Awal Puasa Ramadhan

Pernahkah ada rasa keingintahuan kenapa hari-hari baru pada bulan Hijrah dimulai ketika Maghrib?

“Eh bukannya setelah Subuh? Baru tahu aku kalau hari baru dimulai setelah Maghrib,” jawab si Polan.

Saya rasa banyak juga orang model si Polan, ikut saja apa yang dikatakan orang, tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.

“Hari-hari baru dalam bulan Islam, mesti habis Maghrib. Itu aseli ajaran Islam,” jawab si Polen.

Lumayan juga si Polen, lebih berilmu dari si Polan.

“But let me tell you something Polen!”

Mudah-mudah si Polen mengerti cetusan bahasa Inggris saya.

“Sebenarnya memulai hari baru setelah Maghrib bukan sepenuhnya punya orang Islam.”

“Masak…?” Polan dan Polen menjawab serentak.

“Kaum Babilonia yang memulai melihat bulan sabit di awal bulan. Oleh karena bulan sabit biasanya hanya bisa dilihat menjelang Maghrib, jadilah hari
baru diputuskan setelah Maghrib.”

“Babilonia? Suku apa lagi?” berkerut kening si Polen.

“Tanya sama paman Google ya? Buat PR sedikitlah,” jawabku lagi.

“Saya lanjutkan lagi nih. Budaya ini kemudian di adopsi oleh kaum Yahudi.”

“Jadi jangan anggap orang Islam saja yang selalu bertengkar menjelang 1 Ramadhan dan 1 Syawal, sesama Yahudi pun selalu bertengkar ketika
menentukan hari Sabbath. Mereka juga pakai kalender bulan,” aku menjelaskan panjang lebar.

“Ohhh…lalu harusnya kapan hari baru dimulai?” tanya si Polan.

“Kalau menurutku sih seharusnya menjelang fajar, karena orang-orang baru bangun tidur, sholat Subuh dan kemudian baru beraktifitas. Itu lebih
alami.”

“Ah kamu karang-karang aja sendiri. Emangnya kamu ulama?” sergah si Polen.

“Hehehe…sekedar brainstorming.”

“Mong-ngomong, Insya Allah aku puasa tanggal 28 Juni nih,” kataku lagi.

“Loh nggak nunggu lihat Hilaal dulu?” tanya si Polan.

“Ndak…toh udah ada kalendar bulan.”

“Kalau gitu sama dong dengan Muhammadiyah,” tanya si Polen.

“Iya kebetulan Muhammadiyah pakai kalender bulan juga. Namun mereka menggunakan konsep hari baru dimulai ketika Maghrib.”

“Konjugasi bulan terjadi sekitar jam 15.10 WIB pada tanggal 27 Juni. Kalau mengikuti konsep hari baru dimulai menjelang fajar, maka tanggal 28
Juni sudah bisa puasa. Tapi kalau mengikuti konsep hari baru dimulai ketika Maghrib, maka Muhammadiyah memakai kriteria tambahan bahwa ketika
matahari terbenam, bulan harus sudah berada di atas horizon. Namun tidak harus terlihat dengan mata.Nah karena betul sudah berada di atas horizon,
maka sudah bisa dipastikan puasa dimulai tanggal 28 Juni.”

“Apa beda kriteria Muhammadiyah dengan NU?”

“Oh kalau NU kriterinya lebih ketat lagi. Walaupun konjugasi sudah terjadi sebelum Maghrib, kalau Hilaal betul-betul belum terlihat di atas horizon
ketika Maghrib, maka puasa belum bisa dimulai tanggal 28 Juni, tapi tanggal 29 Juni,” jawab si Polen.

Wah hebat juga si Polen.
“Sini aku tanya lagi. Kalau konjugasi terjadi katakan jam 21.00 WIB, menurut kriteria Muhammadiyah kapan mulai puasanya?” tanyaku lagi.

“Emmm…jam 21.00 sudah masuk hari baru menurut kriteria Muhammdiyah. Berarti tidak mungkin tanggal 28 Juni mulai puasa, tapi tanggal 29 Juni,”
jawab si Polan, sementara si Poleh masih kebingungan menjawabnya.

“Nah disitulah perbedaan antara hari baru ketika Maghrib dan hari baru menjelang fajar.” tegasku lagi.

“Tapi yang pasti, selama melihat Hilaal menjelang Maghrib selalu dipakai, sampai hari kiamat pun umat Islam tidak akan pernah memiliki kalendar
Hijriah yang sama.”

Sekedar “brainstorming” 🙂

Comments

comments

Share Button
(Visited 84 times, 1 visits today)