Jangan Jadikan Istri Sebagai Pembantu

Tahukah anda, wahai para suami, apa tugas istri sebenarnya? Tugas istri hanyalah melahirkan anak-anak suaminya dan melayani suaminya (hanya mereka yang sudah menikah saja tahu maksudnya 🙂 ).  Kalau cuma itu tugas istri, tugas siapa sebenarnya dalam urusan masak-memasak, membersihkan rumah, mengajar anak, memberi susu anak, mengantar anak ke sekolah, mencuci baju, dsb. Para lelaki dan suami mulai curiga, jangan-jangan tugas rumah tangga dan mengurus anak adalah tugas para suami.

Betul sekali kecurigaan para suami itu. Tugas-tugas di atas adalah tugas para suami. Emm…saya bisa melihat dahi para suami yang mulai berkerut menandakan ketidaksetujuan mereka.

“Tapi…mana mampu kita melakukan itu semua. Masak sudah capek seharian bekerja, sampai rumah masih disuruh mencuci baju lagi dan membersihkan kotoran si bayi,” protes para suami.

Nah kalau sadar tidak mampu melakukan semua pekerjaan itu semua, kira-kira apa biasanya yang kita lakukan. Ya pasti  dengan meminta tolong kepada orang lain.

Orang lain itu siapa ya? Pembantu rumah? Itu sih bukan minta tolong namanya, karena minta tolong yang harus dikasih uang sebagai imbalannya. Atau sama istri tetangga? Ngak mungkin! Bakalan babak-belur dihajar sama suaminya. Atau sama orangtua kita sendiri. Apa nggak kasihan tuh? Udah capek-capek mengurus kita sejak kecil, eh sekarang malah minta urus anak kita sama rumah kita. Wah…wah…wah, kebangetan namanya.

Kalau begitu siapa lagi yang boleh dimintai tolong? Liriklah ke samping anda, maka anda akan menemukan jawabannya. Siapa ya? Ya istri anda sendiri dong.?

Layaknya orang yang minta tolong sama orang lain, tentu minta tolongnya dengan lemah lembut.

“Wahai istriku tercinta,” para suami mulai berkata.

“Kamu belum penatkan melayani saya semalam? Kalau belum, minta tolong untuk mengurus rumah dan mengurus anak hari ini. Mau nggak?”

“Tentulah bang. Siapa lagi yang boleh saya tolong kalau bukan abang,” sahut si istri.

“Tapi dengan syarat, kalau kerjaan saya tidak sempurna jangan marah-marah dulu ya. Kalau ada waktu, abang tolongin saya jugalah.” lanjut istrinya lagi.

“Boleh…boleh, abang berjanji untuk membantumu,” tegas suaminya lagi.

Nah, apa sudah menangkap maksud di sebalik cerita itu? Itulah sebenarnya hubungan antara suami dan istri. Suami minta pertolongan istri untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Istri dengan senang hati membantu suaminya karena rasa cinta dan sayang kepada suaminya.?

Apa imbalan yang didapat oleh para istri yang bekerja di rumah itu? Imbalannya adalah pahala yang sangat besar yang tidak akan terbayangkan. Bagaimana tidak, setiap hari para istri menolong suaminya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Kalau istri tersebut hidup selama 40 tahun mengerjakan itu setiap hari, bayangkan berapa besar pahala yang diperolehnya, dengan syarat si istri mengerjakannya dengan ikhlas. Jadi para ibu rumah tangga, jangan berkecil hati dengan kerja di rumah ya?

Tentu saja dalam kehidupan sebenarnya, percakapan seperti di atas tidak akan terjadi, karena memang sudah secara otomatis istri mengerjakan pekerjaan rumah dan suami bekerja di luar rumah. Ini namanya adat-istiadat secara turun-temurun. Sudah menjadi adat kalau istri mengurus rumah dan anak. Tapi ingat, walaupun ini adalah adat, ia merupakan adat yang baik karena tidak bertentangan dengan Islam.

Sayangnya pada saat ini, para suami mengambil kesempatan atas kepatuhan para istri dengan menggunakan alasan agama, yaitu istri harus patuh kepada suami tanpa kecuali. Mereka menyuruh istri banting-tulang kerja di rumah hingga si istri tidak sempat memperhatikan penampilannya lagi. Tidak heran, kalau para istri kelihatan lebih cepat tua dari suaminya. Istri seolah-olah kelihatan seperti pembantu rumah karena para suami tidak menyadari hakikat hubungan suami istri yang sebenarnya

Jadi alangkah tidak wajar, jikalau seorang suami memasang tampang masam kepada istrinya hanya karena masakan yang dimasak tidak enak. Alangkah tidak wajar, jikalau suami menuntut istri mendidik anaknya dengan sempurna, sedangkan dia tinggal menerima hasilnya saja. Alangkah tidak wajar, jikalau suami tidak berusaha menolong istrinya memberishkan rumah di waktu luangnya.

Kalau perlu suami menawarkan kepada istri, seperti:

“Kelihatannya kamu capek mengurus rumah setiap hari, nanti saya carikan pembantu untukmu.”

“Anak-anak kita agak ketinggalan pelajaran sekolahnya, sedangkan kamu sudah sibuk bekerja di rumah seharian dan berusaha sebisa mungkin mengajari anak. Nanti aku carikan seorang tutorlah, untuk mengajar anak-anak saya.”

Jadi wahai para suami sekalian, jangan sampai melanggar hubungan saling memerlukan itu. Jangan sampai anda melukai hati istri anda hanya karena istri anda tidak masak enak hari ini atau istri anda gagal mendidik anak-anaknya. Rajin-rajinlah membantu istri anda di rumah, walaupun anda juga capai bekerja seharian. Istri anda juga penat bekerja seharian di rumah kan?

Comments

comments

Share Button
(Visited 7,451 times, 5 visits today)