Menjual Barang Dengan Iming-Iming Hadiah

“Di, biasanya kalau ada mahasiswa yang mau pulang ke Indonesia, dia akan menjual mobilnya dengan bonus pekerjaan part-time nya,” kata temanku pada suatu hari.

“Ah mana bisa begitu. Masak ada bonus pekerjaan, baru dengar aku kasus seperti ini,” aku bertanya dengan keheranan. “Ada sesuatu yang fishy dengan cara penjualan seperti ini.”

“Apakah harga mobilnya sesuai dengan harga pasaran atau lebih mahal?” tanyaku lagi.

“Lebih mahal dari pasaran,” jawabnya.

Wah, berarti memang benar tebakanku.

Ada beberapa jenis menjual barang dengan iming-iming hadiah. Ada yang dibolehkan ada juga yang tidak. Bagaimana dengan kasus di bawah ini?

Seorang bekas mahasiswa menjual sebuah barang dengan iming-iming sebuah hadiah atau bonus. Atau dengan kata lain, kalau beli barang ini, maka kamu akan mendapatkan sebuah bonus. Sekilas pandang, kelihatannya transaksi ini tidak bermasalah. Cuma kalau mau ditelusuri lebih jauh, bisa-bisa transaksi ini tidak sah menurut rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli dalam Islam.

Suatu transaksi perdagangan dinilai sah dan halal jika memenuhi rukun-rukun (unsur-unsur) dan syarat-syarat jual beli sebagai berikut:

  1. Rukun jual beIi ada 4 yaitu: adanya pihak penjual (al-ba’ii’), pihak pembeli (al-musytari), barang yang diperjualbelikan (al-mabi’) dan transaksi (`aqd).
  2. Transaksi antara pihak penjual (al-ba’ii’) dan pembeli (al-musytari) harus dilakukan atas dasar suka sama suka (`an taraadh), dan tidak ada paksaan.
  3. Barang yang diperjualbelikan (al-mabi’) harus suci dan mempunyai nilai manfaat.
  4. Barang-barang tersebut diperjualbelikan dengan harga yang wajar.
  5. Barang yang diperjualbelikan (al-mabi’) harus transparan sehingga tidak ada unsur kesamaran (gharar), atau penipuan (al-ghasy), atau pengkhianatan (al-khiyanah). Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagai berikut: “Rasulullah SAW melarang terjadinya transaksi jual beli yang mengandung gharar“.

Untuk memastikan urusan jual-beli dalam contoh di atas memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli, maka perhatikan ciri-ciri di bawah ini.

  1. Apakah harga barang tersebut jauh di atas harga pasaran dengan kata lain sesuai dengan kualitas barang tersebut? Kalau betul, maka sesunguhnya si penjual telah memasukkan harga hadiah ke dalam harga yang ditawarkan tersebut. Kita tahu pasti, harga barang itu hanyalah sekitar $200, tapi karena ingin menjualnya dengan lebih mahal, maka si penjual mengiming-imingi dengan sebuah hadiah, sehingga harga barang tersebut menjadi $500. Ini jelas ada unsur kesamaran, penipuan atau pengkhianatan dalam transaksi tersebut. Dengan kata lain sebenarnya ada dua akad dalam satu transaksi. Rasulullah Saw melarang dua akad dalam satu transaksi (Muslim 3/1565, Nasa’i 7/4674, Ibnu Majah 2/2477) karena di dalamnya terdapat suatu kesamaran, tipuan, kelaliman, aib, kerancuan pada ungkapan penawaran dan besar kemungkinan terjadi kecurangan.
  2. Dengan peningkatan harga dari $200 ke $500, maka kualitas yang diperjualbelikan tidak sesuai dengan standard dan harga pasaran. Dengan kata lain barang tersebut diperjual-belikan dengan harga yang tidak wajar.
  3. Jika pembeli lebih tertarik dengan hadiah tersebut, dibandingkan dengan barang yang dijual, maka sesungguhnya barang yang dijual tersebut tidak memberi manfaat kepada si pembeli. Pembeli membeli barang tersebut hanya karena ngiler dengan hadiah atau bonus yang dijanjikan tersebut. Tingkah si penjual tersebut akan menimbulkan perbuatan israf dan menyia-nyiakan harta bagi si pembeli.

Comments

comments

Share Button
(Visited 192 times, 1 visits today)