Apa Itu Sunnah dan Ahlus Sunnah?

Salah satu alasan yang sering dilagukan ketika menolak poligami adalah: “Kalau mau poligami dengan alasan mengikuti sunnah, kenapa tidak  mengikuti tata cara poligami Rasulullah s.a.w.? Pertama menikahlah dengan dengan seorang perempuan berbisnis yang berumur 40 tahun, ketika kita berumur 25 tahun. Setelah itu tunggulah sampai istri pertama meninggal, baru kemudian menikah lagi. Tapi jangan sama perawan loh, itu sih mau enaknya sendiri. Menikahlah dengan janda dulu. Setelah itu carilah perempuan Kristen yang baru masuk Islam untuk dinikahi, dan seterusnya”. Benarkah cara seperti itu?

Ada satu kriteria yang sering dilupakan orang ketika membicarakan sunnah, yaitu tidak melihat bagaimana para sahabat Rasulullah s.a.w memahami segala tindakan, ucapan dan keyakinan baginda. Kenapa harus melihat para sahabat? Apa hebatnya mereka? Yang jelas mereka hidup bersama Rasulullah s.a.w., sehingga mereka cukup memahami mana yang harus diikuti secara detail dan mana yang tidak. Oleh sebab itulah definisi Ahlus Sunnah yang lebih adalah mereka yang mengikuti Rasulullah s.a.w. dan para sahabat. Jadi dalam masalah poligami itu, coba perhatikan apakah para sahabat mengikuti cara Rasulullah s.a.w. dalam berpoligami? Ini jugalah yang menjadi pertimbangan para ulama fiqh ketika menurunkan suatu hukum. Mereka tidak hanya berdasarkan apa yang Rasulullah s.a.w contohkan, tapi juga melihat bagaimana para sahabat berinteraksi dengan perbuatan baginda ini. Sebenarnya itu bukan kata-kata saya, tapi perkataan seorang ulama yang bernama Ibnu Rejab:

Ibnu Rejab berkata, “Sunnah ialah jalan yang ditempuh meliputi seluruh ajaran Rasulullah s.a.w., para Khulafaurrasyidun Radhiyallahu ‘Anhum, apakah itu berupa keyakinan, tindakan, dan ucapan. Oleh kerana itu, ruang lingkup sunnah menurut generasi salaf melingkupi itu semua. Demikian itu diriwayatkan dari Hasan al-Basri, al-Auza’i, dan Fudhail bin Iyadh.” (Muqaddimah Shiyanah al-Insan ‘an Was-was Asy-Sheik ad-Dakhlan, M. Rasyid Ridha, hal. 7)

Para ulama selalu memasukkan para sahabat ketika mendefinisikan ahlus Sunnah. Contohnya adalah seperti yang diungkapkan oleh Ibnul Jauzi.

“Tidak diragukan bahwa mereka yaitu ahli naql (nash) dan atsar yang mengikuti atsar Rasulullah s.a.w. dan para sahabat adalah ahli sunnah, karana ajaran mereka tidak tercemar oleh bid’ah. Imam as-Suyuti sependapat dengan definisi ini.” (Talbis al-Iblis, hal. 21).

Kesimpulannya kalau mau menentukan sesuatu perbuatan itu sunnah atau tidak, maka rujuklah ulama-ulama dibidangnya. Contohnya bagaimana sebenarnya poligami yang mengikuti sunnah itu? Apa kita mau mendefinisikan sendiri poligami yang sunnah itu? Mungkinkah? Jawabnya adalah “TIDAK MUNGKIN”, karena itu bukan bidang kita. Masak seorang dokter ahli bedah terus mau menentukan hukum poligami itu sunnah atau tidak? Kacau jadinya. Terus bagaimana caranya kalau begitu? Bacalah buku-buku fiqh hasil karya ulama-ulama besar. Inipun perlu diseleksi juga, jangan sampai membaca buku-buku fiqh yang dikarang oleh ulama yang tidak semestinya (mengaku ulama, padahal tidak). Tahu kan maksud saya?

Definisi Sunnah Lainnya

Menurut ulama hadis, sunnah berarti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi s.a.w., berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat bawaan, karakter, akhlak, atau perilaku, sama ada yang terjadi sebelum atau setelah kenabian. (Tauzih an-Nadzar ila Ushul al-Atsar, Thahir as-Simasqi, hal. 3)

Menurut ulama ushul fiqh, sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Rasulullah s.a.w. yang tidak tercantum secara tekstual di dalam al-qur’an akan tetapi tekstualnya dari beliau sebagai penjelas dari al-Qur’an. (al-Muwafaqat, asy-Syatibi, jil. 4, hal. 3)

Imam asy-Syatibi berkata, “Sunnah menjadi dari bid’ah, dikatakan Fulan di atas as-Sunnah bila ia berbuat sesuai dengan ajaran Nabi s.a.w., atau Fulan di atas kebid’ahan bila perbuatannya berseberangan dengan ajaran beliau.” (al-Muwafaqat, asy-Syatibi, jil. 4, hal. 4)

Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah menukil perkataan Imam Abu Hasan Muhammad bin Abdul Malik al-Kharji, “Sunnah adalah meniti jalan Rasulullah s.a.w. dan meniru tingkah laku beliau dalam tiga hal; ucapan, perbuatan, dan aqidah.” (Majmu’ Fatawa, jil. 4, hal. 180)

Comments

comments

Share Button
(Visited 168 times, 1 visits today)