Kisah Sedih Pembantu di Negeri Jiran

pembantuSeperti biasa pada jam 1.20 siang istri saya, dengan mengendong bayi berumur 9 bulan, selalu  menunggu di bawah untuk menunggu anak-anak datang dari sekolah. Kami tinggal di sebuah  kondominium di negeri jiran di tingkat 7. Sebenarnya bisa saja kami suruh anak-anak kami naik  lift sendiri ke lantai 7, tapi kami tidak berani karena banyak penculikan yang terjadi di  negera jiran ini. Daripada menyesal di kemudian hari, lebih baik istri saya bersusah payah  menunggu di bawah.

Untungnya di bawah tidak sendiri saja. Kadang-kadang berjumpa dengan nenek Cina yang membawa  cucunya jalan-jalan. Istri saya sering berbincang-bincang dengan mereka, tapi agak susah juga  komunikasinya. Soalnya nenek Cina itu bahasa Melayunya parah kali. Sesekali bertemu juga dengan  pembantu-pembantu rumah asal Indonesia yang membawa jalan-jalan anak majikannya yang kebanyakan  orang Cina. Nah ada satu percakapan menarik dengan salah seorang pembantu dan membuat kami  panas mendengarnya.

“Sudah berapa lama mbak kerja di sini?” istri saya membuka pembicaraan.

“Sudah 3 tahun bu, tapi saya mau pulang bulan Juli ini” jawabnya.

“Loh kenapa? Kamu tidak betah ya?” tanya istri saya lagi.

“Saya sudah penat bekerja bu, baru bisa tidur ketika majikan dan anak-anak sudah tidur. Selain  itu gaji saya sudah tiga tahun tidak dibayar” katanya memelas.

“Yang benar aja, masak tiga tahun tidak dibayar gaji?” tanya istri saya.

“Saya tidak dibenarkan memegang uang, alasannya takut saya menyalah gunakan uang itu. Gaji  tahun pertama saya RM500, tahun kedua RM600, tahun ketiga RM700. Kata majikan nanti dibayar  kalau saya akan pulang ke Indonesia” jawabnya lagi.

Istri saya mencoba menghitung dalam kepala berapa jumlah gaji yang belum dibayar kepada pembantu malang  ini. Wow ternyata jumlahnya sangat fantatis yaitu sekitar RM21600 atau sekitar Rp 65 juta. Kami yakin majikannya akan kesulitan membayar uang sebanyak itu kepada pembantu tersebut. Ini terbukti majikannya berusaha menunda-nunda kepulangan pembantu itu ke Indonesia.

“Selain tidak dibayar gaji, saya pun tidak boleh menelepon ke Indonesia walaupun pakai HP saya sendiri. Saya sering nyuri nelpon di bawah ini dengan memakai telpon umum” tambahnya lagi.

Saya hanya bisa memaki-maki majikan sialan itu, ketika istri saya menceritakan kisah pembantu itu kepada saya pada malam harinya.

“Ini namanya perbudakan. Saya setuju dengan tindakan Indonesia dengan menghentikan pengiriman pembantu ke Malaysia. Kalau perlu semua pembantu di Malaysia di deportasi saja. Supaya orang-orang Malaysia ini kelabakan” sahut saya dengan marahnya.

Kenapa saya mengatakan seperti itu, karena kebanyakan keluarga Cina di Malaysia kedua-duanya bekerja, sehingga mereka perlu pembantu untuk mengurus rumah, memasak dan mendidik anak, serta cuci mobil. Cuci mobil majikan? Ya betul, mereka tega-teganya menyuruh pembantunya mencuci mobil. Saya sering melihat yang seperti itu di sekitar tempat tinggal saya. Padahal kalau bawa ke doorsmeer cuma bayar 8 ringgit saja. Betul-betul diperbudak pembantu itu.

Banyak juga kejadian tidak mengenakkan yang dialami para pembantu yang kami sering lihat disekitar tempat tinggal kami. Ada pembantu yang disuruh masak babi. Padahal sebagai orang Islam, tidak boleh memasakkan babi ke orang lain walaupun tidak dimakan sendiri. Ada juga yang tidak diperkenankan memakai baju sendiri, tapi harus memakai baju yang diberi oleh majikannya yang kebanyakan baju seksi. Akibatnya penampilan pembantu tersebut sama dengan majikannya, memakai rok pendek. Yang sekedar pengetahun saja, sudah menjadi tren di kalangan masyarakat Cina di negera jiran ini untuk memakai rok pendek. Semakin pendek semakin sexy kata mereka. Ada juga pembantu-pembantu yang dilarang sholat atau puasa sama majikannya. Para pembantu ini tidak berani membantah karena mereka berada di posisi lemah.

