Betulkah Kisah Nabi Ibrahim as Mencari Tuhan?

Pada suatu malam, nabi Ibrahim a.s. tidak bisa tidur. Beliaupun keluar rumah. “Indah sekali bintang-bintang di langit,” kata nabi Ibrahim. “Pasti ini Tuhan,” sambung beliau lagi. Ternyata ketika bangun keesokan harinya, bintang itu sudah tidak tampak lagi. Nabi Ibrahim menjadi kecewa. Malam berikutnya , bulan purnama bersinar dengan terang. “Bulan ini bercahaya lebih terang daripada bintang. Pasti inilah Tuhan”. Nabi Ibrahim memperhatikan bulan itu hingga larut malam. Keesokan hari, bulan tersebut sudah menghilang. “Kemana Tuhanku?” tanya Nabi Ibrahim. “Tuhanku tidak mungkin tenggelam.” Siang harinya, ketika melihat matahari, Nabi Ibrahim juga menganggap matahari itu Tuhan. Akan tetapi, karena matahari itu juga tenggelam, Nabi Ibrahim kecewa. “Mereka pasti bukan Tuhan,” cetus Nabi Ibrahim. “Jadi, tidak wajib disembah.” Nabi Ibrahim yakin, Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah Swt saja.

Bagaimana? Kedengaran familiar dengan cerita itu? Apa kesimpulan yang didapat dari cerita di atas?

  1. Nabi Ibrahim beriman dengan cara berpikir terlebih dahulu, siapa yang berhak dijadikan Tuhannya.
  2. Ini berarti Nabi Ibrahim pernah menjadi atheis yaitu tidak bertuhan atau kebingungan mencari Tuhan.
  3. Ataupun musyrik, karena mengikrarkan ketuhanan bintang, bulan, dan matahari.

Mungkinkah Nabi Ibrahim pernah menjadi atheis bahkan seorang yang musyrik?

Allah berfirman dalam QS Al-Anbiya’ ayat 51: Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim Rusydahu (hidayah petunjuk kebenaran) sebelum ia mencapai umur balig (tafsir Imam Mujahid W. 104 H). Ayat ini menjelaskan bahwa sebelum Nabi Ibrahim berdakwah, ia telah diberikan iman yang kokoh dan ma’rifat/pengetahuan bahwa hanya Allah Tuhannya yang layak disembah, bukan bulan, bintang, ataupun matahari.

Perkara kedua yang perlu digarisbawahi adalah bahwa semua nabi termasuk Ibrahim terpelihara atau dijaga oleh Allah dari kekufuran, syirik, serta melakukan dosa besar dan dosa kecil yang menghinakan. Maka, mustahil bagi seorang penyampai dakwah rabaniah dan pembawa misi ilahiah tidak mengenal Tuhan yang ia sembah. Imam al-Qadli ‘Iyadl (W. 544 H/ 1149 M) mengatakan dalam kitabnya asy-Syifa : ”Sesungguhnya para Nabi itu ma’shum (terjaga)–baik sebelum maupun sesudah menjadi nabi–dari kebodohan, keraguan (walau sedikit saja) dan ketidakmengenalan terhadap Tuhan dan sifat-sifat-Nya.”

Kalau bukan begitu jalan cerita sebenarnya, dimana biang keladi penyebab kesalahan tersebut?

Ternyata kesalahan disebabkan oleh salah terjemah kalimat “Inilah Tuhanku (Hadza Rabbi)”. Padahal makna hadza rabbi bukan bermakna pernyataan, tetapi bermakna pengingkaran. Hal ini diibaratkan seperti anda melihat orang lemah yang tidak mampu berdiri, lalu anda berkata hadza nashiri (inikah penolongku?). Jadi, makna kalimat ”inilah Tuhanku” semestinya diartikan dan ditulis dengan ”Inikah Tuhanku?”

Sebenarnya Nabi Ibrahim pada saat itu sedang berdakwah kepada kaum Harran yang gandrung ilmu astronomi, bahkan mereka sampai menyembahnya (bintang, bulan, ataupun matahari). Oleh sebab itu Allah Swt mengutus Nabi Ibrahim kepada mereka dengan membawa argumentasi yang kuat, seperti apakah layak sesuatu yang terbit lalu tenggelam, sesuatu yang berubah, dan tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat untuk dijadikan Tuhan?

Dalam tafsir Jalalain [1] dijelaskan: ”Saya tidak suka sesuatu yang tenggelam untuk dijadikan Tuhan, sebab Tuhan itu tidak patut mempunyai sifat yang berubah-rubah, bertempat, dan berpindah-pindah. Karena, sifat-sifat itu hanya pantas disandang oleh makhluk.”

Sejatinya, tafsir makna surat Al-An’am 76-78 berdasarkan keterangan tersebut di atas adalah sebagaimana berikut:

Ketika malam telah menjadi gelap, Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang lalu ia menyatakan, ”Inikah Tuhanku, sebagaimana kalian kira?”.

Maka, ketika bintang itu terbenam dia menyatakan, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam” yakni layakkah sesuatu yang terbenam dijadikan Tuhan sebagaimana yang kalian yakini?

Maka, ketika kaumnya tidak memahami maksud pernyataan Nabi Ibrahim tersebut, bahkan mereka tetap menyembah bintang, Nabi Ibrahim menyatakan untuk kedua kalinya ketika ia melihat bulan dengan pernyataan yang sama ”Inikah Tuhanku?”.

Demikian Nabi Ibrahim mengulangi kembali pernyataannya ketika melihat matahari ”Inikah Tuhanku?”.

Lalu, ketika Nabi Ibrahim tidak dapat memberikan kesadaran/hidayah terhadap kaumnya, ia menyatakan kepada kaumnya, inni bariun mimma tusyrikun (Sungguh, aku berlepas diri [tidak bertanggung jawab dan tidak ikut menyembah bintang] dari apa yang kalian persekutukan).

Sebelum menutup tulisan di atas, patut direnungkan ayat al-Qur’an di bawah ini

QS Ali Imran ayat 67: Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi Muslim (seorang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (tidak pernah musyrik sama sekali baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya) .

Sudah saatnya kita membersihkan cerita-cerita yang tidak benar mengenai Nabi Ibrahim a.s, karena beliau adalah seorang rasul Allah yang selalu kita bacakan selawat setiap akhir sholat kita. Karena pengorbanannya terhadap Nabi Ismail a.s. lah yang menyebabkan umat Islam memiliki ritual haji yang besar.

[1] Karya Jalaluddin al-Mahalli W. 864 H/ 1459 M dan Jalaluddin as-Suyuthi W. 911 H/1505 M

Sumber rujukan:

http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/budaya-pariwisata/3292-meluruskan-kisah-nabi-ibrahim.html

MELURUSKAN KISAH NABI IBRAHIM

Alvian Iqbal Zahasfan

Penulis: Ketua Umum SYAHAMAH

Sumber: Harian Republika, Jumat 24 April 2009 ?

Comments

comments

Share Button
(Visited 997 times, 2 visits today)