Bolehkah Menjual Mobil Dengan Bonus Pekerjaan?

Ketika sedang beristirahat setelah bermain tennis, seorang kawan berkata, “Bang, saya sudah baca tulisan abang di MIIAS. Saya berencana menjual mobil dan sekaligus dengan bonus pekerjaan cleaning di sebuah perusahaan. Bagaimana itu bang, boleh atau tidak?”

“Wah…ada rupanya model seperti itu di sini,” tanyaku keheranan.

“Banyak bang,” jawabnya sambil tersenyum.

Pertanyaannya cukup rumit untuk dijawab, karena melibatkan beberapa isu.

Pertama, pekerjaan dijadikan sebagai bonus. Di sini timbul dua pertanyaan:

  1. Apakah pekerjaan itu sejenis barang?
  2. Apakah pekerjaan itu milik sendiri?

Sudah jelas pekerjaan itu bukan barang ataupun zat yang bisa diperjualbelikan dalam Islam. Apalagi dijadikan bonus, lebih membingungkan lagi.

Pekerjaan cleaning itupun bukan milik sendiri, tapi milik si empunya perusahaan. Bagaimana pekerjaan tersebut bisa dijadikan bonus, padahal bukan milik sendiri? Mungkinkah kita menjual mobil sendiri dengan bonus microwave punya tetangga?

Pekerjaan tidak bisa diperjualbelikan, tapi pekerjaan bisa ditawarkan melalui sistem makelar (perantara). Pihak pertama adalah yang mencari pekerjaan, sedangkan pihak kedua adalah yang memiliki pekerjaan. Pihak pertama meminta pihak perantara untuk mencarikan pekerjaan baginya. Si makelar setuju dengn syarat pihak pertama membayar jasa mencari pekerjaan tersebut, kalau pihak pertama berhasil memperoleh pekerjaan tersebut.

Makelar pekerjaan berkata,” Maukah kamu saya tawarkan sebuah pekerjaan dengan syarat kamu membayar saya seharga $100?”

Jadi jumlah pembayaran ini tergantung perjanjian antara si makelar dengan si pencari pekerjaan. Bisa saja si pencari pekerjaan ingin kepastian lebih lanjut dengan menambahkan syarat-syarat seperti:

“Saya bersedia membayar $100, asalkan saya berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut.”

Kalau si makelar setuju, maka aqad itu menjadi sah.

Nah dalam kasus diceritakan oleh kawan saya tersebut, sebenarnya secara tidak langsung dia menjadi makelar pencarian pekerjaan. Dia menawarkan jasa mencarikan pekerjaan cleaning bagi calon pembeli mobil.

Di sinilah muncul isu kedua, yaitu kemungkinan terjadinya dua aqad dalam satu transaksi:

  1. Aqad menjual mobil
  2. Aqad menawarkan jasa pencarian pekerjaan yang terselubung sebagai bonus

Dua aqad dalam satu transaksi adalah dilarang dalam Islam, seperti yang dinyatakan dalam dua hadits berikut.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Hibban dari Abu Hurairah ra. yang menyatakan:

Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.” (1)

Hadits dari al-Bazzar dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud dan ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah dari bapaknya dengan redaksi:

Rasulullah Saw telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).” (2)

Kalau masih bingung dengan dua aqad dalam satu transaksi, berikut ini adalah contoh-contohnya.

  1. Saya jual rumahku ini kepada anda, dengan syarat saya jual rumah saya yang lain kepada anda dengan harga sekian.”
  2. Ada MLM yang membuka pendaftaran anggota. Orang tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi anggota disertai membeli produk. Pada waktu yang sama, dia menjadi makelar bagi perusahaan dengan cara merekrut orang. Maka dalam hal ini, orang tersebut telah melakukan transaksi jual-beli dan makelar secara bersama-sama dalam satu kesatuan akad. Praktek seperti ini jelas diharamkan.

Mungkin ada yang menyanggah,”Kami baru mendengar hukum dua aqad dalam satu transaksi, jadi kami terlepasa dari dosa.”

Mari kita berdoa kepada Allah swt, mudah-mudahan kekhilafan tersebut dimaafkan oleh-Nya. Walaupun begitu, patut kita camkan perkataan Khalifah Umar Al-Khatab:

Jangan kamu masuk dalam pasar kami, kecuali kamu sudah memahami hukum agama tentangnya.”

Ini bukan bermaksud tidak boleh membeli sayur atau susu di kedai. Maknanya, kamu jangan memasuki urusan-urusan keuangan yang membingungkan dan kompleks kecuali sudah memahami hukum keuangan secara Islam.

