Ahlul Sunnah Wal Jamaah, Al-Asyairah , Al-Maaturidiyyah, Salafiyah dan Wahabiyah

kitab-kitab

Ahlul Sunnah Wal Jamaah

Mereka adalah golongan yang berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad serta orang-orang yang mengikut jejak langkah mereka. Generasi paling awal dan utama di kalangan mereka adalah para sahabat, kemudian diikuti oleh para tabi’in dan orang-orang yang menurut jejak langkah mereka.

Generasi pertama di kalangan mereka dikenali dengan nama Salaf. Mereka berpandukan al-Quran dan sunnah tanpa membahas secara mendalam ayat-ayat yang samar (mutasyabihat) dan menyerahkan maksudnya kepada Allah. Ini berdasarkan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 7.

Maksudnya: “Dia lah Yang menurunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Kitab suci Al-Quran. sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat “Muhkamaat” (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan yang lain lagi ialah ayat-ayat “Mutasyaabihaat” (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang mutasyaabihaat kerana mempunyai tujuan menimbulkan fitnah dan mencari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu ugama, berkata:” Kami beriman kepada-Nya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami” dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.”

Pada zaman awal salaf, mereka tidak banyak berhujah menggunakan logika akal. Mereka menerima tanpa perlu banyak berhujah tentang apa saja yang dinyatakan dalam al-Quran, dan as-sunnah.

Mengenai para sahabat, mereka menjunjung tinggi semuanya, mengakui keempat khalifah ar-Rasyidin adalah orang yang paling layak pada zaman masing-masing. Mereka memohon supaya Allah mengampuni para sahabat dalam perseturuan dan peperangan yang berlaku di kalangan mereka. Ini kerana jasa mereka besar bagi menegakkan kalimah Allah walaupun di antara mereka sudah tentu ada yang bersalah dalam pertentangan itu. Inilah yang disifatkan oleh Allah dalam al-Quran surah al- Hasyr, ayat 10.

Maksudnya: “Dan orang-orang yang datang kemudian daripada mereka berkata, “Wahai Tuhan kami! Ampuni kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman dan janganlah engkau menjadikan dalam hati kami perasaan hasad dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau amat limpah belas kasih-Mu dan maha penyayang”.

Generasi pertama ini tidak menamakan diri mereka dengan nama aliran-aliran pemahaman tertentu. Ini kerana umat Islam pada waktu itu bersatu dari segi hidupnya dan para sahabat yang masih hidup menjadi tumpuan bagi bertanya berbagai masalah. Amalan ini juga terjadi pada zaman para tabi’in. Mereka bukan saja tidak mentakwilkan ayat-ayat mutasyabihat, sebaliknya menyandarkan apa yang dinyatakan oleh Allah dan Nabi Muhammad tanpa tambahan apapun dan penguraian yang bertele-tele.

Semua imam mazhab yang terkenal seperti Abu Hanifah, Malik, Syafie, Ahmad bin Hambal, Sufian as-Sauri dan lain-lain berpegang dengan aliran salaf ini.

Al-Asyairah

Apabila negara Islam berkembang luas, terjadi perbincangan-perbincangan mengenai agama di antara mereka yang baru masuk Islam. Di antara topik yang terpenting adalah membicarakan masalah akidah. Sayangnya ketika membicarakan masalah akidah, mereka terpengaruh dengan filsafat barat yang materialis dan rasionalis yang sedang diterjemahkan secara besar-besaran ke dalam dunia Islam. Hasil dari beberapa pembicaraan itu, lahirlah berbagai macam pemahaman yang berpandukan logika. Pemahaman-pemahaman yang berdasarkan logika itu saja, menyebabkan penyelewengan dalam memahami teks al-Quran yang sebenarnya. Dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Walaupun begitu, apapun yang terjadi Allah berjanji memelihara agama-Nya dengan melahirkan ilmuwan untuk mempertahankan akidah yang murni. Di antara ilmuwan-ilmuwan tersebut adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Abu Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Basrah pada tahun 260 Hijrah. Beliau pernah berpegang pada pemahaman Muktazilah dan berguru kepada ayah tirinya Abu Ali aljubbai, syeikh aliran Mu’tazilah. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk beluk aqidah Mu’tazilah, hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.

Abu Hasan al-Asy’ari membuat pembaharuan dalam aliran Ahli Sunnah dengan mengemukakan hujah-hujah akal beserta teks-teks al-Quran dan hadis yang ada. Hujah-hujah yang dikumpulkan cukup kuat bagi mematahkan hujah Muktazilah yang berkembang pesat pada masa itu.