Baru-baru ini kerajaan Malaysia akan menerapkan hari libur satu hari setiap minggu. Tapi hal ini diprotes oleh para majikan dengan alasan mereka setiap tahun mengirim pembantunya berlibur ke Indonesia. Mungkin ada sebagian yang melakukan hal tersebut, terutama yang baik-baik. Tapi sebagian besar lainnya malah tidak memberikan cuti tahunan tersebut. Mereka harus kerja sepanjang tahun, dari pagi buta sampai larut malam. Tidak heran kami kesulitan mencari pembantu yang mau bekerja di Malaysia, karena mereka sudah jera bekerja di sana atau mendengar berita-berita yang tidak bagus itu. Padahal menurut peraturan yang ada di kontrak antara pembantu dan majikan, ada jatah libur setiap harinya untuk pembantu tersebut. Namun para pembantu itu tidak berani memintanya.

Dilain pihak saya juga bisa mengerti kenapa para majikan itu begitu keras sama pembantunya. Ini karena mereka harus membayar biaya yang tidak murah kepada agen pencari pembantu yang berkisar antara RM6000 – RM8000. Tapi yang mereka dapatkan adalah pembantu yang tidak layak bekerja. Semua ini kesalahan agen yang tamak uang sehingga lupa membekalkan para pembantu itu dengan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Kalau kami sendiri tidak pernah mencari pembantu melalui agen. Biasanya kami cari sendiri di Indonesia dan mengurus sendiri semuanya. Paling-paling cuma habis RM2000. Jumlah yang cukup banyak juga sebenarnya bagi kantong kami.

Selain diperas di negeri jiran, para pembantu itu ternyata diperas juga di negara sendiri. Sudah bukan rahasia lagi mereka yang habis kontrak kerja di Malaysia harus melalui kounter khusus pembantu di Bandara Cengkareng Jakarta. Di kounter khusus inilah mereka diperah habis-habisan. Bekas pembantu kami harus merogoh kocek sekitar 600 ribu perak hanya untuk transportasi dari Cengkareng ke Bandung. Padahal sanak keluarganya sudah menunggu di Cengkareng. Tapi tetap saja tidak diizinkan keluar sama petugas di airport. Kasihannya oh kasihannya, lebih menyakitkan kalau diperas di negara sendiri.

Sebenarnya MUI sudah lama mengeluarkan fatwa haramnya perempuan bekerja di luar negeri tanpa ditemanin oleh muhrimnya. Ini wajar saja karena para wanita memang memerlukan perlindungan. Sayangnya fatwa MUI itu ditentang habis-habisan dengan alasan tidak ada kerja di negara sendiri. Mereka menuntut MUI untuk menyediakan kerja kepada para wanita ini sebelum mengeluarkan fatwa haram bekerja di luar negeri sendiri. Bagaimana mungkin MUI menyediakan lapangan kerja bagi wanita tersebut. Itu sebenanrya tugas negara untuk menjamin lapangan kerja bagi masyarakatnya. Fatwa MUI itu sebenarnya menohok pemerintah agar mereka prihatin dengan masyarakatnya sendiri, jangan hanya korupsi makan uang rakyat saja.

Akibat kesulitan mendapatkan kerja bagi kaum lelaki di Indonesia, mereka terpaksa mengijinkan istrinya bekerja di luar negeri. Padahal posisi seorang istri adalah menerima rezki dari suami, bukan malah sebaliknya. Yang parah lagi, ada wanita-wanita itu yang terpaksa bekerja di luar negeri karena diceraikan oleh suaminya yang kemudian enggan membayar nafkah hidup anak-anaknya. Ini betul-betul sudah terbalik. Anak-anak itu adalah anak-anak suaminya. Kalaupun mereka bercerai, maka bekas suaminyalah yang wajib menafkahi anak-anak tersebut. Kalau tidak sanggup maka para wali anak-anak tersebut yang wajib memberi nafkah. Sedangkan si bekas istri sendiri bebas dari semua tanggung jawab tersebut. Inilah akibat syariah Islam tidak diperdulikan lagi. Kesengsaraan yang didapat tidak habis-habisnya, seolah-olah tiada ujungnya.

Ngomong-ngomong, sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya hanya hendak menegaskan sekali lagi bahwa penganiayaan pembantu di negera jiran sering terjadi jika majikannya orang Cina. Biasalah mereka menganggap orang non-Cina seperti Melayu misalnya berada di bawah mereka kedudukannya, yaitu sebagai budak. Kalau tidak salah kasus yang sama terjadi di Hongkong, dimana seorang penulis artikel di sebuah majalah menyamakan taraf pembantu dari Philipina sebagai budak. Akibatnya para pembantu dari Philipina itu protes berat dan didukung oleh pemerintah Philipina. Penulis itu kemudian terpaksa minta maaf. Kapan Indonesia bisa berani seperti itu?

Comments

comments

Share Button
(Visited 1,179 times, 1 visits today)