Bahasa Rojak

Aku rasa Amazing race lebih best dari explorace ni. At least Amazing race semua sama rata, clue dia lebih stright to the point. Cuma aku tak faham lah kenapa TV3 suka pengacara dia cakap rojak. Sekejap cakap English, sekejap cakap melayu. Kalau nak english buatlah english all thru the way. Ni kesian host kena tukar2. Host dia ok jugak. Cuma bahasa aku tak suka. Mcm si Ari pulak masa mengacara muzik muzik, mengampah aku! Aku rasa The other team is much better tapi terlalu byk mistake. Yg menang last night tu lucky. So takde istimewa sgt explorace. Lain dgn Amazing race di mana you can learn from your mistakes. Sebab kebanyakkan yang menang Amazing race memang pernah buat mistake and terkadang sikit lagi kena eliminate.

Itulah contoh bahasa rojak (bahasa campur antara Melayu dan Inggris) yang telah menjadi virus di Malaysia. Si penulis komentar di atas sebenarnya mengkritik pembawa acara TV Explorace yang memakai bahasa rojak. Tapi ibarat pepatah seperti kepiting mengajar anaknya berjalan lurus. Yang mengkritik pun turut membuat apa yang dikritiknya itu.

Bahasa Rojak

Ketika pertama kali bekerja di Malaysia, saya ditugaskan oleh universiti tempat saya bekerja untuk mengikuti pameran pendidikan di Mid Valley. Bahasa yang saya gunakan untuk memberikan penerangan kepada para pengunjung adalah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Saya menggunakan bahasa Inggris ketika ada yang bertanya dalam bahasa Inggris dan menggunakan bahasa Indonesia ketika ada yang bertanya dalam bahasa Melayu.

Pengalaman yang tidak akan saya lupakan adalah ketika ada seorang India Malaysia yang bertanya dalam bahasa Melayu. Saya menjawab dalam bahasa Indonesia, karena pada saat itu saya tidak begitu mengerti istilah-istilah dan penggunaan kata-kata benda dalam bahasa Melayu. Yang membuat saya terkejut adalah, orang India itu memuji bahasa yang saya gunakan. Lama saya berpikir kenapa dia memuji bahasa yang saya gunakan. Setelah lama tinggal di Malaysia, baru saya sadar fenomena bahasa “rojak”. Orang India itu memuji bahasa yang saya gunakan karena tidak mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Saya selalu berkata kepada anak-anak saya, kalau mereka mau berbicara dalam bahasa Melayu, gunakanlah bahasa Melayu yang benar. Jangan dicampur dengan bahasa Inggris. Kalau tidak mampu, lebih baik bicara dalam bahasa Indonesia saja. Saya tidak rela anak saya berbicara dengan bahasa rojak yang kemudian akan merusak kemampuan berbahasa Indonesia anak-anak saya.

Saya memperhatikan orang-orang Malaysia ini sangat suka mencampurkan bahasa Inggris dengan bahasa Melayu ketika sedang berbicara. Sayangnya kebiasaan ini mereka bawa ke pejabat (kantor), sekolah, hospital, dan sebagainya. Hal seperti ini tidak akan dijumpai di Indonesia. Di Indonesia, mereka akan menggunakan bahasa baku ketika berbicara di tempat formal.

Dokter atau perawat akan menggunakan bahasa baku ketika berbicara dengan pasien. Pelajar akan menggunakan bahasa baku ketika berbicara atau menulis surat kepada pensyarah (dosen), ketua jurusan atau dekan. Seorang manajer akan berbicara dengan bahasa baku ketika berbicara dengan pegawainya. Mentri-mentri akan menggunakan bahasa baku, ketika berbicara di depan umum. Dan banyak contoh lainnya.

Berdasarkan pengalaman saya, seorang mahasiswa menulis email dengan bahasa rojak dan sms kepada ketua jurusan di tempat saya bekerja di Kuala Lumpur dulunya. Yang membuat saya heran adalah, tidak ada seorangpun yang memprotes bahasa si mahasiswa ini.

Selain bahasa rojak, orang-orang Malaysia tidak tahu kapan harus menggunakan dialek mereka. Saya pernah menemukan seorang pegawai Bank menggunakan dialek setempat ketika berbicara dengan pelanggannya. Saya pernah disuruh “MAI” (datang) kembali kalau ada masalah dengan buku tabungan saya.

Sejujurnya saya suka dengan bahasa Melayu yang digunakan oleh P. Ramlee dalam filem-filemnya. Bahasa yang digunakan hampir sama dengan bahasa Indonesia yang kami gunakan sekarang. Tidak perlu diherankan, karena bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu Riau, sebuah kaum minoritas di Indonesia. Bayangkan bahasa dari kaum minoritas digunakan sebagai bahasa negara, bukannya bahasa Jawa yang menjadi mayoritas di Indonesia.

Bahasa di Sekolah-Sekolah

Bahasa pengantar ketika saya sekolah dari tadika (TK) sampai universiti (universitas) adalah bahasa Indonesia. Saya hanya menggunakan bahasa Inggris secara pasif saja. Kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris sangat lemah. Tapi di peringkat Universiti, saya mampu membaca buku-buku teks dalam bahasa Inggris.

Saya menggunakan bahasa Inggris secara aktif, ketika melanjutkan sekolah ke luar negara. Bahasa Inggris ini juga menjadi bahasa pengantar di tempat kerja saya sekarang. Kesimpulannya saya tidak memiliki masalah apapun dalam mempelajari tekhnologi dari negara barat, walaupun sebagian besar masa sekolah saya dihabiskan dalam bahasa Indonesia.

Kedai (Toko) Buku

Kalau anda pernah mengunjungi Indonesia, coba kunjungi kedai buku-kedai buku di sana. Niscaya anda akan menemukan mayoritas buku dalam kedai-kedai itu dalam bahasa Indonesia. Buku-buku yang aslinya dalam bahasa Ingris atau Arab akan mereka terjemahkan serta-merta.

Sebaliknya coba anda masuk MPH, bahasa apa yang digunakan oleh kebanyakan buku? Bahasa Inggris bukan? Berapa banyak buku dalam bahasa Melayu? Sangat sedikit sekali. Kalau masuk ke Popular, maka anda akan menemukan buku-buku dalam bahasa Cina dalam jumlah yang banyak, disamping buku-buku yang berbahasa Inggris.

Orang Cina Yang Tidak Boleh (Bisa) Bercakap Bahasa Melayu

Satu lagi yang saya lihat tidak berapa elok adalah kemampuan berbahasa Melayu orang Cina yang sangat rendah. Mereka lebih bangga dengan bahasa Cina. Hal yang sama tidak akan anda jumpai di Indonesia. Orang Cina di sana sangat lancar berbahasa Indonesia.

Mohon maaf kalau ada yang tersinggung. Bukan maksud saya merendahkan orang Malaysia. Saya cuma prihatin bahasa Melayu tidak diperlakukan secara baik, seperti kami memperlakukan bahasa Indonesia.

Comments

comments

Share Button
(Visited 1,597 times, 4 visits today)