Laskar Pelangi: Baguskah?

Pertama kali mendengar Laskar Pelangi adalah dari sebuah milis Indonesia di Adelaide. Kedua kali mendengar Laskar Pelangi adalah di milis anak Aceh Malang. Sebagian anggota milis merekomendasikan utuk membaca novel ini katanya lucu. Setelah itu saya melupakan novel tersebut karena kesibukan yang mendalam. Lagipula saya tinggal di luar negeri yang tidak mungkin mendapatkan novel-novel Indonesia.

Tapi kalau memang sudah takdir, tanpa kita cari, bukunya muncul sendiri. Ceritanya kita sedang bertamu ke rumah sebuah keluarga indonesia untuk meminjamkan ayat-ayat cinta punya kita. Sambil santai duduk di ruang tamunya, saya melihat sekilas sebuah buku tebal yang berjudul Laskar Pelangi. Yah kebetulan, saya sekaligus pinjam aja bukunya.

Setelah beberapa hari buku itu berada ditangan kita, baru kita sadar bahwa kita membaca novel itu pada saat yang tidak tepat. Kenapa ya? Alasannya karena kita baru saja selesai membaca ayat-ayat cinta. Asumsi saya kalau novelnya bagus dan populer, maka gaya ceritanya pasti seperti ayat-ayat cinta, karena ayat-ayat cinta novel bagus dan populer. Ternyata saya salah besar. Gaya Laskar Pelangi sangat berbeda dengan Ayat ayat cinta.

Istri saya bukan peminat novel. Ayat-ayat cinta adalah novel yang pertama dia baca. Dan seperti yang telah bisa diduga berdasarkan pengalaman orang lain, istri saya kepincut dengan novel tersebut dan tidak mampu berhenti sampai tamat bacanya. Nah dalam kondisi itulah, istri saya mencoba membaca Laskar Pelangi. Setelah membaca beberapa halaman, dia melapor kepada saya dan mengatakan bahwa dia tidak suka membaca Laskar Pelangi. Masak sih, kata saya. Itukan novel terkenal. Saya tidak percaya dengan komentar istri saya dan memutuskan untuk membacanya juga. Mau tidak mau saya harus bersetuju dengan istri saya. Laskar Pelangi jauh dari asumsi saya. Terlalu sedikit dialog dalam novel tersebut dan terlalu banyak gaya bercerita yang rumit (metafora yang berlebihan) menurut saya. Akhirnya kita biarkan saja novel itu tergeletak di meja selama beberapa minggu sebelum kita kembalikan kepada yang empunya.

Beberapa bulan kemudian karena ketiadaan novel untuk dibaca, saya memutuskan untuk membaca kembali Laskar Pelangi. Sangat menakjubkan, karena kali ini saya mampu menghabiskan novel itu tanpa pengaruh bias dari ayat-ayat cinta.

Tema novel ini cukup bagus. Ia menceritakan kisah kehidupan melayu yang miskin di pulau belitung. Proyek pertambangan timah yang dibangun di belitung tidak terlalu memberi keuntungan bagi penduduk pulau itu kecuali makin melebarnya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin, pekerja atas dan pekerja bawahan di pabrik timah itu, ataupun antara penduduk lokal dengan pekerja pabrik timah tersebut.

Emmm…kelihatannya saya pernah melihat kondisi yang sama itu di Aceh. Ya itulah kondisi sosial yang terjadi di sekitar pertambangan LNG Arun Lhokseumawe Aceh. Atau di daerah-daerah lain di Indonesia yang kaya dengan bahan tambang seperti Kalimantan dan Irian yang penduduknya masih tetap bodoh dan miskin walaupun pertambangan itu berjalan puluhan tahun.

Selain menceritakan kondisi pekerjaan di pulau belitung, novel ini juga menceritakan masalah pendidikan bagi masyarakat miskin. Dengan kondisi sekolah yang seadanya, namun dengan guru yang idealis, sekolah Muhammadiyah masih mampu memberikan pendidikan kepada anak-anak muridnya.

