Memang Betul Al-Qur’an Sudah Berubah Menurut Syi’ah

haidar_bagir

Dalam usaha membingungkan kaum Sunni, kaum Syi’ah menyembunyikan fakta bahwa kitab-kitab dan ulama-ulama mereka ada menyebut bahwa al-Qur’an versi Syi’ah tidak sama dengan versi Sunni. Seperti yang dikatakan oleh Haidar Bagir.

Haidar Bagir memang tidak memungkiri bahwa ada anasir ulama syiah di berbagai zaman yang mempercayai dan berargumentasi soal ini. Namun ia berpandangan bahwa keyakinan tahrif itu tidak diterima luas dan justru jumhur ulama syiah meyakini sebaliknya, bahwa Al-Qur’an mushaf Usmani ini sudah lengkap dan sempurna.

Argumen bung Haidar itu sangat mudah dipatahkan oleh Fahmi Salim (Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat).

Menurut Fahmi Salim, jika memang benar demikian adanya, mengapa Adnan Al-Bahrani, seorang tokoh syiah kontemporer, masih menyatakan pendapat bahwa Al-Quran telah mengalami distorsi dan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang Islam (Ahlusunnah) adalah konsensus dalam sekte syiah, dan pengetahuan yang pasti dalam mazhab mereka. (lihat buku Mungkinkah Sunah-Syiah dalam Ukhuwah?! hlm.302)

Karena sudah jadi hal yang aksiomatis, maka upaya untuk menutup-nutupi keyakinan tersebut dengan cara taqiyah yang sering dilakukan syiah kontemporer adalah sia-sia. Seorang ulama syiah terkemuka, An-Nuri At-Thabarsi bahkan telah membahasnya tuntas soal tahrif itu dalam buku yang tebal berjudul, Fashl Al-Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabb Al-Arbab. Di dalam buku itu, terhimpun lebih dari 200 riwayat yang membenarkan distorsi dalam Al-Qur’an. Bahkan di bukunya itu Nuri at-Thabarsi mengutip 40 nama ulama imamiyah yang meyakini doktrin tahrif Al-Qur’an itu. Jadi mana yang bisa kita percaya, Haidar Bagir atau Nuri at-Thabarsi?

Selain Nuri Thabarsi, ada sederet nama-nama pemuka syiah dari berbagai periode sejarah yang juga tegas menyatakan terjadinya tahrif. Setidaknya itulah hasil penelitian yang dilakukan Prof. Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi (Maktabah Syamilah ed.2) . Ia menjelaskan bahwa pernyataan adanya tahrif itu diungkapkan oleh lebih dari 30 ulama imamiyah seperti:

Fadhl ibn Syadzan an-Naisaburi (w.260 H) di kitab Al-Idhah hlm.112-114,
Furat ibn Ibrahim Al-Kufi (ulama abad ke-3 H) di kitab Tafsirnya vol.1/18,
Al-‘Ayasyi dalam Tafsirnya vol.1/12-13 dan 47-48,
Abu Al-Qasim Ali ibn Ahmad Al-Kufi (w. 352 H) dalam kitab Al-Istighotsah min Bida’ Al-Tsalatsah vol.1/51-53,
Muhammad ibn Ibrahim An-Nu’mani di kitab Al-Ghaibah,
Abu Abdillah Muhammad ibn an-Nu’man Al-Mufid (w. 413) di kitab Awa’il Al-Maqalat,
Abu Manshur Ahmad ibn Ali At-Thabrisi dalam kitab Al-Ihtijaj vol.1/240, 245, 249,
Abu Al-Hasan Ali ibn Isa Al-Irbili (w. 692) dalam Kasyfu Al-Ghummah fi Ma’rifat Al-Aimmah vol.1/319,
Al-Faidh Al-Kasyani (w. 1091) dalam Tafsir As-Shofi vol.1/24-25 dan 32-33,
Muhammad ibn Hasan Al-Hur Al-Amili (w. 1104) di kitab Wasa’il As- vol.18/145,
Hasyim ibn Sulaiman Al-Bahrani (w. 1107) dalam Tafsir Al-Burhan vol.4/151-152,
Muhammad Baqir Al-Majlisi (w. 1111) dalam Bihar Al-Anwar dan Mir’atu Al-Uqul vol.12/525,
Ni’matullah Al-Musawi Al-Jazairi (w. 1112) di kitab Al-Anwar An-Nu’maniyah vol.2/360-364,
Yusuf ibn Ahmad Al-Bahrani (w. 1186) di kitab Al-Durar An-Najfiyyah hlm.294-296.

Lebih dari fakta itu semua, jika merujuk kitab Al-Kafi (ditulis oleh Abu Ja’far Al-Kulaini w. 329) yang diakui sebagai kitab hadits induk yang paling sahih dengan riwayat mutawatir dan disusun pada masa Ghaybah Shugro dari Imam yang ke-12 yaitu Al-Mahdi, dapat kita jumpai keyakinan adanya tahrif dengan nada bahwa tak ada yang mengumpulkan dan menghafal Qur’an persis seperti yang diwahyukan oleh Allah kecuali Ali bin Abi Thalib dan imam-imam setelahnya (vol.1/228), atau para imam yang mendapat wasiat, dan jumlah ayatnya adalah 17.000 ayat (vol.2/634) yang turut hilang dibawa Imam ke-12 Al-Mahdi dan baru akan hadir lagi saat beliau kembali dari ghaybah-nya.

Patut disayangkan, saat Bung Haidar mengatakan jumhur ulama syiah sepakat bulat bahwa Al-Qur’an mushaf usmani yang ada sekarang ini lengkap dan sempurna, ia tidak menyebutkan sumber-sumber primer dalam dakwaannya itu. Itulah agaknya tren perspektif baru tentang syiah yang ingin mengesankan bahwa sunni – syiah sepakat tidak adanya ajaran tahrif terhadap Al-Qur’an yang ada sekarang. Namun data-data yang kami kemukakan agaknya bertolak belakang dengan pernyataan beliau.

Sumber: Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat, Bantahan Artikel Haidar Bagir – Oleh Fahmi Salim

Comments

comments

Share Button
(Visited 372 times, 2 visits today)