Untuk membedakan dengan aliran-aliran akidah yang ada, beliau membangkitkan atau mempopulerkan kembali istilah Ahli Sunnah wal Jamaah. Berlainan dengan anggapan kebanyakan pengikut aliran Asya’irah, istilah Ahli Sunnah wal Jamaah sudah ada sejak zaman para sahabat dan bukannya diciptakan oleh Abu Hasan al-Asy’ari. Sayangnya oleh sebagian pengikut aliran Asya’irah yang fanatik, Ahli Sunnah wal Jamaah tetap identik dengan Asya’irah. Jadi tidak bisa dikatakan golongan Ahli Sunnah wal Jamaah, kalau tidak memakai metode Abu Hasan al Asy’ari dalam memahami akidah.

Hujah-hujah Abu Hasan al-Asy’ari membawa kekuatan kepada Ahli Sunnah wal Jamaah bagi menghadapi hujah golongan Muktazilah yang berkembang pesat dan mendapat dukungan dari kerajaan Abbasiah. Pada akhirnya, golongan Muktazilah bukan saja dapat dibendung dengan hujah, tetapi kerajaan yang didirikan di kemudian hari, memberi sumbangan politik yang besar bagi mempertahankan dan mengembangkan pemahaman Asya’irah.

Akidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti Saljuq dan seolah menjadi akidah resmi negara. Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di Baghdad maupun di kota Naisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi’i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa akidah Asy-’ariyah ini adalah akidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Mereka yang beraqidah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah adalah yang paling dekat di antara yang lain kepada ahlussunnah wa al-jamaah yang sebenarnya. Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Al-Maaturidiyyah

Di sebelah timur negara Islam yaitu di daerah Maturid, wilayah Samarkand, lahir seorang ilmuwa Islam yang bernama Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Abu Mansur Maturidi. Beliau lahir pada tahun 332 Hijrah. Beliau membawa aliran ideologi akidah mengikuti pemahaman Ahli Sunnah wal Jamaah bagi menghadapi beberapa penyelewengan pada zamannya. Beliau adalah seorang ilmuwan Islam yang bermazhab Hanafi.

Beliau muncul di Asia Tengah pada waktu masyarakat Islam dilanda aliran ideologi yang menyeleweng dari akidah yang sebenarnya. Di antaranya adalah aliran Muktazilah, Mujassimah, Muhammad bin Karam Sajassatani yaitu pemimpin ideologi Karamiah, Qaramitah yang dipimpin oleh Hamdan As’ad, Jaham bin Safuan iaitu pemimpin ideologi Jahamiah, dan ahli tasauf Husin bin Mansur al-Hallaj. Imam Abu Mansur Maturidi membawa peranan yang besar bagi menghadapi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh mereka.

Walaupun beliau hidup sezaman dengan Imam Abu Hasan al-Asy’ari, namun beliau mempunyai teknik berhujah dan huraian yang berbeda. Para sarjana Islam menyatakan, Imam Abu Mansur Maturidi lebih cenderung kepada pendapat Imam Abu Hanifah dalam perkara akidah. Ini kerana beliau merujuk risalah-risalah dan buku-buku yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah seperti Fikh Akbar, Fikh Absat, Kitab Ilm dan sebagainya.

Terdapat beberapa perselisihan antara Abu Mansur Maturidi dengan Abu Hassan al-Asy’ari. Antaranya dalam isu Makrifatullah (mengenal Allah), Abu Hassan menyatakan wajib mengetahuinya menurut sumber agama tetapi Abu Mansur berkata wajib juga dengan berpandu dengan akal.

Pemahaman Maturidiah mewajibkan hukum akal beserta syarak sehingga beliau bertentangan dengan sebagian ilmuwan Fikah dan Hadis. Ada lagi penjelasan-penjelasannya mengenai Qada’ dan Qadar dan lain-lain yang berbeda dengan penguraian aliran Asya’irah.

Pengikut golongan ini kebanyakan dari ahli kalam, sufi, murjiah dan kuburiyah (lihat dalam Kitab Qawaid Fi Bayan Hakikatul Iman tulisan Syeikh Adil Ali Syaikhan cetakan Maktabah Adhaul Salaf).

Abu Mansur Maturidi juga seperti Abu Hassan Asy’ari yang membawa pembaharuan dalam pengajian akidah. Beliau memasukkan hujah-hujah logika akal ketika menghadapi perkembangan pemahaman baru yang timbul pada zamannya.

