Suara Nyinyir Terhadap LHI dan PKS

LHI ditangkap, suara yang bergemuruh; “Pembubaran PKS!”

LHI disidang, suara yang riuh, “PKS harus tobat!”

LHI divonis, suara yang ricuh, “PKS harus back to tarbiyah (pembinaan). Jangan buru-buru berkuasa!”

Penangkapannya SUPERCEPAT, mengalahkan kereta supercepat Jepang. Persidangannya pun Sangat Singkat, mengalahkan mesin penembus waktu. Vonisnya pun sangat dahsyat, mengalahkan juragan koruptor.

Saat ada yang membela, disebutnya fanatik buta.
Saat ada yang mempertanyakan, disebut kader puritan.

Saat kader PKS solid, keluarlah ayat: “Kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun.”
Saat kader PKS balas membuka file negatif orang lain, keluarlah hadis, “Iyyaakum wadzhhanna fainnadzzhanna akzabul hadis.”

Saat kadernya introspeksi, suara nyinyir kembali mustanir, “Alaah … demokrasi itu sudah haram! Najis! Thogut! Mending seperti kami, gak masuk Pemilu tapi bisa menikmati jadi PNS.”

Anehnya, ada juga yang bilang, tarbiyah itu harus jauh dari politik yang identik dengna perebutan kekuasaan. Padahal dengan berkuasa, tarbiyah bisa lebih nyata mengabdi. Perbaikan ke dalam tidak berarti harus menghentikan langkah dan kembali ke masa lalu. Introspeksi itu bukan cerminan dari kegagalan, tapi cermin dari kesadaran.

By: Doa Mustajab Sang Musafir

Comments

comments

Share Button
(Visited 135 times, 1 visits today)