Sekolah Miskin

Cerita dimulai ketika sekolah Muhammadiyah memasuki tahun ajaran baru. Seharusnya para guru gembira dengan dimulainya tahun ajaran baru karena mereka akan berjumpa dengan murid-murid baru. Tapi lain halnya dengan sekolah Muhammadiyah di pulau Belitung. Sekolah ini terancam bubar apabila jumlah murid yang mendaftar tidak mencapai 10 orang. Sejauh ini baru ada 9 orang yang mendaftar, tinggal satu orang lagi. Ketika para guru mulai putus asa, datanglah seorang murid baru yang cacat mental. Murid cacat mental ini menjadi penyelamat atas kelangsungan hidup sekolah Muhammadiyah.

Sepertinya saya sudah pernah membaca kisah seperti ini. Ya tidak salah lagi, saya pernah melihat sebuah drama Jepang, dimana para guru di sebuah pulau terpencil berusaha mencari murid sekolah dasar paling kurang dua orang agar sekolah itu tidak ditutup. Salah seorang penduduk pulau itu sampai jauh-jauh pergi ke Tokyo untuk memujuk cucu perempuannya yang bandel karena kurang perhatian dari ibunya agar mau sekolah di pulau itu. Akhirnya sang cucu bersedia pindah ke pulau itu dan menjadi penyelamat sekolah dasar tersebut. Awal yang serupa tapi tidak sama antara Laskar Pelangi dan drama Jepang itu.

Kisah Cinta Remaja Yang Cukup Menganggu

Walaupun novel ini cukup bagus, namun ada bagian dari novel itu yang cukup mengganggu dan tidak sedap dipandang mata yaitu tentang kisah cintanya si Ikal yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Entah apa maksud sipenulis dengan memasukkan kisah cinta itu. Mungkin dengan anggapan, belum dikatakan novel kalau tidak ada kisah cinta walaupun sedikit. Orang-orang akan beralasan itulah kehidupan yang sebenarnya. Semuanya harus diceritakan walaupun kisah itu tidak baik kalau dipandang dari sisi agama terutama agama Islam.

Baikkah kalau seorang anak kecil sudah mulai pacaran? Secara tidak langsung si penulis mempromosikan bahwa pacaran bagi anak kecil yang baru menginjak masa remaja adalah sesuatu yang alami. Makanya si penulis banyak menghabiskan kata-kata untuk menggambarkan kisah cinta si Ikal. Padahal kalau menurut saya, kisah cinta si Ikal ini tidak lain dan tidak bukan adalah ”nafsu” itu sendiri. Tidak percaya? Coba baca cuplikan ceritanya:

Yang terlihat hanya sebuah tangan halus yang putih bersih. Dibalik kesan yang garang itu, di ujung jari-jemari lentik tertanam paras-paras kuku yang indah luar biasa, terawat amat baik. Wanita ini memiliki aura yang melumpuhkan. Tatapan matanya mencengkram hatiku. Bajunya ketat dan bagus. Kini aku dilanda rindu pada nona kuku cantik. Aku rindu pada wajahnya, kukunya, dan senyumnya.

Jatuh cintanya si Ikal dengan dengan perempuan ini adalah karena nafsu bukan karena cinta yang sebenarnya. Namun karena lokasi ceritanya disebuah kepulauan Melayu yang miskin, maka cinta nafsu ini tidak berlanjut kepada sex bebas, hanya sebatas pegang-pegangan tangan dan berdua-duaan ditempat yang sunyi. Hanya tinggal sedikit lagi menuju zina.

A Ling menarik tanganku, lari meninggalkan kelenteng menuju kebun kosong tak terurus. Kami merebahkan diri kelelahan.

Sangat kontradiksi dengan pendidikan agama yang telah ditanamkan sejak awal bersekolah di Muhammadiyah dan juga mengaji di surau. Apakah ini menunjukkan kelemahan pendidikan agama di Indonesia? Yaitu dengan tidak mengajarkan bagaimana hubungan lelaki dan perempuan yang dibenarkan dalam Islam. Padahal ini masalah yang sangat penting. Salah dalam berhubungan dengan lawan jenis akan menimbulkan berbagai macam masalah sosial yang dasyat.

Masalah percintaan ini juga bisa mengganggu urusan belajar. Ini dengan baik digambarkan oleh si penulis ketika menceritakan kegelisahan hati Ikal ditinggalkan oleh kekasihnya ke Jakarta.

