempo tertentu melalui pemilihan umum. Pada zaman modern ini, pemilihan bisa dilakukan melalui berbagai macam partai politik. Setiap partai memiliki ideologi yang menjadi dasar perjuangannya, program politik, ekonomi, pendidikan dan berbagai agenda masyarakat.

Rakyat bisa menukar para wakil rakyat itu melalui pemilihan umum. Oleh karena itu partai atau calon wakil rakyat tersebut diberi kesempatan untuk dinilai oleh rakyat dan juga mereka berhak membela diri melalui kampanye yang dibenarkan.

Dengan konsep tersebut, maka rakyat bebas membentuk partai politik yang berideologi apapun. Partai Islam atau partai berideologi Islam diperlukan untuk menampung aspirasi masyarakat yang tidak dapat ditampung oleh partai non-Islam. Perkara-perkara yang tidak dapat diakomodasikan oleh partai non-Islam atau sekuler adalah perlindungan terhadap agama Islam terutama perlindungan terhadap aqidah masyarakat Islam. Dimana dalam hal ini, partai sekuler cenderung menyerahkan urusan agama kepada masing-masing individu dalam masyarakat. Sehingga apabila partai ini berkuasa, mereka tidak peduli dengan urusan agama masyarakat. Seperti dalam urusan aqidah, mereka akan membiarkan aliran sesat merajalela dengan alasan itu hak masyarakat untuk memilih. Mereka juga akan membiarkan agama Islam dirusak perlahan-lahan melalui serangan pemikiran liberal. Mereka membiarkan masyarakat berada dalam kebingungan dalam memilih antara yang hak dan yang batil. Dan banyak contoh-contoh lainnya. Masalah-masalah agama itulah yang akan ditangani oleh partai Islam, selain masalah kesejahteraan yang menyangkut seloroh golongan masyarakat tanpa mengira agama, suku, dll.

Kenapa Partai Islam Tidak Pernah Menang?

Kalau masyarakat tidak mau memilih partai Islam, ini dikarenakan mereka tidak memahami apa fungsi partai Islam sebenarnya. Selain itu masyarakat pun sudah dicuci pemikirannya sejak sekian lama bahwa agama Islam jangan sampai di bawa masuk ke dalam arena politik. Ditambah lagi dengan pemahaman agama Islam yang sangat rendah. Masyarakat cuma tahu urusan sholat, puasa dan naik haji. Itupu sholatnya masih banyak yang bolong-bolong bahkan tidak sholat sama sekali.

Hasil pemilu kali ini sebenarnya bukan menunjukkan kelemahan partai Islam, tapi kegagalan dakwah di kalangan masyarakat. Untuk memenangi hati rakyat, maka dakwah harus dilakukan secara massal dan dalam waktu yang lama. Ini gunanya untuk merubah pola pikir masyarakat dari hanya mementingkan dunia saja kepada penyeimbangan antara dunia dan akhirat.

Selain dakwah secara langsung, orang Islam juga memerlukan kekuasaan untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Tanpa kekuasaan pemerintahan, tidak banyak ajaran Islam yang mampu diimplementasikan ke dalam masyarakat, kecuali hal-hal yang bersifat ibadah individu saja. Kalau sekedar itu saja, memang tidak perlu partai Islam, bahkan orang-orang Islam di negara barat pun menikmati hal tersebut. Mereka mampu memiliki mesjid, mereka boleh sholat, puasa, dll. Tapi satu kekurangannya, yaitu mereka selalu menjadi kaum yang diperintah. Dengan adanya kekuasaan pemerintahan, maka pesan-pesan yang hendak disampaikan kepada masyarakata menjadi bersifat massal dan bahkan memiliki kekuatan hukum.

Jadi kalau partai Islam haus kekuasaan, maka ini bisa dipandang dari dua sisi. Sisi pertama adalah sisi positif dimana haus kekuasaan bermaksud mereka memerlukan kekuasaan untuk melindungi agama Islam dan masyarakat Islam. Kalau partai Islam berada di dalam pemerintahan sekulerpun, apabila mereka diberi posisi-posisi penting, maka mereka mampu mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh partai sekuler yang sedang berkuasa. Kalau dilihat dari sisi negatif, mungkin mereka mengatakan partai Islam gila jabatan dan uang. Tapi sebelum kita menuduh hal tersebut, ada baiknya kita melihat perjalanan partai Islam tersebut, apakah pemimpin atau wakil-wakil rakyat mereka dipenuhi dengan kasus-kasus korupsi atau sebaliknya. Tidak adil untuk menyamaratakan semua partai Islam.

Kenapa Harus Banyak Partai Islam?

Mungkin ada yang bingung kenapa harus banyak partai Islam bukan satu saja. Sebenarnya ini wajar saja, karena partai terbentuk berdasarkan kesamaan ideologi. Pengamalan agama Islam pun banyak memiliki berbagai perbedaan.

