Cara Tempo Memutarbalikkan Berita Tolikara

mesjid_papua

Tempo.co memang sudah terkenal dengan berita-beritanya yang allergi terhadap aktifitas umat Islam. Yang terbaru adalah cara Tempo.co memberitakan pembakaran mesjid di Tolikara.

Alih-alih menggunakan istilah “Pembakaran Masjid” atau “Teror Tolikara”. Tempo.co menggunakan istilah “Rusuh Tolikara” dalam pemberitaan. Istilah yang sama juga dipakai oleh Kompas.com. Sedangkan Republika dan media Islam lainnya lebih memilih istilah “Pembakaran Masjid” dan “Masjid Dibakar”.

Pemilihan istilah untuk menyebut suatu peristiwa menggambarkan sudut pandang media dalam sebuah peristiwa dan membentuk persepsi publik ketika membaca berita tersebut.

Dalam berita paling populer tersebut, Tempo mengutip pernyataan Ketua Umum PGLII bahwa “mereka tertembak saat mendekati lokasi salat Ied untuk berkoordinasi dengan warga muslim di lapangan Koramil Tolikara.” Benarkah mereka tertembak saat hendak berkoordinasi dengan warga muslim?

Berita-berita di media lain (baik media umum maupun media Islam) menyebutkan bahwa mereka tertembak saat aparat memberikan tembakan peringatan karena mereka menyerang jamaah shalat Idul Fitri.

Ketua Umum PGLII berita tersebut justru menyalahkan aparat keamanan. Tembakan dari aparat keamanan-lah yang menyebabkan mereka menyerang dan membakar masjid. Jika publik percaya pada berita ini, maka persepsi publik akan terbawa pada kesimpulan bahwa pelaku teror yang membakar Masjid tidak bersalah. Publik justru menyalahkan aparat keamanan. Jika demikian, sungguh ini adalah propaganda yang membahayakan.

1 Masjid terbakar, 38 rumah dan 63 kios milik umat Islam ludes terbakar. 153 muslim Tolikara masih mengungsi.

Diringkas dari pkspiyungan.org

Comments

comments

Share Button
(Visited 231 times, 1 visits today)