Tiba-tiba aku disergap oleh perasaan sunyi yang tak tertahankan. Rasanya di dunia ini hanya aku satu-satunya makhluk hidup. Dan juga, laksana film India, perpisahan itu membuatku sakit. Selama dua hari aku sudah tidak masuk sekolah. Maunya hanya tergeletak saja ditempat tidur. Kepalaku berat, napasku cepat, dan mukaku memerah.

Penyelesaian penyakit patah hati adalah sangat mudah dalam novel ini, yaitu dengan sebuah hadiah buku dari Ai Ling mengenai Endensor sudah cukup untuk memulihkan Ikal dari sakit patah hatinya dan meningkatkan motivasi untuk suatu saat mengunjungi Endensor. Kegagalan cinta pertama Ikal ini memacunya untuk belajar lebih keras lagi. Apakah hal ini terjadi di alam nyata? Berapa banyak yang menggunakan alasan putus cinta sebagai motifasi belajarnya?

Jadi saran saya, jangan coba-coba pacaran ketika sekolah. Selain melanggar agama Islam juga menyebabkan prestasi belajar menjadi merosot. Kalau sudah sampai waktu menikah, baru anda mencari calon yang sesuai dan ajaklah menikah langsung. Jangan sampai berdua-duaan. Bahaya.

”Tapi bang, kalau kita tidak pernah pacaran, mana mungkin kita mendapatkan calon yang kita idam-idamkan?”

Atau komentar lain:

”Malulah kita bang. Semua sudah punya pacar, kecuali saya sendiri. Jadi buat tidak PD aja”.

Persepsi di atas terbentuk karena pikiran kita sudah dipengaruhi oleh filem-filem cinta atau novel-novel cinta remaja. Kalau tidak pacaran berulang kali maka anda sulit mendapatkan calon ideal anda.

Jangan khawatir, pada saatnya anda akan berjumpa dengan jodoh anda. Caranya dengan memperbanyak kenalan melalui kegiatan-kegiatan organisasi misalnya. Atau minta tolong dicarikan oleh orang-tua atau saudara-saudara kita. Tidak perlu malu minta tolong mereka untuk mencarikan calon untuk kita. Atau kalau anda terlibat di pengajian-pengajian, kemungkinan anda bisa mendapatkan calon dari pengajian tersebut. Banyak jalan untuk mendapatkan jodoh. Tidak perlu pacaran.

Masalah Perdukunan

Klenik, perdukunan, supranatural adalah hal-hal favorit bagi masyarakat Indonesia. Kalau tidak percaya, coba lihat acara-acara TV, majalah-majalah, koran-koran yang mengangkat cerita mistis itu laris manis. Ini sebenarnya menandakan masih lemahnya kebanyakan aqidah masyarakat Indonesia. Jadi tidak heran kalau pengarang Laskar Pelangi memasukkan sedikit alur cerita yang berhubungan mistis dan perdukunan.

Kisahnya dimulai ketika Mahar, Flo dan Ikal terlibat dengan sebuah organisasi rahasia yang bernama Societeit de Limpai. Organisasi ini ingin membongkar rahasia fenomena ganjil dengan cara:

  • melakukan ekspedisi ke daerah2 angker
  • menyelidiki kejadian-kejadian mistik
  • berdiskusi dengan para spiritual
  • memetakan mitologi lokal

Mereka menggunakan metode ilmiah menurut versi mereka sendiri dan dilengkapi dengan audio-video, perangkat sensor, dan berbagai jenis teropong. Sayangnya mereka juga turut melengkapi dengan bahan-bahan yang digunakan oleh para dukun seperti kemenyan, gaharu, jimat telor biawak, buntat penangkal bala, serta seekor ayam kete. Padahal jimat itu sendiri dilarang di dalam Islam.

Masuk akal kalau Mahar dan Flo bergabung dengan organisasi aneh itu, karena mereka memang percaya dengan hal-hal klenik sebelumnya. Akan tetapi berlainan halnya dengan Ikal. Saya tidak mendapat penjelasan dalam novel itu kenapa Ikal ingin bergabung dengan organisasi tersebut sebagai sekretaris. Padahal Ikal tidak terlibat dengan hal-hal mistis sebelumnya. Saya menebak keikutsertaan Ikal karena unsur petualangan yang ditawarkan oleh organisasi itu.