Kembali lagi kepada pertanyaan kawan di atas, urusan jual-beli mobil dengan bonus pekerjaan ini sudah melibatkan dua aqad dalam satu transaksi. Selain dilarang dalam agama, juga dipenuhi dengan unsur ketidakpastian (gharar) yang bisa menzalimi ataupun menipu pihak pembeli. Contohnya adalah sebagai berikut:

Si Fulan berencana menjual mobilnya seharga $1000 dengan bonus pekerjaan cleaning. Ketika diperiksa di pasaran, sebenarnya harga mobil si Fulan adalah $600. Jadi yang sisa $400 itu untuk apa? Ada dua kemungkinan:

  1. Harga $1000 memang harga mobil yang sebenarnya, tapi si Fulan mengambil kesempatan atas orang yang terdesak mencari pekerjaan dengan menaikkan harga mobil di atas harga pasar. Dalam kasus ini, terjadi peningkatan harga dari $600 ke $1000, tapi dengan kualitas di bawah standar. Ini salah satu bentuk penipuan, karena barang tersebut dijual dengan harga yang tidak wajar juga mengambil kesempatan atas orang yang terdesak. Ini jelas diharamkan dalam agama.
  2. Yang $400 itu adalah harga pekerjaan tersebut, namun si Fulan tidak menyebutkan hal tersebut ketika bertransaksi. Ini berarti ada dua aqad dalam satu transaksi.

Kasus pertama lebih parah dari kasus kedua, karena selain melibatkan dua aqad dalam satu transaksi, juga ada unsur-unsur menzalimi orang lain.

Masih tidak yakin ada unsur menzalimi orang lain? Mari kita lihat kasus jual beli itu dengan sudut pandang yang lain.

Maukah kamu pekerjaan cleaning di perusahaan anu dengan syarat kamu membeli mobil saya seharga $1000?”

Bandingkan dengan yang ini.

Maukah kamu pekerjaan cleaning di perusahaan anu dengan syarat kamu membayar $100 dollar?”

Sudah jelas kita tidak akan memilih tawaran pertama yang zalim kalau tidak terdesak bukan?

Supaya lebih selamat, apa yang anda seharusnya lakukan adalah dengan melaksanakan dua transaksi yang terpisah:

  1. Transaksi pertama adalah menjual mobil seharga $600.
  2. Transaksi kedua adalah menjual jasa untuk mencarikan pekerjaan yaitu dengan imbalan $400, apabila si pencari pekerjaan berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut setelah di interview oleh si empunya pekerjaan.

Apabila si penjual menolak pemisahan transaksi tersebut dengan alasan khawatir kalau mobilnya tidak terjual, maka sebenarnya mobil tersebut tidak layak dijual dengan harga tersebut. Maka agar mobil tersebut bisa dijual dengan harga yang dinginkan, maka si penjual mengimingi dengan pekerjaan cleaning. Seharusnya, kalau harga jual mobil tersebut sesuai dengan kondisi mobil dan harga pasaran, tanpa bonus pekerjaanpun, mobil itu akan ada yang beli. Jadi kelihatan ada unsur gharar (kesamaran) yang dilarang dalam agama juga.

Sebagai tambahan, dalam hal jual-beli mobil, pastikan anda menjelaskan kecacatan yang ada pada mobil tersebut.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Halal wal-Haram fil-Islam hal 302-303, Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan:

Tidak halal bagi seseorang menjual suatu barang melainkan dia harus menjelaskan cacat barangnya; dan tidak halal bagi orang yang mengetahui hal itu melainkan dia harus menjelaskannya. (3)

Ibnu Sirin pernah menjual seekor kambing, lalu dia berkata kepada calon pembelinya, “Saya akan menjelaskan cacat pada kambing saya ini, yaitu kakinya cacat.”

Al-Hasan bin Shalih pernah menjual budak, lalu dia berkata kepada calon pembelinya, “Dia pernah mengeluarkan darah dari hidungnya satu kali.”

Walaupun hanya sekali, jiwa seorang Mu’min merasa tidak enak kalau tidak menyebutkan cacat barangnya, meskipun akan mengurangi harganya.

Alhamdulillah, saya mendapat email dari kawan saya yang di atas itu yang beirisikan:

Untuk kasus saya, kemaren saya sudah ngomong dengan orang yang beli mobil, bahwa saya tidak menjanjikan pekerjaan dan itu terlepas dari transaksi jual beli mobil. Cuma saya akan usahakan berbicara dengan pemilik pekerjaan klo bisa pekerjaan saya bisa digantikan sama dia. Dia mengerti dan sudah bilang kalau dia memang berniat mau beli mobilnya saja. Harganya juga sdh saya turunin jauh dari harga yang sebenarnya“.

(1) Lihat, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, t.t., juz II, hal. 366; at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1994, juz IV, hal. 346; Ibn Hibban, Shahih Ibn Hibban, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, t.t., juz V, hal. 165; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, Dar al-Fikr, Beirut, t.t., juz VIII, hal. 258; an-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, t.t., juz VII, hal. 340.

(2) Lihat, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, t.t., juz I, hal. 657; al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, Maktab al-‘Ulum wa al-Hikam, 2003, juz V, hal. 384.

(3) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi. Takhrij no.339
Referensi:

Hukum Syara’ Seputar MLM

Hukum Promosi Menggunakan Hadiah

Comments

comments

Share Button
(Visited 154 times, 1 visits today)