Pada zaman para sahabat dan generasi awal kalangan tabi’in termasuk imam-imam mujtahidin yang pertama lebih bergantung kepada hujah-hujah teks daripada al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saja.

Ilmu kalam dan akal menurut Imam Abu Yusof ra (Ya’kub Ibn Ibrahim) merupakan sesuatu yang tercela dan dibenci oleh para ulama salaf soleh.

Pemahaman Maturidiyah ini adalah sebuah pemahaman yang berdasarkan ilmu kalam dan filsafat. Pemahan seperti ini tidak diakui oleh ulama ahlul sunnah seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafie, Imam Ahmad ra, serta ulama ahlul sunnah wal jamaah lainnya.

Salafiyah

Setelah lahir berbagai teori mengenai akidah beserta lahirnya pemahaman yang bukan saja berhujah dengan logika tetapi juga menggunakan falsafah, maka lahir pula dalam masyarakat Islam orang-orang yang mahu supaya kembali pada sumber asli saja. Mereka muncul pada abad ke tujuh Hijrah.

Aliran ini berasal dari Imam Ahmad bin Hanbal yang mengingankan pembahasan mengenai akidah dikembalikan seperti zaman Nabi Muhammad s.a.w, para sahabat dan tabi’in. Salah satu tokoh terkemuka yang menghidupkan pendekatan ini kembali adalah Imam Ibnu Taimiyah.

Beliau dan pengikut-pengikutnya menentang keras golongan yang mencoba menjelaskan ayat-ayat mutasyabihat. Mereka hanya menyebut sifat-sifat Allah berdasarkan teks-teks yang jelas di dalam al-Quran dan hadis. Di antara ayat-ayat mutasyabihat adalah seperti nuzul (turun), istiwa’ (bersemanyam), al-dhahaq (ketawa) dan lain-lain, dengan tidak menyamakan Allah dengan makhluk.

Selain itu, mereka membangkitkan kembali isu amalan masyarakat yang berkaitan dengan perkara-perkara yang membawa kepada kesyirikan, seperti kesalahan-kesalahan yang terjadi ketika bertawassul (memohon dengan perantaraan), ziarah kubur dan sebagainya.

Mereka juga dengan tegas menentang penggunaan ilmu logika. Ini menyebabkan golongan salaf yang baru ini bergesekan dengan aliran Asya’irah dan Maturidiah yang menjadikan ilmu logika sebagai bagian dari perbincangan akidah. Golongan salaf ini menolak penguraian ayat-ayat mutasyabihat yang dilakukan oleh Asya’irah dan Maturidiah.

Wahabiyah

Sebenarnya istilah Wahabi bukanlah istilah yang disepakati oleh mereka yang sering diidentikkan dengan istilah itu. Mereka lebih sering menyebut dengan istilah salafiyyin, karena dakwah mereka merupakan kesinambungan dari aliran salaf yang dibawa oleh Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah.

Gerakan ini diperlopori oleh seorang tokoh ulama terkemuka yaitu Syeikh Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M). Beliau lahir di Uyaynah dan belajar Islam dalam mazhab Al-Hanabilah dan telah menghafal Al-Quran sejak usia 10 tahun.

Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir`iyah bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat yaitu pangeran Muhammad bin Suud yang berkuasa 1139-1179. Oleh pangeran, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.

Para pendiri dakwah ini umunya bermazhab fiqih dengan mazhab Al-Hanabilah, jadi tidak benar kalau dikatakan mereka anti mazhab. Namun memang mereka tidak selalu terikat dengan mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya. Terutama bila mereka menemukan dalil yang lebih rajih. Oleh karena itu dakwah merka sering disebut La Mazhabiyyah, namun sebenarnya lebih kepada masalah ushul, sedangkan masalah furu`nya, mereka tetap pada mazhab Al-Hanabilah.

Dakwah ini jelas-jelas sebuah dakwah ahlisunnah wal jamaah serta berpegang teguh dengannya. Mereka menyeru kepada pemurnian tauhid dengan menuntut umat agar mengembalikan kepada apa yang dipahami oleh umat Islam generasi pertama.

Mereka pun aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka melarang membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang tawassul dengan menyebut nama oran shaleh sepeti kalimat bi jaahi rasul atau keramatnya syiekh fulan dan fulan.

Comments

comments

Share Button
(Visited 342 times, 1 visits today)