Nilai-nilai ulangan Mahar dan Flo hancur karena sulit berkonsentasi karena terikat dengan komitmen-komitmen organisasi dan tergila-gila dengan mistik. Mereka mencari jalan keluar mengatasi kemerosotan nilai sekolah melalui dunia gaib perdukunan. Mereka yakin bahwa kekuatan supernatural dapat memberi mereka solusi gaib atas nilai-nilai anjlok di sekolah. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menemui Tuk-Bayan-Tula di pulau Lanun. Tuk-Bayan-Tula ini seorang dukun kesohor dan terkenal dengan kehebatan ilmu ghaibnya.

Para anggota organisasi tersebut melakukan pelayaran menuju pulau Lanun tersebut. Mereka sempat terjebak di dalam badai yang dasyat. Saya yakin episode bertualang ke pulau Lanun ini bukan kisah nyata si penulis, karena terlalu berlebihan dan hanya bisa ditemui di novel-novel petualangan seperti Lima Sekawan atau Indiana Jones misalnya.

Salah satu sebab kenapa saya katakan petualangan di pulau Lanun adalah karangan si penulis adalah adanya perkelahian antara Tuk-Bayan-Tula dengan puluhan sosok bayangan lelembut berbentuk seperti jasad terbungkus kain kafan. Setelah kalah berkelahi, hantu-hantu ini beterbangan melesat keluar gua. Cukup bombastis.

Bukan tidak bisa kita melihat hantu sebenarnya. Hantu adalah jin yang berusaha menyerupai manusia, tapi gagal dalam penyerupaannya sehingga mereka kelihatan menakutkan. Cuma cerita hantu di pulau Lanun cukup berlebihan. Cerita ini makin meyakinkan orang awam agama supaya mereka takut pada kewujudan hantu.

Apa yang diharapkan oleh Mahar dan Flo supaya pak dukun memberikan jimat atau mantera-mantera untuk mengubah nilai ujian mereka yang jelek tidak menjadi kesampaian. Sebaliknya pak dukun menyarankan mereka untuk belajar kalau ingin lulus ujian. Saya serasa tidak percaya ketika membaca penggalan cerita ini. Soalnya adakah seorang dukun hebat yang menyarankan pelanggannya untuk rajin belajar kalau lulus ujian. Biasa seorang dukun akan memberikan berbagai macam jimat, air jampi, mentera atau apa saja untuk menolong pelanggannya. Apakah penulis kekurangan ide untuk menamatkan bagian ini?

Para anggota organisasi terkejut dengan saran pak dukun yang tidak mereka sangka-sangka. Mereka mendapat pencerahan dari tokoh dunia klenik. Mereka mendapat hidayah akibat perjumpaan itu. Bagian ini juga saya tidak berapa yakin. Adakah orang yang mendapat hidayah setelah mendatangi dukun yang menyarankan mereka untuk belajar supaya sukses?

Penulis memberikan alasan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjemput hidayah bukan menunggunya karena mereka menempuh bahaya untuk mencari kebenaran hakiki, memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos dan memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Penulis menggambarkan bahwa para anggota organisasi itu menjadi sadar bahwa mitos-mitos atau klenik-klenik yang selama ini berkembang di masyarakat adalah tidak benar.

Di akhir cerita bagian perdukunan, semua anggota Societeit de Limpai menjadi orang Islam yang taat dan aktif berdakwah dan mengislamkan komunitas-komunitas terasing di perairan Bangka dan Belitung. Terlepas dari masuk akal atau tidaknya penggalan cerita ini, moral yang didapat adalah jangan coba-coba berhubungan dengan dunia klenik, mistis, perdukunan atau sebagainya, karena itu semua tidak benar dan melanggar akidah. Bagian melanggar akidah ini saya tambah sendiri, karena tidak disebut sedikitpun masalah pelanggaran akidah dalam cerita di atas.

Kesimpulan

Novel ini menarik untuk dibaca. Ada beberapa kelemahan seperti terlalu banyak metafora dan kurangnya dialog. Novel ini menggambarkan dengan bagus kondisi sosial masyarakat di pulau Belitung yang tertinggal walaupun ada pabrik timah yang besar. Juga menggambarkan betapa menyedihkan fasilitas pendidikan di daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Kalau ingin tahu mengenai Laskar Pelangi, silakan klik link di bawah ini:

Resensi Bagus Mengenai Laskar Pelangi

Kawin Lari di Novel Maryamah Karpov

Comments

comments

Share Button
(Visited 260 times, 1 visits today)