Ketika dikatakan semua bid’ah itu sesat, maka muncul jawaban:

“Kalau begitu naik unta sana lagi, naik mobil kan bida’ah.” atau

“Berarti kamu tidak mau sholat taraweh berjamaah lagi dong.”

Ketika dikatakan bahwa tahlilan tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat maka dijawabnya lagi:

“Kamu berdosa karena melarang tahlil.”

Ketika dikatakan bahwa kita tidak merayakan maulid Nabi SAW dengan amalan-amalan yang tidak pernah diajar sebelumnya, maka dijawab lagi:

“Tobatlah kamu, karena kamu tidak mau berselawat kepada Nabi SAW.”

Ketika dikatakan bahwa kita harus kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah maka dijawabnya:

“Hebat sekali kamu. Ilmu-ilmu agama tidak punya, tapi nekat menafsirkan hadith sendiri.”

Ketika dikatakan bahwa tidak ada dasarnya bahwa surah Yasin harus dibaca setiap malam Jum’at maka dijawabnya:

“Wah al-Quran sudah dilarang untuk dibaca. Ajaran dari mana tuh?”

Ketika dikatakan bahwa Syi’ah Imamiyah itu sesat, maka dijawabnya:

“Jangan menyesatkan orang sembarangan. Hanya Allah yang berhak menilai.”

atau

“Kalau sesat, kenapa masih juga diizinkan melakukan haji?”

Ternyata jawaban-jawaban itu tidak hanya diberikan oleh orang awam, tapi juga oleh orang yang mengaku lulusan sekolah agama. Kalau sudah begitu tinggalkan saja, karena tidak ada gunanya menerangkan kepada orang-orang yang masih berpikiran kanak-kanak. Yang bukan mencari kebenaran, tapi hanya ingin mengikuti hawa nafsunya saja.

Comments

comments

Share Button
(Visited 38 times, 1 visits today)