Ingin Untung Besar

uangPada saat-saat ekonomi yang suram ini, tawaran keuntungan besar setiap bulannya serasa seperti mendapatkan air di padang pasir. Mereka jadi tidak peduli tentang halal atau haram. Kalau kita ingatkan, mereka mengatakan pandangan agama yang berbeda mengenai usaha sejenis ini. Itulah alasan yang digunakan agar mereka tetap merasa nyaman dengan bisnis mereka. Sebenarnya mereka tidak mengetahui hukum ekonomi Islam. Masalahnya mereka tidak tahu hendak bertanya kemana, karena ulama-ulama yang ahli di bidang ekonomi Islam sangat kurang.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=129631

Sedikitnya 70 warga di Kota Magelang, Jawa Tengah, mengalami rugi ratusan juta rupiah, karena tertipu dua pengangguran yang mengaku menjalankan bisnis investasi, dengan imbal hasil 10 persen/bulan.

Tersangka yang ternyata pengangguran itu, katanya, menjanjikan keuntungan melalui Program Peningkatan Kesejahteraan Bersama (PPKB) perusahaan itu sebesar 10 persen perbulan dari total investasinya, sedangkan pada bulan kesembilan modal itu dikembalikan kepada investor.

“Peserta pertama ada yang mendapatkan keuntungannya, tetapi itu hanya untuk meyakinkan peserta lain, uang yang diberikan adalah hasil pengumpulan dari peserta lain, tetapi kenyataannya tersangka tidak menggunakan modal itu untuk usaha produktif sedangkan kantornya juga tidak ada aktivitas,” katanya.

Sebenarnya apa sih yang menjadi masalah dengan sistem bisnis di atas? Mendapatkan keuntungan 10% setiap bulannya setelah menyetor sejumlah modal, bukanlah sebuah kriminal. Masalahnya adalah penetapan keuntungan tetap setiap bulannya. Kenapa ini menjada masalah? Bank-Bank pun akan menyetorkan keuntungan tetap setiap bulannya apabila kita mendepositokan sejumlah uang kepada mereka, walaupun hanya 3-5% per tahun.

Bagi orang yang cerdas, mereka akan segera curiga dengan kadar keuntungan sangat besar yang bakalan di dapat setiap bulannya. Bayangkan saja, kalau mereka menyetor sekitar Rp. 10 juta, maka mereka akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 juta per bulan atau sekitar Rp. 12 juta per tahun. Keuntungan dalam setahun saja sudah melebihi modal awal. Ini pasti ada apa-apanya. Mereka kemudian bertanya lebih lanjut seperti bisnis apa yang dilakukan, kenapa keuntungan bisa berlipat ganda, dimana kantornya, ada izin usaha apa tidak, dan banyak lainnya. Sayangnya kebanyakan orang sudah terlanjur tergiur dengan keuntungan yang dijanjikan sehingga menutup pikiran waras mereka. Tidak heran kasus yang terjadi di Magelang itu telah dan akan berulang di tempat lain.

Terkadang bisnis yang ditawarkan itu memang benar-benar ada dan memang menjamin keuntungan yang besar, seperti bisnis pengantaran minyak dari kilang Pertamina ke stasiun-stasiun minyak. Tapi itu tidak berarti bisnis ini halal di sisi Islam. Selama keuntungan yang ditawarkan adalah tetap dalam jangka waktu tertentu, selama itulah bisnis itu haram karena riba.

Ya RIBA. Segala keuntungan yang didapatkan secara pasti dalam jangka waktu tertentu disebut dengan riba. Bank-Bank memberikan keuntungan tetap dari setiap deposit pun disebut riba. Yang tidak disebut riba apabila keuntungan yang didapat berdasarkan bagi hasil, misalnya si pemodal mendapatkan 40% dan di peniaga mendapatkan 60% dari keuntungan penghantaran minyak. Ini harus ditetapkan di awal kesepakatan bisnis dan harus ada hitam di atas putih.

Cukupkah dengan persetujuan pembagian keuntungan saja? Tidak cukup. Harus ada pernyataan bahwa kerugian akan ditanggung bersama. Kalau kerugian hanya ditanggung oleh si pemodal, maka bisnis seperti inipun bertentangan dengan Islam, karena menzalimi sebelah pihak. Dalam Islam, kedua belah pihak menanggung resiko kerugian juga. Kalau kedua syarat itu telah terpenuhi, Insya Allah, bisnis yang dijalankan bersama itu tidak melanggar hukum Islam. Begitu sederhana bukan? Sayangnya walaupun mudah, masih banyak orang Islam yang tidak tahu.

Bisnis yang menjanjikan keuntungan besar ini, memang unsur penipuan selalu ada baik kecil ataupun besar. Penipuan besar seperti kehilangan uang karena di bawa lari oleh peniaga. Penipuan yang kecil seperti pemaksaan pembelian barang-barang untuk mengganti sebagian keuntungan yang telah dijanjikan itu. Jelasnya begini, katakan ada sebuah perusahaan yang menjanjikan keuntungan tetap sebesar 1 juta rupiah sebulan kepada si fulan. Kemudian si fulan setuju dengan perjanjian tersebut. Tapi ketika beberapa bulan berlalu, perusahaan itu sudah mulai memaksa si pemodal untuk menerima 700 ribu rupiah kontan dan sisanya di bayar dengan barang-barang seharga 300 ribu rupiah.

Barang-barang ini sebenarnya tidak diperlukan oleh si pemodal dan kemungkinan  dijual dengan harga lebih tinggi dari yang ada di pasaran. Mulailah si pemodal merasa terzalimi, tapi tidak berani berkata apa-apa, karena takut kehilangan keuntungan yang 700 ribu rupiah itu. Sebenarnya sudah kelihatan kalau yang menjalankan bisnis mulai kekurangan uang kontan, karena bisnis real yang mereka jalankan tidak memberikan keuntungan terlalu banyak. Disinipun kelihatan kalau si peniaga juga sudah sampai pada tahap terzalimi. Tapi karena sudah terlanjur menjanjikan keuntungan kepada si pemodal, terpaksalah si peniaga mencari jalan untuk melunasinya walaupun dengan cara penipuan pemberian barang yang tidak diperlukan.

Kesimpulannya kalau ada yang menawarkan keuntungan besar yang tetap, tinggalkan dia. Lebih baik bekerja dari pagi sampai sore dengan pendapatan biasa-biasa saja, daripada terperangkap dengan riba dan kerugian akibat ditipu. Anda setuju dengan saya?

Comments

comments

Share Button
(Visited 175 times, 1 visits today)