Menotariskan Harta Warisan

“Bang, aku baru saja nelpon temanku di Jakarta,” istriku berkata.

“Hmm, apa ada yang spesial tentang temanmu itu?” tanyaku lagi. Aku menduga pasti ada sesuatu yang istriku ingin tanyakan padaku.

“Temanku itu baru menulis surat wasiat yang berbunyi kalau dia meninggal, maka segala hartanya akan jatuh ke tangan anak-anaknya. Suaminya tidak akan mendapatkan sepeserpun,” terang istriku panjang lebar.

“Wah, mana bisa seperti itu?” aku terkejut dengan penjelasannya.

“Temanmu itu sudah berbuat dosa kalau dia melaksanakan surat wasiatnya,” tambahku.

Tentu banyak yang tidak asing dengan kasus di atas, karena sering melihat filem-filem barat yang menunjukkan tata cara pembagian harta warisan yang tidak masuk akal menurutku. Ada yang menulis surat wasiat segala hartanya akan jatuh ke anjing peliharanya, karena anak-anaknya yang ada sudah tidak peduli dengan orangtuanya lagi. Ada juga yang mewasiatkan suapaya diberikan kepadaorang lain atau yayasan sosial. Padahal anggota keluarganya banyak yang membutuhkan harta warisan tersebut.

Sayangnya cuci otak melalui filem-filem barat sangat merasuk ke dalam kepala umat Islam yang lemah pengetahuan agamanya terutama masalah warisan. Bagaimana tidak? Banyak umat Islam yang tidak mengerti konsep harta warisan dalam Islam karena kelalaiannya belajar, berpaling kepada pendapat-pendapat kaum orientalis dan Islam liberal. Mereka memang giat-giatnya mempromosikan bahwa pembagian harta warisan dalam Islam adalah berat sebelah dan tidak adil bagi perempuan.

Baiklah kembali ke topik utama kita. Kalau menurut Islam, bisakah kita membuat surat wasiat kepada ahli waris kita  sendiri? Jawabannya adalah tidak, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

”Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan at Tirmidzi)

Jadi tidak dibenarkan kalau seorang istri menulis wasiat yang menyatakan bahwa semua hartanya akan jatuh ke tangan anak-anaknya. Karena wasiat tidak ditujukan kepada ahli waris. Tetapi kalau yang dimaksudkan adalah hadiah atau hibah, maka itu dibolehkan. Hibah seperti ini harus ada ijab kabul dan diterima ketika anak-anaknya hidup.

Contohnya ada seorang ibu yang memiliki 20 ekor sapi perah. Si ibu boleh menghadiahkan sapi-sapi tersebut kepada anak-anaknya dengan disertai ijab kabul. Perihal sapi-sapi yang telah dihibahkan kepada anak-anaknya itu harus ditulis hitam di atas putih dengan menggunakan jasa notaris. Kalau tidak ada bukti tertulis tersebut, ahli waris yang lain seperti suaminya sendiri, bisa menuntut bagian dari sapi-sapi tersebut. Ingat, suami berhak mendapat 1/4 dari harta warisan si istri, apabila si istri meninggalkan anak. Ini sesuai dengan firman Allah swt yang artinya:

“dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat. “ (QS. An Nisaa : 12)

Jadi nasihat saya kepada teman istriku adalah segera membatalkan surat wasiat tersebut. Kalau tidak, teman tersebut akan berdosa karena melanggar perintah Allah swt.

Sumber rujukan:

Menotariskan Harta Warisan

Comments

comments

Share Button
(Visited 344 times, 1 visits today)