Terkadang perbedaan-perbedaan dalam mazhab fiqh bisa menyebabkan munculnya partai Islam yang berbeda. Orang-orang yang menganut mazhab fiqh A merasa perlu untuk membentuk partainya sendiri untuk melindungi amalan-almalan agama mereka. Mereka khawatir kalau partai Islam dari penganut fiqh B berkuasa, maka mereka akan menekan amalan fiqh A. Untuk melaksanakan ambisinya, terkadang partai-partai Islam ini terpaksa bekerja sama dengan partai sekuler dan mendepak saudaranya sendiri dari partai Islam yang berlainan pemahaman fiqhnya. Ini terjadi di Indonesia dan tidak perlu diherankan. Perbedaan mazhab fiqh yang diikuti dengan kefanatikan terhadap fiqih sendiri memang bisa membawa kepada perpecahan.  Penyelesaianya adalah jangan taksub (fanatik) mazhab fiqh.

Perbedaan dalam pendekatan dakwahpun, berkemungkinan memunculkan partai Islam yang berbeda juga. Ada partai Islam yang terdiri dari orang-orang muda yang giat berdakwah. Ada partai Islam yang terdiri dari orang-orang tua jaman dulu dimana jalan pikiran mereka sudah tidak sama lagi dengan orang-orang muda sekarang, dan banyak lainnya.

Bahkan dalam urusan penentuan calon wakil rakyatpun bisa menyebabkan terbentuknya partai Islam yang baru. Contohnya kalau orang ini bergabung dengan partai Islam yang sudah mapan, kemungkinan besar dia tidak akan menjadi calon wakil rakyat. Maka lebih baik orang itu membentuk partai baru. Kasus seperti inilah yang disebut dengan gila jabatan.

Di Indonesia malah ada yang unik. Ada yang mendirikan partai Islam supaya partai Islam yang dia tuduh wahabi tidak menang. Mereka sangat takut kalau jabatan mentri agama jatuh kepada wahabi, karena kegiatan tahlil dan zirah kubur akan dilarang. Menurut mereka ziarah kubur menunjukkan tanda kesalehan seseorang.

Partai Islam yang berlainan pun bisa lahir dari ormas-ormas Islam yang berlainan. Selain bergerak di masyarakat Islam, ormas-ormas Islam itupun merasa perlu menempatkan kader-kadernya di permerintahan atau parlemen. Oleh karena itulah mereka memerlukan kenderaan yang disebut partai. Pada awalnya partai yang dibentuk oleh ormas Islam tersebut masih saling bersesuaian, tapi lama kelamaan, partai dan ormas kian menjauh karena perubahan orang maupun struktur organisasinya. Tidak usah diherankan kalau hal ini terjadi.

Partai Islam Tidak Bisa Bergerak Sendiri

Partai-partai Islam itu tidak akan dapat memenangi hati rakyat selama dakwah tidak dilakukan kepada masyarakat. Dakwah yang dimaksud di sini adalah bukan dakwah model Aa Gym atau Zainuddin MZ yang hanya menyangkut masalah hati dan akhlak, tapi lebih kepada pemahaman Islam secara keseluruhan.

Apa boleh buat inilah kelemahan demokrasi. Suara mayoritas menentukan pemimpin yang dipilih. Apabila suara mayoritas jauh dari agama, maka pemimpin yang dipilihpun jauh dari agama juga. Apabila suara mayoritas dekat dengan agama, maka pemimpin yang dipilihpun akan dekat dengan agama. Maka tidak heranlah kalau ada kelompok-kelompok Islam yang mengharamkan demokrasi karena alasan tersebut. Mereka menganggap sangat susah untuk mendorong masyarakat ke arah mendekati agama. Selain itu mereka menganggap, pada umumnya masyarakat Indonesia tidak siap dengan demokrasi karena pendidikan mereka sehingga mudah dipengaruhi oleh propaganda-propaganda media massa.

Sebenarnya kejadian yang sama juga terjadi di Thailand. Kaum kelas menengah lebih menghendaki memilih pemimpin yang lain yang mampu mengeluarkan Thailand dari krisis. Mereka sudah memiliki calon pemimpin yang dikehendaki. Tapi apa daya, kebanyakan masyarakat Thailand tidak memiliki visi yang sama dengan masyarakat kelas menengah tersebut. Akhirnya terplilih lagi Thaksin sebagai hasil propaganda media massa pemerintah. Inilah yang menyebabkan kekacauan di Thailand sampai hari ini.

Kembali lagi kepada kelompok Islam yang mengharamkan demokrasi, daripada tergantung secara penuh terhadap pilihan masyarakat, mereka menawarkan sedikit perubahan dalam memilih pemimpin.

