Menjatuhkan Pemimpin Yang Zalim

kerusuhan_jakartaKetika seorang pemimpin zalim, banyak rakyat yang berpikir untuk menjatuhkannya segera. Kalau tidak berhasil dengan cara damai, maka kekerasanlah yang dipakai sebagai jalan penyelesaian. Mereka berpikir setelah jatuh pemimpin zalim itu, maka keadaan langsung berubah dengan sekelip mata, dari buruk menjadi lebih baik. Mereka melupakan proses transisi yang menyebabkan suasana tidak stabil untuk beberapa waktu. Keadaan tidak stabil ini mungkin bisa berlangsung selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun.

Ambil contoh kasus kejatuhan Suharto. Suharto dipilih melalui pemilu yang merupakan tonggak demokrasi walaupun banyak yang berkata pemilu yang dilaksanakan penuh dengan kecurangan. Menjatuhkannya tanpa memakai sistem pemilu, menyebabkan negara menjadi kacau dan tidak stabil. Setelah jatuhya era Suharto, apa yang sekarang rakyat nikmati? Apakah mereka makin senang hidupnya karena seorang tirani telah tumbang atau tidak ada peningkatan kualitas hidup sama sekali, atau malah makin susah hidupnya? Kalau ditanya kepada rakyat biasa, maka biasanya mereka akan menjawab hidup mereka bukannya makin mudah, malah semakin susah. Mereka jadi merindukan masa-masa kehidupan di jaman Suharto. Walaupun Suharto dan kroni-kroninya pada korupsi, tapi itu tidak menyentuh rakyat kebanyakan secara langsung. Malah setelah era Suharto, korupsi makin menjadi-jadi dan semakin terbuka. Tentu saja gerutuan rakyat ini bakalan ditampik oleh pahlawan-pahlawan reformasi yang mengatakan bahwa demokrasi semakin baik di Indonesia setelah Suharto jatuh. Tapi apakah rakyat biasa pedulu dengan demokrasi? Yang mereka peduli adalah perihal kehidupan mereka, istri mereka, anak-anak mereka, dsb.

Mengenai isu kezaliman pemerintah muslimin, mayoritas ahlussunnahwaljamaah (ASWJ) berdiri di atas jalan islah, nasihat, tajdid atau wasitiiyah (pertengahan). Jika kita rasakan menggulingkan penguasa itu akan mendatangkan kemudharatan yang lebih besar, maka kesabaran itu lebih baik berdasarkan hadis Ummu Salamah yg dinukil oleh Ibn Taymiyah (al Ame bil Ma’aruf wa Nahy ‘anil Mungkar), supaya kita bersabar terhadap pemerintah zalim itu selagi dia masih solat.

Bagaimana dengan kasus Iraq? Mengenai Iraq, walaupun Saddam itu dzalim, tapi fiqih Islami tidak mengizinkan dia digulingkan oleh musuh Allah dan Rasul-Nya kerana ia membuka kepada penjajahan dan kehinaan Islam. Buktinya bisa dilihat dengan kondisi Iraq sekarang (Eramuslim Online).

“Awalnya, rakyat Irak memaknai jatuhnya kota Baghdad ke tangan pasukan AS sebagai berakhirnya penderitaan hidup, berakhirnya sebuah penjara besar yang diciptakan Saddam Hussein terhada kami. Tapi ternyata, pasukan AS melakukan hal yang sama dengan Saddam pada kami,” keluh Lattifah Muhammad, seorang guru SMP di kota Baghdad.

“Saya merindukan Baghdad di masa lalu. Saya bisa pergi dan duduk di pinggir danau tanpa merasa was-was jika sewaktu-waktu bom meledak atau ada seseorang yang akan menculik anak kami,” sambung Lattifah, ibu dari tiga anak.

Keluhan serupa disampaikan Ala’a Abdel Kareem, seorang pemilik toko. “Saya ingat, waktu itu saya duduk di sofa sambil menonton televisi, menyaksikan kejatuhan Baghdad. Saya dan keluarga sangat bahagia seolah-olah kami mendapatkan uang jutaan dollar. Tapi kebahagiaan itu tidak lama. Kami kemudian menyadari, hidup dibawah rezim diktator ternyata lebih baik dibandingkan hidup dibawah penjajahan AS,” kenang Abdel Kareem.

Pada awalnya mereka gembira kalau pemimpin zalim Iraq ditumbangkan. Tapi mereka lupa siapa yang menumbangkannya. Mereka lupa yang menumbangkannya Saddam ingin jerih payahnya terbalas entah itu dengan keuntungan ekonomi bagi mereka ataupun penanaman ideologi asing bagi rakyat Iraq.

Kita bisa juga melihat kasus negara non-Muslim sperti apa yang terjadi di Thailand sekarang ini. Kekacauan demi kekacauan terus berlangsung hingga sekarang. Penyebabnya apa lagi kalau bukan menurunkan pemimpin tidak berdasarkan undang-undang di negara tersebut. Pemimpin yang dipilih melalui pemilu, tapi diturunkan oleh demonstrasi rakyat. Kemudian muncul pemimpin baru. Tapi pemimpin baru inipun kemudian digoyang kembali sama rakyat yang tidak puas dengan penurunan secara paksa pemimpin sebelumnya. Akhirnya berputar-putar disitu saja, tidak ada habisnya.

Comments

comments

Share Button
(Visited 389 times, 1 visits today)