Analoginya adalah sebagai berikut. Kalau kita membawa anak kita ke supermarket untuk membeli baju baru dan menyerahkan sepenuhnya pilihan baju kepada anak kita, apa yang terjadi? Kemungkinan besar baju yang dipilih berdasarkan iklan-iklan yang dilihat di TV ketika menonton filem kartun. Mungkin si anak akan memilih baju-baju keluaran Disney yang memang lebih mahal harganya, atau memilih baju yang tidak cocok dengan celananya, atau kalau si anak tergila-gila dengan Hannah Montana, mungkin si anak akan memilih rok mini atau celana jeans ketat, atau baju nampak pusat yang selalu dipakai oleh Hannah Montana. Ya anak kita belum mampu memilih pakaian yang baik. Oleh sebab itu sebagai orang tua, kita memilihkan beberapa baju yang bagus, dan kemudian menyerahkan kepada si anak, untuk memilih di antara yang bagus itu. Begitulah dalam memilih pemimpin. Harusnya ada sebuah panitia yang memilih calon-calon pemimpin yang bagus, dan kemudian menyerahkan kepada masyarakat untuk memilih yang terbaik.

Istiqamah Dalam Perjuangan

Istiqamah atau konsisten yang dimaksud adalah taat kepada perintah Allah tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur negatif seperti korupsi, kroni, nepotisme, dan apapun bentuk tekanan dan kepentingan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa partai-partai Islam pun berisikan manusia-manusia yang tidak terlepas dari kesalahan. Pada awalnya, partai Islam ini memiliki kader-kader yang bagus dan sangat konsisten dalam berpolitik. Mereka tidak mudah terombang-ambing dengan huru-hara politik. Mereka memiliki agama sebagai panduan dalam berpolitik.

Akan tetapi lama-kelamaan, ketika orang-orang baru mengambil alih partai politik tersebut, mungkin suasana ideal pada awal pembentukannya sudah tidak ditemui lagi. Ditambah lagi dengan tekanan-tekanan politik seperti menuduh mereka partai sekratrian, partai teroris, dsbnya, menyebabkan anggota-anggota partai politik itu terpaksa menjadi pragmatis bertahan hidup lebih lama. Partai-partai Islam ini terpaksa menyatakan sebagai partai terbuka, atau terpaksa bergabung dengan partai sekuler yang memerintah, atau malah harus menghapuskan embel-embel Islam sama sekali supaya masyarakat tidak curiga kepada mereka. Lebih jelek lagi, ada anggota-anggota dari partai Islam yang kehilangan istiqamah karena terlalu lama bergaul dengan politik atau kurangnya tarbiyah yang terus menerus.

Kepragmatisan inilah yang mungking tidak bisa dipahami oleh masyarakat Islam di Indonesia. Malah sering menjadi sasaran tembak oleh kelompok-kelompok yang tidak menyenangi Islam politik. Juga oleh kelompok-kelompok Islam sendiri. Tapi ini tidak sepenuhnya salah masyarakat. Harusnya partai-partai Islam itu sedikit berbicara, supaya tidak kelihatan plin-plan.

Jadi kesimpulannya, pemilih-pemilih partai Islam sebenarnya menginginkan partai Islam tidak terlalu paragmatis dengan mengikuti centang-perenang perpolitikan. Tetaplah istiqamah dengan tujuannya, walaupun suara yang diperoleh kecil. Karena apapun cara yang dibuat oleh partai Islam, tetap saja suara mereka kecil kalau rakyat masih jauh dari agama. Sebaliknya partai-partai Islam kemungkinan memiliki prinsip-prinsip yang lain, yaitu walaupun suara kecil tetapi tetap memiliki suara untuk menekan dan mempengaruhi keputusan pemerintah. Mereka tidak ingin menunggu sampai mendapat suara mayoritas untuk mempengaruhi keputusan pemerintah, karena mereka menyadari sangat sulit untuk mencapainya untuk kondisi masyarakat pada saat ini.

Inilah yang terjadi dengan partai yang berkuasa sekarang di Turki. Mereka pada awalnya berasal dari partai Islam yang sempat berkuasa sebentar di Turki. Tapi karena aroma Islamnya terlalu kental, maka partai Islam itu dibubarkan. Kader-kadernya kemudian memilih pendekatan lain dalam berpolitik. Mereka membentuk sebuah partai yang tidak terlalu vulgar dalam menunjukkan keislamannya, karena masyarakak Turki sudah terlalu lama dalam sistem pemerintahan sekuler. Walaupun sekuler berat, Turki ternyata tidak bisa semaju negara barat. Jadi sekuler tidaknya sebuah pemerintahan, tidak menjamin maju tidaknya sebuah negara.

Comments

comments

Share Button
(Visited 285 times, 1 visits today)